AT804S14

AT804S14

Ansaldo SPA :: Silicon Controlled Rectifier   Specsheet / Datasheet

V(DRM) Max.(V)Rep.Pk.Off Volt.=1.4k
I(T) Max.(A) On-state Current=880
@Temp. (�C) (Test Condition)=55
I(TSM) Max. (A)=11k
I(GT) Max. (A)=150m
V(GT) Max.(V)=3.5
I(H) Max.(A) Holding Current=80m
I(D) Max. (A) Leakage Current=50m
@Temp. (�C) (Test Condition)=125
V(T) Max. (V)=1.6
@I(T) (A) (Test Condition)=1.6k
dv/dt Min. (V/us)=300
t(q) Typ. (s)=350u�
Package=TO-200AC
Military=N

Product Information

Specifications

Mouser Part #:

844-ST730C14L0

RoHS:

Details

Manufacturer Part #:

ST730C14L0

Manufacturer:

Vishay

Manufacturer:

Vishay Semiconductors

Packaging:

Bulk

Description:

Thyristors 1400 Volt 990 Amp

Product:

SCRs

Data Sheet

Product Category:

Thyristors

Stock:

Non-Stocked

Factory Lead-Time:

Request Delivery Quote

Pricing:

1:

$181.50

10:

$163.35

Obama

Cak Nur”Membedah Pluralisme Cak Nur


Oleh Umdah El-Baroroh

13/02/2006

Meski Cak Nur banyak dinilai orang sebagai seorang pluralis sejati, tapi bagi mantan pengurus Muhammadiyah, Dawam Raharjo, Cak Nur bukanlah seorang pluralis. “Ia lebih tepat disebut sebagai seorang inklusif, bukan pluralis”, tandasnya dalam forum itu. Menurut tokoh Muhamadiyah yang berpikiran liberal ini, seorang pluralis bukan sekadar orang yang menerima perbedaan terhadap kebenaran agama yang berbeda. Tapi lebih jauh ia juga harus mempelajari kebenaran agama-agama lain dengan sikap yang adil.

“Cak Nur tidak memaknai pluralisme sebagai gagasan yang menganggap semua agama sama, seperti anggapan orang awam. Pluralisme bagi Cak Nur adalah suatu landasan sikap positif untuk menerima kemajemukan semua hal dalam kehidupan sosial dan budaya, termasuk agama. Yang dimaksud dengan sikap positif adalah sikap aktif dan bijaksana.” Demikian papar Mohamad Monib, dosen Paramadina Mulya dalam diskusi “Membedah Pemikiran Pluralisme Nurcholis Madjid”, 22/1 lalu. Diskusi yang diadakan di aula Universitas Islam Bandung itu juga menghadirkan dua pembicara lainnya sebagai panel. Tampak di sana Dawam Raharjo, wakil Jaringan Islam Liberal, serta Miftah Fauzi Rahmat, dosen IAIN Sunan Gunung Djati, Bandung.

Lebih lanjut, Monib juga menjelaskan bahwa pluralisme menurut rumusan Cak Nur (panggilan akrab Nurcholis Madjid) merupakan bagian dari sikap dasar dalam berislam. “Yaitu sikap terbuka untuk berdialog dan menerima perbedaan secara adil”, tandasnya. “Dengan keterbukaan dan sikap dialogis itu dimaksudkan agar kita memiliki etos membaca, membina, belajar, dan selalu arif.”

Pandangan pluralis Cak Nur tampaknya belum dipahami oleh masyarakat dan tokoh agama dengan baik. Menurut dosen Paramadina itu, masih banyak kalangan yang menyalahartikan makna pluralisme. Sebagian menganggap bahwa pluralisme adalah sikap atau gagasan yang meyakini kebenaran semua agama. Sehingga para pendukung gagasan pluralisme sering digolongkan dalam penganut relativisme agama. Bahkan tak jarang dari mereka yang dianggap sesat dan murtad.

Sikap seperti itulah yang nampaknya diyakini oleh mayoritas ulama yang ada di MUI (Majelis Ulama Indonesia). Hingga mereka pun terdesak untuk mengeluarkan fatwa tentang haramnya pluralisme. Pengharaman terhadap gagasan tersebut dinilai oleh Monib bukan tanpa konsekwensi. Fatwa anti pluralisme yang dikeluarkan oleh MUI berdampak luas dalam memengaruhi cara pandang masyarakat yang semakin kuat untuk memusuhi dan menolak kelompok lain agama atau kepercayaan. Hal itu terbukti dengan sikap penolakan masyarakat yang semakin lantang terhadap keberadaan Jama’ah Ahmadiyah yang juga difatwakan oleh MUI sebagai aliran sesat.

Sementara itu bagi Miftah, salah seorang pengelola IJABI (Ikatan Jama’ah Ahlul Bait) aksi kekerasan yang menimpa Ahmadiyah itu dikhawatirkan akan menimpa syiah. Karena syiah juga banyak ditentang oleh sebagian masyarakat. Pada masa-masa seperti sekarang inilah kita semakin merindukan sosok Cak Nur, tegasnya. “Ia selalu membela komunitas yang minoritas dan termarginalkan.”

Lebih lanjut dosen IAIN Sunan Gunung Djati itu menjelaskan sikap Cak Nur terhadap pluralisme. “Cak Nur selalu membedakan antara pluralitas dan pluralisme”, tandasnya. “Pluralitas bagi guru besar UIN Jakarta itu adalah keragaman hidup yang telah menjadi sunnatullah. Sedangkan pluralisme merupakan suatu sikap kejiwaan dan kedewasaan mental dalam menerima keragaman itu.”

“Yang ditekankan pada pluralisme Cak Nur adalah sebuah sikap mental dan kedewasaan untuk bisa menerima perbedaan, karena tidak semuanya bisa menerima perbedaan”, tegasnya. “Dan apabila seseorang tidak dapat menerima pluralisme, itu karena pemahamannya yang belum dewasa.”

Meski Cak Nur banyak dinilai orang sebagai seorang pluralis sejati, tapi bagi mantan pengurus Muhammadiyah, Dawam Raharjo, Cak Nur bukanlah seorang pluralis. “Ia lebih tepat disebut sebagai seorang inklusif, bukan pluralis”, tandasnya dalam forum itu. Menurut tokoh Muhamadiyah yang berpikiran liberal ini, seorang pluralis bukan sekadar orang yang menerima perbedaan terhadap kebenaran agama yang berbeda. Tapi lebih jauh ia juga harus mempelajari kebenaran agama-agama lain dengan sikap yang adil.

Dapat diumpamakan dalam penganut teologi inklusif bahwa agama adalah sebagai cahaya-cahaya tapi yang paling terang adalah cahaya agamanya. Sementara seorang pluralis beranggapan bahwa semua agama bercahaya. Di sinilah terlihat perbedaan antara teologi inklusif dan pluralis.

Dawam menilai Cak Nur masih memandang semua agama sebagai cahaya, tetapi cahaya yang paling terang adalah Islam. Selain itu ia juga terjebak pada anggapan bahwa agama samawi lebih unggul dari agama bumi. Karena agama samawi diyakini sebagai agama pemberian Tuhan kepada manusia.

Cak Nur, lanjut Dawam, merupakan seorang teolog muslim dengan acuan Qur’an dan Sunnah (lebih khusus pada Qur’an). Dan dengan ide tauhidnya yang keras Cak Nur telah bersikap kurang adil. Di sinilah keterbatasan Cak Nur yang menurut Dawam belum sepenuhnya pluralis, tetapi baru sebagai seorang teolog inklusif. “Untuk menjadi pluralis, seseorang harus mempelajari agama-agama lain,” tegas Dawam. “Sementara Cak Nur tidak pernah mempelajari agama-agama lain.”[]

Membedah Pemikiran Cak Nur
28 Desember 2006

INDONESIA telah diberi warna pemikiran modern yang khas oleh Cak Nur (Nurcholish Madjid). Corak pemikiran yang melampaui kewenangan sejarahnya–istilah buku ini ‘Menembus Batas Tradisi’ dipakai judul–ini berdampak luas bagi terbukanya wawasan berpikir generasi bangsa, khususnya kalangan muda Islam.

Pemikiran Cak Nur yang kaya sumber-sumber baku dalam khazanah Islam merupakan simbol atas pergulatan budaya yang keras dan menghasilkan warisan ilmu yang sangat berguna bagi pergulatan bangsa.

Buku ini memberikan peta sosiologis dan teologis pemikiran Cak Nur yang telah mewarnai Indonesia sejak 35 tahun lalu. Cak Nur mewariskan kepada kita sebuah ensiklopedia pemikiran yang diramu dari berbagai sumber unit peradaban umat manusia.

Dari karya-karya yang telah dihasilkannya tidak berlebihan kalau kita mengatakan Cak Nur yang lokal Jombang mempunyai wawasan global universal dengan Islam sebagai dermaga tempat bertolaknya. Dengan gambaran itu, menurut A Syafii Maarif, dunia pemikiran adalah habitat Cak Nur yang sesungguhnya, bukan politik yang sering menghabiskan energi.

Buku ini tidak bermaksud mengultuskan Cak Nur yang telah berpulang kepada-Nya pada 29 Agustus 2005. Umum manusia tempat salah dan khilaf yang tidak akan menemui titik sempurna seperti yang kita sendiri harapkan. Akan tetapi sebagai manusia berakal merupakan karunia bila mempersembahkan pemikiran Cak Nur sebagai warga negara yang telah memberikan andil besar bagi tergeraknya akal untuk kemudian menghasilkan pemikiran up to date dalam sejarah berbangsa, bermanusia, maupun bernegara.

Dalam analisis dan presentasi seluruh kontributor buku ini, terlihat gagasan dan cita-cita Cak Nur masih dalam proses menjadi menuju titik kesempurnaan hidup kolektif yang tidak akan pernah menemui batas. Meskipun melampaui batas tradisi, pemikiran Cak Nur dalam nalar modernitas keislaman yang bercorak universal, kesetaraan, demokrasi, keadilan, dan keindonesiaan masih harus menghadapi tantangan zaman yang semakin pelik seperti kemiskinan, terorisme, fundamentalisme, konflik, dan utang luar negeri yang membutuhkan energi ekstra dari para anak bangsa untuk memeranginya. Di sinilah konteks jihad (perjuangan) dalam pemikiran Cak Nur.

Memang, gagasan dan cita-cita Cak Nur menciptakan dunia yang adil dan ramah, tanpa diskriminasi dan eksploitasi sebagaimana dirindukan para nabi dan filsuf, dapat ditelusuri hampir pada semua karya Cak Nur. Ada sebuah benang merah yang membentang pada gagasan dan cita-cita itu. Akan tetapi di sisi lain, Cak Nur juga melihat jurang kesenjangan antara ajaran Islam sejati dan realitas yang melingkari umat. Tetapi ironisnya, tidak jarang realitas itulah yang dianggap agama oleh sebagian umat, karena minimnya pemahaman tentang Islam di kalangan rakyat Indonesia (hlm. ix).

Buku ini berupaya menelusuri kembali warisan cerdas Cak Nur dalam memintal pemikiran Islam agar tetap lestari di tengah kepungan jaman kapitalis yang serba materialistis. Para kontributor ingin agar pergulatan kebudayaan dalam ranah pemikiran yang pernah dilakukan Cak Nur tidak menguap seiring mangkatnya. Sayangnya, para kontributor seperti kur menyanyikan lagu yang sama tentang Cak Nur tanpa kritik dan penelusuran mendalam keluar dari wilayah normatif. Kholilul Rohman Ahmad, editor di Radio Fast FM Magelang, Jawa Tengah.

Wasiat Terakhir Cak Nur

Kontribusi dari Aziz Hamid

Selasa, 30 Agustus 2005

Oleh Utomo Dananjaya

Enam hari sebelum berangkat berobat ke China, Cak Nur
menulis surat kepada teman-teman pendukung Yayasan Wakaf
Paramadina. Surat itu berupa usul pengadaan usaha
penyegaran yayasan dan peremajaan para pendukung
keorganisasiannya.Untuk sebagian orang, surat itu dianggap sebagai wasiat
terakhir yang menggetarkan hati, yang menerima surat
tersebut dan melihat kondisi kesehatan Cak Nur di China dan
kemudian di Singapura.

Apa yang dimaksud Cak Nur dengan penyegaran rupanya dapat
dibaca pada lampiran surat tersebut berjudul: Wawasan
Paramadina dan Saran-Saran Penyegaran Keorganisasian Lebih
Lanjut.

Tentang wawasan Yayasan Wakaf Paramadina, Cak Nur
menjelaskan bahwa yayasan merupakan lembaga yang
dimaksudkan untuk mengemban dan mendorong kebebasan wacana,
baik terbuka maupun tertutup, tanpa menjadi partisan
eksklusif untuk suatu pendapat dari wacana bebas tersebut.
Alasan Cak Nur bahwa kebebasan adalah hak dan anugerah
primordial atau primeval dari Sang Maha Pencipta,
sebagaimana dilambangkan dalam cerita kosmis ketika Tuhan
mempersilakan Adam dan Hawa masuk ke dalam surga (QS, 2:
35).

Dalam pidato peresmian Kampus Universitas Paramadina dan
setiap membuka pra-training mahasiswa baru, Cak Nur selalu
menjelaskan bahwa Universitas Paramadina menyelenggarakan
pendidikan dengan semboyan berdasar pada kitab dan hikmah
seperti tercantum dalam QS 4: 113. Dalam proses
pembelajaran, dosen dan mahasiswa memerlukan semangat
kebebasan untuk punya keberanian menerobos batas.

Cak Nur sering mengungkapkan, hikmah atau ilmu adalah
temuan para cerdik pandai dan menjadi kekayaan peradaban
kemanusiaan. Sebuah temuan adalah terobosan dari temuan
sebelumnya. Demikianlah terobosan demi terobosan diciptakan
menjadi etos cendekiawan. Terobosan hanya mungkin terjadi
oleh keberanian menembus batas.

Universitas Paramadina yang baru lahir delapan tahun lalu
diharapkan membangun budaya penemuan ilmiah. Universitas
memuliakan penelitian dan discovery. Mahasiswa dan dosen
bukan hanya belajar, tetapi juga melakukan penelitian, dan
diharapkan mencapai prestasi ilmiah tertinggi.

Inilah yang dirumuskan sebagai universitas yang menawarkan
pilihan atau alternatif. Yang dimaksud adalah budaya
universitas berbeda dari budaya konvensional universitas di
Indonesia. Hal ini dititipkan sebagai tantangan kepada
sivitas akademika Universtas Paramadina. Kepada pimpinan
dan dosen pesan ini diarahkan. Bahkan, kepada mahasiswa
yang menjadi salah satu faktor untuk membangun budaya baru
akademis.

Dengan kebebasan positif itu, kata Cak Nur, manusia akan
berkesempatan berkenalan dengan berbagai pendapat. Manusia
dipujikan Allah untuk mendengarkan dan memperhatikan
berbagai pendapat itu, kemudian memilih mana yang terbaik.
“Maka berilah kabar gembira kepada hamba-hamba-Ku yang
mendengarkan pendapat, kemudian mengikuti yang terbaik di
antaranya. Mereka itulah orang-orang yang diberi petunjuk
Allah, dan mereka itulah orang-orang yang berpengertian
mendalam.” (QS 39: 18).

Firman inilah yang menjadi dasar pandangan pluralisme yang
dalam pengertian Cak Nur adalah mengakui perbedaan dan
kesediaan bergaul secara beradab, dengan mau mendengar,
menghormati pendapat orang lain, walaupun tidak sependapat.

***

Dalam sebuah diskusi seorang cendekiawan muda mengritik Cak
Nur berdasarkan pendapat seorang ahli. Cak Nur memuji
cendekiawan muda itu sebagai orang yang punya disiplin
ilmiah dengan mendasarkan pendapatnya pada pandangan
seorang ahli. Kemudian, Cak Nur menyampaikan pendapatnya
sendiri.

Cendekiawan muda ini sesumbar bahwa dia telah menundukkan
Cak Nur
dengan pendapatnya. Begitu pluralisnya, dalam arti sopan
dan santunnya Cak Nur sehingga cendekiawan ini merasa Cak
Nur telah menerima keyakinannya.

Begitulah pluralisme diejawantahkan dalam pergaulan. Lawan
yang tidak
sependapat pun merasa menghormati pendapatnya, bahkan
merasa pendapatnya diterima Cak Nur. “Inilah makna
pluralisme,” kata Cak Nur.

Karena prinsip kebebasan itu, Paramadina bukanlah
perkumpulan sektarian, yang secara eksklusif mendukung
pendapat tertentu. Lebih-lebih Paramadina bukanlah gerakan
kultus. Paramadina mendorong orang untuk dengan bebas
mengembangkan dan mendengar pendapat. Kemudian, setiap
orang bebas pula memilih yang terbaik di antaranya dengan
bertanggung jawab dan tulus mengikuti suara hati nurani.

Tanggung jawab setiap orang di akhirat adalah bersifat
pribadi mutlak, tanpa ada jual-beli, persahabatan (kullah)
ataupun perantara (syafaah). (lihat: QS 2: 254).
***

Cak Nur meninggal dunia ketika orang takut kebebasan dan
keberagaman (liberal dan pluralisme). Pesan Cak Nur kepada
teman-teman pendukung Paramadina bisa juga menjadi seruan,
sekaligus penjelasan bahwa paham kebebasan dan pluralisme
adalah hak dan anugerah primordial dari Sang Maha Pencipta.

Seorang Nurcholish Madjid, jejak pendapatnya selalu segar
dan relevan. Bukan dan tak perlu diterima sebagai yang
paling benar, tetapi patut direnungkan, dipertimbangkan
untuk menjadi pilihan hati nurani. Semoga menjadi amal
soleh yang diterima Allah.

*) Utomo Dananjaya, pengajar pada Universitas Paramadina di
Jakarta, dikenal sebagai teman dekat Cak Nur saat
mencetuskan Gerakan Pemikiran Keislaman pada 1970.

Cak Nur Dimakamkan Tepat Pada Hari Ultah Pernikahannya
30 Aug 2005 09:05:57

Memang, pemakaman Cak Nur hari ini bertepatan dengan ulang tahun pernikahannya. Selain meninggalkan Omi, Cak Nur juga meninggalkan dua buah hatinya, Nadia Madjid dan Mikail Madjid.

Cak Nur— demikian mantan ketua PB HMI itu biasa dipanggil— menghembuskan napas terakhir pukul 14.05 WIB di RS Pondok Indah dalam usia 66 tahun. Hari ini, jenazah cendekiawan muslim itu dimakamkan di TMP Kalibata, Jakarta.

Tadi malam, jenazah pendiri Yayasan Paramadina itu disemayamkan di kampus Universitas Paramadina. Keluarga, kawan dekat Cak Nur, dan tokoh nasional terus berdatangan untuk bertakziah. Termasuk Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Wapres Jusuf Kalla. Presiden dan Wapres juga menyalati jenazah tokoh yang dikenal karena pemikiran-pemikirannya tentang Islam yang moderat dan pluralis itu.

Sebelum meninggal, Cak Nur menyampaikan isyarat terakhirmya kepada sang istri tercinta, Omi Komaria. Sabtu pagi, Omi yang menunggui Cak Nur di rumah sakit tiba-tiba merasa gelisah. Tapi, wanita 50 tahun itu tak tahu sebabnya.

Omi semakin gelisah saat memandikan Cak Nur sekitar pukul 07.00. Ketika itu Cak Nur memberi tahu Omi agar bersiap-siap. Cak Nur mengatakan, ada mukhtadin (orang-orang pilihan, Red) yang akan datang. “Kakak (Omi, Red) langsung bertanya, siapa mukhtadin yang akan datang,” ujar Nuri Widyawati, adik Omi.

Dengan suara pelan, Cak Nur menjawab bahwa mukhtadin itu adalah kiai dari Gontor. Omi bertanya lagi, siapa nama kiai Gontor itu? “Almarhum bilang kiai Gontor itu bernama Zarkasih,” lanjutnya. Jawaban Cak Nur ini mengejutkan Omi. Sebab, Kiai Zarkasih dari Pondok Pesantren Modern Gontor, Jatim, itu sudah meninggal dunia.

Omi merasa ajal sudah semakin mendekati Cak Nur. Dia mempunyai firasat Cak Nur akan meninggalkan dunia. Mukhtadin tersebut datang untuk menjemput suaminya. Tapi, ibu dari Nadia Madjid, 34 tahun, dan Ahmad Mikail Madjid, 32 tahun, itu berusaha tetap tabah dan sabar. Dengan berat hati, Omi kemudian bertanya kepada Cak Nur kapan mukhtadinnya datang. “Cak Nur hanya menjawab 5 sampai 10 jam,” cerita Nuri. Mungkin maksudnya mukhtadin itu diperkirakan datang 5 sampai 10 jam kemudian.

Selain berbicara tentang kedatangan mukhtadin, Cak Nur juga bercerita bahwa dia melihat sebuah terowongan besar. Kondisi terowongan itu, agaknya, tak terurus dan harus direnovasi. “Malah Cak Nur bilang terowongan itu perlu dirapikan,” lanjut Nuri. Tapi, Cak Nur tidak menjelaskan letak terowongan itu. Juga tidak disebut bagian yang perlu dirapikan itu.

Tokoh asal Jombang tersebut juga berkata melihat daging. Dia minta istrinya agar daging itu diberikan kepada orang lain saja. Pihak keluarga berkesimpulan bahwa almarhum ingin memperbanyak sedekah. “Kami sempat bingung almarhum mau sedekah berupa barang atau uang,” ucap perempuan 30 tahun itu. Belum sempat pertanyaan itu terjawab, Cak Nur sudah bercerita arti sedekah.

Menurut Cak Nur, sedekah diambil dari kata shodaqoh. Artinya, melakukan kebenaran. Caranya bisa dengan menanamkan rasa benar kepada orang lain. Bisa pula dengan menanamkan rasa suci kepada orang lain. Di akhir penjelasan, Cak Nur mengatakan bahwa tindakan itu relevan dalam kehidupan. “Keluarga langsung mengerti bahwa almarhum ingin kita melakukan sedekah. Tak harus berupa uang atau barang, yang penting ikhlas,” tambahnya.

Menurut tim dokter RSPI, kondisi Cak Nur terus menurun sejak kemarin pagi. “Bahkan, pukul 04.00, Cak Nur sempat tidak sadar,” ujar Direktur Medik RSPI dr Mus Aida.

Cak Nur dirawat di RSPI sejak 15 Agustus lalu. Saat itu, keluhannya mual dan muntah. Dokter Widodo Suprapto, salah seorang dokter yang merawat Cak Nur, mengatakan bahwa kesehatan Cak Nur terus memburuk karena mengalami kegagalan fungsi hati dan ginjal. Sebelumnya, 27 Juli 2004, Cak Nur menjalani transplantasi hati (lever) di RS Taiping, Guangzhou, China. “Kelainan hatinya kembali kambuh. Dan, ini mengganggu fungsi fisik beliau, termasuk fungsi ginjal,” katanya.

Istri dan kedua anaknya terlihat tabah dengan kepergian Cak Nur. “Kami sudah ikhlas,” ujar Omi dengan mata berkaca-kaca. Menurut Omi, sebelum meninggal, Cak Nur sempat berpesan kepada putra-putrinya, Nadia dan Mikail, agar memperdalam belajar bahasa Arab. “Dengan berbisik, Bapak mengatakan itu penting agar bisa memahami Al Quran,” ujarnya.

Menjelang kepergiannya, Cak Nur meminta dibimbing membaca surat Al Fatihah dan Al Ikhlas. Kemudian, Cak Nur mengatakan ikhlas. Lalu, dia tersenyum lima kali sebelum pergi. “Saya tidak menyangka kalau itu senyum terakhir Bapak,” kata Omi.

Para pelayat terus berdatangan untuk memberikan penghormatan terakhir kepada Cak Nur. Selain Presiden SBY dan Wapres Kalla, tampak Ketua MPR RI Hidayat Nurwahid, Gus Dur, Bagir Manan, Bachtiar Chamsyah, Akbar Tandjung, dan Harmoko. Bersama ratusan pelayat lain, mereka bersalat jenazah yang diimami Quraish Shihab.

Komaruddin Hidayat, sahabat Cak Nur yang juga melayat, menyimpan kenangan mendalam terhadap pribadi almarhum. Dia sangat terkenang dengan pertemuan terakhirnya. “Saya sempat berkomunikasi dengan Cak Nur pada Minggu malam (29/8),” ujarnya.

Saat itu, Komaruddin sudah berfirasat bahwa Cak Nur akan meninggal. Sebab, beberapa kali Cak Nur menyebut nama teman-teman serta kerabatnya yang sudah meninggal. “Kata orang Jawa, itu tanda-tanda orang mau meninggal,” katanya.

Salah satu nama yang disebut Cak Nur adalah almarhum KH Zarkasi. Menurut dia, Zarkasi adalah tokoh yang secara intelektual sangat berpengaruh pada pribadi Cak Nur. “Kiai Zarkasi itu guru Cak Nur ketika mondok di Gontor,” jelas Komaruddin.

Yang membuat dia terharu adalah suara terbata-bata Cak Nur saat menyampaikan analogi pohon pisang dan pohon asam. Cak Nur menyatakan, pohon pisang adalah simbol semangat juang yang tinggi, namun egois. Ia akan terus tumbuh sampai berbuah, tapi hanya untuk dirinya. Sedangkan pohon asam, meski berbuah kecil dan asam, ia mengayomi dan membuat teduh semua di bawahnya.

“Bagi saya, beliau itu ibarat pohon asam yang meski buahnya kecil, tapi bisa mengayomi banyak orang,” ujarnya.

Wapres Jusuf Kalla mengucapkan turut berbelasungkawa atas meninggalnya Cak Nur yang disebutnya sebagai tokoh umat dan tokoh bangsa itu. Dalam diri Cak Nur, semua itu bersatu. Sulit mencari bandingan tokoh tersebut.

Syafi’i Ma’arif juga merasa kehilangan. Mantan ketua PP Muhammadiyah itu adalah karib Cak Nur semasa mereka bersekolah di Chicago University, AS. Gus Dur pernah menyebut Cak Nur, Syafi’i, dan Amien Rais sebagai Tiga Pendekar dari Chicago. “Semoga Cak Nur khusnul khatimah. Ini kehilangan yang berat bagi bangsa. Beliau adalah tokoh moderat dan berprinsip. Bukan hanya cendekiawan muslim, tapi juga cendekiawan Indonesia,” tegasnya.

Syafi’i mendengar informasi meninggalnya Cak Nur saat dirinya masih di Jogjakarta. Dia langsung terbang menuju Jakarta tadi malam. “Beliau layak dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata. Ini kehilangan bangsa,” ungkapnya.

Ketua MUI Umar Shihab mengatakan, “Kita kehilangan tokoh yang punya pemikiran yang sangat baik mengenai umat Islam, meskipun ada yang menggelitik tentang pandangannya. Tapi, itu biasa.”

Ketua PB NU Hasyim Muzadi mengungkapkan, Cak Nur adalah seorang muslim yang mampu mengemas Islam dalam denyut humanisme serta humanitas. Hal itu tidak banyak bisa dilakukan orang. “Sehingga, yang disampaikan Cak Nur selalu mengalir dan bisa disampaikan siapa pun. Pikiran Cak Nur harus diteruskan,” katanya.

Tokoh Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang kini menjabat Ketua MPR Hidayat Nurwahid mempunyai kenangan dengan Cak Nur. Dia sempat tujuh hari tinggal bersama Cak Nur dalam sebuah seminar di Riyahd beberapa saat lalu.

“Beliau tidak kikir dalam ilmu dan pengalaman. Inti pesan dari Cak Nur, kita hidup di Indonesia yang plural. Hanya, jangan sampai dengan dalih pluralisme, kita memaksakan kehendak kepada orang lain,” ujarnya.

kang Jalal

Jalaluddin Rakhmat

Jalaluddin Rakhmat, lahir di Bandung, 29 Agustus 1949. Kang Jalal, begitu panggilan populernya dikenal sebagai salah satu tokoh cendikiawan dan mubaligh Islam terkemuka di Indonesia, bersama Gus Dur (KH Abdurahman Wahid) dan Cak Nur almarhum (Prof.Dr. Nurcholis Madjid).

Ibunya adalah seorang aktifis Islam di desanya. Ayahnya adalah seorang kiai dan sekaligus lurah desa. Karena kemelut politik Islam pada waktu itu, ayahnya terpaksa meninggalkan Jalal kecil yang masih berusia dua tahun. Ia berpisah dengan ayahnya puluhan tahun sehingga ia hampir tidak mempunyai ikatan emosional dengannya. Menurut teori ateisme, mestinya Jalal menjadi ateis ; tetapi ibunya mengirimkan Jalal ke Madrasah sore hari, membimbingnya membaca kitab kuning malam hari, setelah mengantarkannya ke sekolah dasar pagi hari. Jalal mendapatkan pendidikan agama hanya sampai akhir sekolah dasar.

Dalam suatu wawancara, ia menuturkan : “Saya dilahirkan dalam keluarga Nahdiyyin (orang-orang NU). Kakek saya punya pesantren di puncak bukit Cicalengka. Ayah saya pernah ikut serta dalam perjuangan gerakan keagamaan untuk menegakkan syariat Islam. Begitu bersemangatnya, beliau sampai meninggalkan saya pada waktu kecil untuk bergabung bersama para pecinta syariat. Saya lalu berangkat ke kota Bandung untuk belajar di SMP.”

Karena merasa rendah diri Jalal menghabiskan masa remajanya di perpustakaan negeri, peningggalan Belanda. Ia tenggelam dalam buku-buku filsafat, yang memaksanya belajar bahasa Belanda. Di situ ia berkenalan dengan para filosof, dan terutama sekali sangat terpengaruh oleh Spinoza dan Nietzsche. Ayahnya juga meninggalkan lemari buku yang dipenuhi oleh kitab-kitab berbahasa Arab. Dari buku-buku (kitab) peninggalan ayahnya itu, ia bertemu dengan Ihya Ulum al-Din-nya al Ghazali. Ia begitu terguncang karenanya sehingga seperti (dan mungkin memang) gila. Ia meninggalkan SMA-nya dan berkelana menjelajah ke beberapa pesantren di Jawa Barat. Pada masa SMA itu pula ia bergabung dengan kelompok Persatuan Islam (Persis) dan aktif masuk dalam kelompok diskusi yang menyebut dirinya Rijalul Ghad atau pemimpin masa depan.

Ini pun tidak berlangsung lama. Ia kembali ke SMA-nya. Karena keinginannya untuk mandiri, ia mencari perguruan tinggi yang sekaligus memberikan kesempatan bekerja kepadanya. Ia masuk kuliah Fakultas Publisistik, sekarang Fakultas Ilmu Komunikasi, Unpad Bandung. Pada saat yang sama, ia memasuki pendidikan guru SLP Jurusan Bahasa Inggris. Ia terpaksa meninggalkan kuliahnya, ketika ia menikah dengan santrinya di masjid, Euis Kartini. Setelah berjuang menegakkan keluarganya, ia kembali lagi ke almamaternya.

“Saat yang sama, saya juga bergabung dengan Muhammadiyah, dan dididik di Darul Arqam Muhammadiyah dan pusat pengkaderan Muhammadiyah. Dari latar belakang itu saya sempat kembali ke kampung untuk memberantas bidáh, khurafat dan takhayul. Tapi yang saya berantas adalah perbedaan fiqih antara Muhammadiyah dan fiqih NU orang kampung saya. Misi hidup saya waktu itu saya rumuskan singkat: menegakkan misi Muhammadiyah dengan memuhammadiyahkan orang lain. Saya membuang beduk dari mesjid di kampung saya, karena itu dianggap bidáh. Tapi apa yang kemudian terjadi? Saya bertengkar dengan Uwa’ (Paman) saya yang membina pesantren dan dengan penduduk kampung. Sebab ketika semua orang berdiri untuk untuk shalat qabliyah Jumát, saya duduk secara demonstratif. Saya hampir-hampir dipukuli karena membawa fiqih yang baru itu.’’

Dalam posisinya sebagai dosen, ia memperoleh beasiswa Fulbright dan masuk Iowa State University. Ia mengambil kuliah Komunikasi dan Psikologi. Tetapi ia lebih banyak memperoleh pengetahuan dari perpustakaan universitasnya. Berkat kecerdasannya Ia lulus dengan predikat magna cum laude. Karena memperoleh 4.0 grade point average , ia terpilih menjadi anggota Phi Kappa Phi dan Sigma Delta Chi.

Pada tahun 1981, ia kembali ke Indonesia dan menulis buku Psikologi Komunikasi. Ia merancang kurikulum di fakultasnya, memberikan kuliah dalam berbagai disiplin, termasuk Sistem Politik Indonesia. Kuliah-kuliahnya terkenal menarik perhatian para mahasiswa yang diajarnya. Ia pun aktif membina para mahasiswa di berbagai kampus di Bandung. Ia juga memberikan kuliah Etika dan Agama Islam di ITB dan IAIN Bandung, serta mencoba menggabungkan sains dan agama.

Kegiatan ekstrakurikulernya dihabiskan dalam berdakwah dan berkhidmat kepada kaum mustadháfin. Ia membina jamaah di masjid-masjid dan tempat-tempat kumuh gelandangan. Ia terkenal sangat vokal mengkritik kezaliman, baik yang dilakukan oleh elit politik maupun elit agama. Akibatnya ia sering harus berurusan dengan aparat militer, dan akhirnya dipecat sebagai pegawai negeri. Ia meninggalkan kampusnya dan melanjutkan pengembaraan intelektualnya ke kota Qum, Iran, untuk belajar Irfan dan filsafat Islam dari para Mullah tradisional, lalu ke Australia untuk mengambil studi tentang perubahan politik dan hubungan internasional dari para akademisi moderen di ANU. Dari ANU inilah ia meraih gelar Doktornya.

Sekarang, lénfant terrible ini kembali lagi ke kampusnya, Fakultas ilmu Komunikasi, Unpad. Ia juga mengajar di beberapa perguruan tinggi lainnya dalam Ilmu Komunikasi, Filsafat Ilmu, Metode Penelitian, dll. Secara khusus ia pun membina kuliah Mysticism (Irfan/Tasawuf) di Islamic College for Advanced Studies (ICAS)- Paramadina University, yang ia dirikan bersama almarhum Prof.Dr. Nurcholis Madjid, Dr. Haidar Bagir, dan Dr. Muwahidi sejak tahun 2002.

Di tengah kesibukannya mengajar dan berdakwah di berbagai kota di Indonesia, ia tetap menjalankan tugas sebagai Kepala SMU Plus Muthahhari Bandung, sekolah yang yang didirikannya dan kini menjadi sekolah model (Depdiknas) untuk pembinaan akhlak. Sebagai ilmuwan ia menjadi anggota berbagai organisasi professional, nasional dan internasional, serta aktif sebagai nara sumber dalam berbagai seminar dan konferensi. Sebagai mubaligh, ia sibuk mengisi berbagai pengajian. Jamaah yang bergabung dengannya menyebut diri mereka sebagai “laron-laron kecil… menuju misykat pelita cahaya ilahi”. Misykat juga menjadi pusat kajian tasawuf dan sekaligus nama jamaáhnya.

Sebagai aktifis ia membidani dan menjadi Ketua Dewan Syura Ikatan Jamaah Ahlul Bait Indonesia (IJABI) yang kini sudah mempunyai hampir 100 Pengurus Daerah (tingkat kota) di seluruh Indonesia dengan jumlah anggota sekitar 2,5 juta orang. Ia juga menjadi pendiri Islamic Cultural Center (ICC) Jakarta bersama Dr. Haidar Bagir dan Umar Shahab,MA.

Keaktifannya sebagai intelektual mengantarkannya untuk menghasilkan puluhan buku dalam berbagai disiplin keilmuan dan tema. Lebih dari 45 buku sudah dia tulis dan diterbitkan oleh beberapa penerbit terkemuka. Kini ia mencoba mengembangkan jangkauan pencerahan pemikiran umat dan dakwahnya melalui dunia cyber. Website The Jalal Center for the Enlightenment (www.jalal-center.com) ini pun menjadi rumah maya kita bersama dan kampus virtual yang mudah dijangkau dari berbagai penjuru dunia. Dakwahnya pun makin bergaung melalui layanan SMS yang menyajikan ayat Qurán, hadits dan hikmah lainnya, melalui REG JALAL (kirim ke 9388). Hasil keuntungan dari layanan dakwah SMS ini didedikasikannya untuk membiayai kegiatan dakwah dan pendidikan yang dikelola para ustadz, madrasah dan pesantren di berbagai peloksok Nusantara, yang dibinanya.

Selain aktif sebagai dosen di berbagai perguruan tinggi, Kang Jalal aktif berdakwah dan berkhidmat kepada kaum mustadháfin. Ia membina jamaah di masjid-masjid dan di tempat-tempat kumuh & gelandangan. Belakangan (3 tahun yang lalu) ia mendirikan sekolah gratis : SMP Plus Muthahhari di Cicalengka Bandung yang dikhususkan untuk siswa miskin. ‘’Obsesi saya yang lain, melihat SMP Muthahhari berdiri di seluruh pelosok tanah Air sehingga anak-anak miskin tidak terputus aksesnya dari pendidikan. Mereka tidak bayar apapun, namun semua fasilitas disediakan dan mutu pendidikan yang diperolehnya tetap bermutu.’’

Sebagai kepala keluarga, ia sangat bahagia karena dikaruniai lima orang anak dan empat orang cucu. Sebagai hamba Allah, ia masih juga merasa belum sanggup mengsyukuri anugrah-Nya.

Dari pengalaman hidup masa remajanya ketika mengalami pubertas beragama, Kang Jalal akhirnya menemukan bahwa fiqih hanyalah pendapat para ulama dengan merujuk pada sumber yang sama, yaitu Al-Qurán dan Sunnah. ‘’Artinya kalau orang menentang al-Qurán dan Sunnah, jelas ia kafir. Tapi kalau hanya menentang pendapat orang tentang Al-Qurán dan Sunnah, kita tidak boleh menyebutnya kafir. Itu hanya perbedaan tafsiran saja.’’ Jelasnya.

‘’Karena itulah kemudian saya berfikir bahwa sebenarnya ada hal yang mungkin mempersatukan kita semua, yaitu akhlak. Dalam bidang akhlak, semua orang bisa bersetuju, apapun mazhabnya. Lalu saya punya pendirian: kalau berhadapan dengan perbedaan pada level fiqih saya akan dahulukan akhlak.’’

Belum lama ini, ia –bersama sejumlah tokoh populer, antara lain KH Abdurahman Wahid, Prof.Dr. Quraisy Shihab, hingga Dawam Raharjo – memperoleh atribut sesat lewat sebuah buku berjudul Aliran-aliran Sesat. ‘’Saya anggap saja numpang beken. Karena ngak cuma saya yang dicap sesat, tapi juga Gus Dur dan dan Ustadz Quraisy Shihab,’’ kelakarnya. Cap sesat acap dilekatkan padanya mungkin karena karena kedekatannya dengan komunitas agama lain. Ia tidak saja begitu toleran kepada Ahmadiyah yang dianggap sesat oleh MUI, tapi juga dengan umat lain. Cendikiawan yang belakangan dipanggil kiai ini sering juga diminta berbicara di gereja dan forum-forum umat Kristiani. ‘’Banyak berinteraksi dengan umat agama lain justru membuat keimanan saya menjadi lebih kuat, ‘’ dakunya.

‘’Dan ‘’ lanjutnya, ‘’Tuhan menciptakan berbagai agama itu dimaksudkan untuk menguji kita semua : seberapa banyak kita memberikan konstribusi kebaikan kepada umat manusia. Kepada Tuhanlah semua agama itu kembali, maka kita tidak boleh mengambil ali kewenangan Tuhan untuk menyelesaikan perbedaan agama dengan cara apapun, termasuk dengan fatwa.’’

Refleksi dan perjalanan hidupnya itu mengilhami Kang Jalal untuk membangun jembatan ukhuwah sesama Muslim, apapun mazhabnya. Meski sejak awal berdiri Yayasan dan SMU Muthahhari dicurigai sebagai pelopor gerakan Syiah di Indonesia, kurikulumnya justru justru mengajarkan pemikiran seluruh mazhab dan menjadi pelopor pembaharuan metode pendidikan-pengajaran di Indonesia. ‘’Saya tidak mengajak orang masuk Syiah. Di sini kami mengajarkan keterbukaan untuk menghargai perbedaan di antara berbagai mazhab’’, jelasnya suatu ketika. Bahkan Pluralisme menjadi isue yang kini kerap digaunkannya. Pluralisme versi Kang Jalal menghormati dan mengapresiasi perbedaan dan tidak memaksakan pemahaman dan penafsiran kita tentang keselamatan dan kebenaran kepada pihak lain. Ia ingin menampilkan wajah Islam yang benar-benar Rahmatan lil Álamin. Islam apa adanya yang rasional-progresif (moderen) namun tidak meninggalkan pedoman Al-Qur’an dan Sunnah Nabi. Pendekatannya terhadap Islam yang moderat, yang mengharmoniskan aktifitas dan metode pendekatan ‘fikir. dan ‘zikir’ secara proporsional, mendayung di antara dua karang ekstrimitas: Liberalisme dan Fundamentalisme Literal.[]

Dirangkai oleh:
Ahmad Y. Samantho dari buku Psikologi Agama, Islam dan Pluralisme, dan sumber-sumber lainnya


Sisi Lain dari Kang Jalal

Prof. Dr. Jalaluddin Rakhmat adalah nama yang identik dengan perkembangan tasawuf kota (urban sufism). Bahkan, bisa dibilang dialah yang merintis kajian-kajian tasawuf dengan kelompok sasaran masyarakat kelas menengah perkotaan, yaitu kalangan pengusaha, pejabat, politisi, selebriti, dan kalangan profesional dari berbagai bidang yang rata-rata berpendidikan baik (well educated). Hal ini bisa dilihat ketika pria yang akrab disapa Kang Jalal itu mendirikan dan Pusat Kajian Tasawuf (PKT): Tazkia Sejati, OASE-Bayt Aqila, Islamic College for Advanced Studies (ICAS-Paramadina), Islamic Cultural Center (ICC) di Jakarta, PKT Misykat di Bandung. Di lembaga-lembaga inilah putra Kiai Haji Rakhmat dan ahli komunikasi lulusan Iowa State University, AS, ini secara intensif menyampaikan pengajian atau kuliah-kuliah tasawufnya kepada masyarakat urban yang dahaga akan siraman ruhani Islam.

Bekal pendidikannya yang diperoleh di negara-negara maju—setelah meraih masternya di Amerika Serikat, ia juga memperoleh gelar doktor dari Australian National University—menjadikan Kang Jalal cukup paham idiom-idiom masyarakat kelas menengah perkotaan dan memahami model dakwah Islam seperti apa yang mereka inginkan. Itulah sebabnya dakwahnya mudah diterima oleh audiensnya yang kebanyakan orang-orang terdidik dengan kehidupan ekonomi yang baik itu.

Sejak kecil, Kang Jalal sebenarnya bercita-cita menjadi pilot, bukan juru dakwah. Meskipun demikian, Jalal kecil sudah akrab dengan kehidupan bernuansa agamis dalam keluarga, meski sekolah formalnya sendiri bukan sekolah Islam. Jalal kecil memulai pendidikan formalnya dimulai dari Sekolah Dasar (SD) di kampungnya. Lalu ia meninggalkan kampung halamannya guna melanjutkan sekolah di SMP Muslimin III Bandung. Jalal terbilang murid yang cerdas, buktinya sejak kelas satu SMP sampai tamat, ia selalu menjadi juara kelas. Itulah sebabnya ia hanya dibebani biaya sekolah satu kuartal saja, selebihnya beasiswa. Lulus SMP, Jalal melanjutkan ke SMA II Bandung. Kemudian dengan bekal ijazah SMA ia melanjutkan studinya di Fakultas Publisistik Universitas Padjajaran (UNPAD) yang sekarang berganti nama menjadi Fakultas Ilmu Komunikasi.

Menurut pengakuannya, kuliah di Fakultas Publisistik itu hanya kebetulan. Karena desakan ekonomi, ia kuliah di Fakultas Publisistik yang belajarnya sore, sehingga pagi hari ia masih bisa mencari tambahan biaya hidup. Maklum sejak kecil ia sudah ditinggal oleh ayahnya. Untuk tetap membekali Jalal dengan pendidikan agama sepeninggal ayahnya, ibunda Kang Jalal menitipkannya kepada kiai Sidik, seorang kiai NU. Dari kiai Sidik inilah Jalal diperkenalkan dengan Ilmu Nahwu (gramatika) dari kitab Jurumiyah dan Sharaf (ilmu yang membahas perubahan kata dalam bahasa Arab). Menurut Kang Jalal, penguasaan literatur dan kemampuan bahasa Arabnya Kiai Sidik sangat fasih. Kiai Sidiklah yang berjasa membimbing Kang Jalal mengenal dan memahami beberapa bab dari kitab Alfiah Ibnu Malik.

Ketika memasuki usia remaja, Jalal membaca kitab Ihyâ’ ‘Ulûm al-Dîn, karya besar Imam al-Ghazali. Buku itu telah menggoncangkan jiwanya, kemudian mengubah cara pandangnya tentang dunia. “Saya merasa dunia ini terlalu banyak dilumuri dosa,” ujarnya. Oleh karenanya kehidupan dunia harus ditinggalkan. Setelah mengalami goncangan itu Jalal nekad meninggalkan sekolah dan pergi ke pesantren. Tapi pihak pesantren ternyata merasa keberatan menerima Jalal sebagai santrinya. Bukan karena ia hanya membawa beberapa liter beras, tapi karena ia hanya datang sendiri tanpa diantar oleh orang tua. Setelah peristiwa itu ia pun melanjutkan kembali sekolahnya hingga tamat.

Materi dakwah yang dibawakan Jalal muda dengan pemahaman Islam yang lebih rasional, membumi dan lebih membela orang-orang lemah baik dari sisi ekonomi, pendidikan, politik (kaum mustadl‘afîn) mengundang kontroversi. Bagi kaum muda, da’i model Kang Jalal memang cocok dengan semangat mereka. Sementara bagi kalangan tua dan mereka yang lebih senior dalam jenjang keulamaan, kehadiran Jalal kurang disukai. Sebagai kelanjutan ketidaksukaan itu Jalal dicap sebagai agen Syiah dan dianggap meresahkan masyarakat. Maka pada 1985 ia pun “diadili” oleh Majelis Ulama Kotamadya Bandung dengan “hukuman” dilarang berceramah di kota kota Bandung.

Larangan ceramah yang dikeluarkan oleh MUI kota Bandung tidak menghentikan langkah Kang Jalal untuk tetap berdakwah. Meskipun kali ini dakwahnya lebih banyak pada dakwah dengan tulisan. Karena ketika ada larangan ceramah, Kang Jalal lebih banyak waktu untuk menulis artikel dan buku. Tak lama kemudian, undangan untuk ceramah pun datang dari Yayasan Paramadina milik Dr. Nurcholish Madjid di Jakarta. Jalal diminta untuk menjadi salah satu pengisi materi pada pengajian rutin yang diselenggarakan oleh Yayasan tersebut. Dan sejak itu Jalal malah laris ceramah di luar Bandung, dan ia pun memiliki akses dan reputasi nasional dan internasional

Masih di bidang dakwah, Pada 3 Oktober 1988 bersama-sama Haidar Baqir, Agus Effendy, Ahmad Tafsir, dan Ahmad Muhajir, Kang Jalal mendirikan Yayasan Muthahari. Salah satu tujuan dari didirikannya yayasan ini adalah menumbuhkan kesadaran Islami melalui gerakan dakwah yang direncanakan secara professional berbekal ilmu pengetahuan moderen dan khazanah keilmuan Islam tradisional. Sukses di Bandung, Kang Jalal merambah Jakarta. Dengan dukungan dana dan fasilitas dari keluarga H. Sudharmono mantan wakil presiden semasa Orde Baru, Kang Jalal pernah mendirikan pusat kajian tasawuf dengan nama Yayasan Tazkiya Sejati. Lalu pada 2004 Kang Jalal juga mendirikan dan memimpin satu forum lagi yang khusus bergerak di bidang kajian tasawuf, yaitu Kajian Kang Jalal (KKJ) yang pernah bermarkas di Gedung Bidakara, dan kini KKJ tiap bulannya dilaksanakan di Universitas Paramadina, Jln. Gatot Subroto, Kav.96-97, Mampang, Jakarta. Berikutnya, tahun 2003 bersama Cak Nur, Dr. Muwahidi dan Dr Haidar Bagir ia mendirikan ICAS-Paramadina, bersama Haidar Bagir dan Umar Shahab ia mendirikan Islamic Cultural Center (ICC), sejak tahun 2004 ia membina LSM OASE dan Bayt Aqila dan aktif membina Badan Perjuangan Kebebasan Beragama dan Berkepercayaan (BPKBB), sebuah forum dialog. silaturahmi dan kerjasama  atak tokoh-tokoh pemimpin agama-agama dan aliran kepercayaan di Indonesia. Terakhir sejak Agustus 2006 Ia membina The Jalal-Center for Enlightenment (JCE) di Jakarta.


Selain aktif berdakwah, Kang Jalal juga mengisi seminar keagamaan di berbagai tempat, mengajar di Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, ICAS-Paramadina & ICC Jakarta dan UNPAD Bandung. Dan yang tetap ia lakukan di tengah kesibukannya ialah menyisihkan waktu untuk mengisi pengajian rutin (Kuliah Ahad Pagi) di Masjid al-Munawarah, masjid di dekat rumah yang jama’ahnya sudah dibina sejak tahun 1980-an. Juga, tahun 2001-2003 setiap pagi ia sering mengisi pengajian rutin yang disiarkan langsung oleh radio Ramako Group di Jakarta


Pada Mulanya Ahli Fikih

Sebenarnya, pria kelahiran Bojong Salam Rancaekek, Bandung, pada 29 Agustus 1949 ini pada mulanya adalah seorang ahli fikih. Dakwah yang ia sampaikan pun dengan sendirinya lebih kental nuansa fikihnya. Malahan, ia pernah berbangga diri bahwa dalam setiap debat mengenai fikih ia selalu berhasil “menaklukkan” lawan-lawannya. Kebanggaan yang berlebihan sempat membuatnya lupa diri dan kelewat PeDe (percaya diri) bahkan sombong. Banyak sekali paham keislaman yang sudah mapan di tengah masyarakat Bandung ia libas. Misalnya, ia menentang tahlilan untuk orang meninggal, bolehnya kawin mut’ah, perlunya menambah rukun Islam dengan amar makruf nahi munkar, dan lain-lain.

Keponggahan dan kesombongan intelektual itu kemudian berhenti ketika salah seorang jamaah Kang Jalal yang bernama Darwan meninggal dunia akibat ditabrak kereta api di dekat stasiun Kiaracondong. Menurut penuturan Kang Jalal dalam pengantar bukunya Rindu Rasul, Darwan yang pengetahuan agamanya sangat sederhana, tidak banyak tahu tentang tafsir dan hadis, pada menit-menit terakhir hidupnya, yang ia ingat hanya Nabi Muhammad, dan bulan itu adalah bulan Maulid. Ia pun berpesan pada istrinya agar bikin selamat buat kanjeng Nabi. Ia tidak ingat anak, ubi-ubi yang ia tanam, dan semua harta yang ia miliki. Peristiwa itulah di antaranya yang meruntuhkan keponggahan dan kesombongan intelektual Kang Jalal yang memahami agama.

Tahun 1983-1985 Kang Jalal aktif memberikan kajian rutin atas buku-buku karya para tokoh Ikhwanul Muslimin Mesir seperti Hasan al-Bana, Said Hawa, Syayid Qutb kepada para mahasiswa di Mesjid Salman ITB, Bandung, sebelum ia akhirnya mulai melirik kitab-kitab dan pemikiran para tokoh Syiah.

Tertarik dengan Tasawuf

Jalal sendiri mengenal dunia tasawuf dan tertarik dengan tasawuf, ketika bersama-sama Haidar Bagir dan Endang Saefuddin Anshory diundang pada sebuah konferensi di Kolombia pada 1984. Dari konferensi itu ia bertemu dengan ulama-ulama asal Iran yang memiliki pemahaman mendalam tentang tasawuf dan ia merasa kagum pada mereka. Ia pun mendapat hadiah banyak buku dari ulama Iran tersebut, yang di dalamnya banyak membahas masalah ‘irfân (tasawuf).

Pasca kepulangan dari konferensi tersebut, Kang Jalal banyak tertarik dengan dunia tasawuf termasuk pemikiran ulama-ulama Syiah Iran seperti Imam Khomeini, Murtadha Muthahari, dan lain-lain. Para ulama tersebut disamping memiliki kualitas keilmuan yang tinggi, mereka juga memiliki integritas moral yang luar biasa. Maka, menurut Kang Jalal, sosok seperti Murtadha Muthahari bisa dijadikan sebuah model keterbukaan. Tak heran jika sejak saat itu tulisan-tulisan Kang Jalal banyak mengutip pendapat dari tokoh-tokoh tersebut. Tentang Imam Khomeini, ia melihatnya sebagai sosok pejuang yang tangguh dan sekaligus seorang sufi besar yang aktivitas politiknya bisa mengguncang dunia, termasuk merepotkan negara penindas sebesar Amerika sekalipun.

Sejak itulah Kang Jalal memilih tasawuf, dan bukan fikih, sebagai materi dakwahnya. Alasan dan pertimbangan kenapa ia memilih pendekatan tasawuf di antaranya adalah:

Pertama, perhatian umat terhadap fikih sudah terlalu lama dan terlalu dalam. Banyak organisasi keagamaan didirikan atas dasar fikih. Sebagai contoh beberapa organisasi keagamaan di Indonesia seperti Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, Persatuan Islam (PERSIS), Al-Irsyad, dan lain-lain banyak dilatarbelakangi oleh perbedaan pemahaman fikih para pendirinya. Maka sampai sekarang ini beberapa organisasi keagamaan ini memiliki fikih sendiri-sendiri yang dijadikan pegangan bagi para pengikutnya.

Kedua, fikih tidak memberi kehangatan dalam beragama. Karena kesalehan seseorang hanya diukur oleh sejauhmana dia mengikuti dan mentaati fikih yang sesungguhnya masih ijtihadi. Karena fikih itu sendiri artinya pemahaman terhadap nash-nash al-Qu’an maupun al-sunnah yang dilakukan oleh para ulama. Menurut Kang Jalal, orang beragama yang terlalu berpegang pada pendapat fikih akan terasa kaku, sempit dan terkesan formalistik. Maka keberagamaan yang ia miliki kurang memberikan kesejukan, keteduhan, dan kehangatan. Hal ini akan sangat berbeda dengan mereka yang beragama dengan bertasawuf, ia akan merasakan kehangatan, kelonggaran dalam beragama. Karena dalam tasawuf, para sufi dalam melihat berbagai persoalan tidak hitam putih, benar salah, halal haram, surga neraka. Bahkan terhadap orang yang banyak berbuat maksiat pun para sufi masih mau menerima, asalkan mereka mau bertaubat dan kembali ke jalan Allah. Hal ini mungkin berbeda dari para ulama fikih yang melihat berbagai persoalan hanya dari sisi luarnya saja tanpa bisa melihat apa makna atau hakekat di balik dari semua peristiwa yang terjadi.

Ketiga, fikih sering menjadi sebab pertentangan di antara umat Islam yang berakibat pada rapuhnya sendi ukhûwah Islamîyah . Beberapa perbedaan pendapat tentang jumlah rakaat salat tarawih apakah 8 rakaat, 20 ataukah 33 rakaat, salat rawatib (sebelum atau sesudah salat wajib), membaca basmalah sirri (pelan) atau jahr (keras), dan perbedaan-perbedaan yang lain pada waktu dulu dan mungkin sampai kini, masih sering menimbulkan ketegangan di antara sesama Muslim.


Sebagai contoh banyak kaum Muslim yang tidak mau bergabung salat berjamaah dengan dengan Muslim yang lain oleh karena beda fikih, sehingga ia membuat jamaah dan masjid sendiri. Bahkan penulis menemukan ada seorang adik menganggap kakaknya yang Muslim dianggap belum beriman lantaran berbeda fikih. Akibat lanjutan dari perbedaan fikih ini berimbas pada perbedaan pilihan politik. Sebagai contoh orang NU akan cenderung memilih PKB atau PPP, dan orang Muhammadiyah akan cenderung memilih PAN, demikian juga yang lain. Sehingga dalam dunia politik kita mengenal istilah politik aliran; aliran ideologi, aliran keagamaan, atau tepatnya adalah aliran fikih.

Keempat, kecenderungan masyarakat era 80-an, banyak orang berbondong-bondong mendalami Islam. Pada umumnya mereka tidak mau mendalami persoalan fikih, tetapi mereka mencari dari Islam sesuatu yang bisa mendatangkan ketenangan batin, yakni tasawuf. Atau dengan kata lain kecenderungan “pasar” menghendaki tasawuf. Gejala ini terjadi khususnya bagi masyarakat perkotaan dengan segmen kelas sosial menengah ke atas. Gejalanya bisa dilihat dari semakin ramainya majelis ta’lim yang menyelenggarakan kajian tasawuf. Di media massa baik cetak maupun elektronik seperti TV disuguhkan mimbar tasawuf dengan mendatangkan para pakar tasawuf dan dipandu oleh presenter berkelas. Dan acara ini disambut hangat oleh masyarakat. Di media-media cetak yang sekuler pun hampir setiap hari Jumat disediakan ruang bagi para penulis tasawuf yang berkualitas untuk membeberkan seluk beluk tasawuf, baik dari sisi teoritis maupun praksisnya. Ciri yang lain adalah semakin larisnya buku-buku yang bertema agama, termasuk buku-buku tasawuf. Semua itu menunjukkan adanya gejala meningkatnya spiritualitas masyarakat perkotaan yang semakin haus dengan siraman keruhanian.

Kelima , Kang Jalal telah banyak membaca buku-buku fikih, baik yang klasik maupun kitab-kitab fikih kontemporer. Isinya hampir sama, dan kebanyakan hanya pengulangan dari kitab-kitab sebelumnya. Berbeda dengan buku-buku tasawuf yang kaya akan nuansa, yang tidak akan habis untuk dibaca dan dipelajari.

Alasan keenam , berhubungan dengan aspek psikologis, yakni merasa capek dan merasa jenuh, jika terus menerus berdebat dan “bertengkar” untuk soal-soal fikih yang tidak ada habisnya. Seperti pada penjelasan di atas, ketika Kang Jalal dakwah dengan materi fikih ia selalu berbenturan dengan kelompok Islam yang berbeda faham. Di kampung sendiri ia berselisih faham dengan saudaranya-saudaranya yang berfaham NU, yang akhirnya keduanya bersepakat untuk membangun masjid masing-masing.

Maka, sejak dekade ‘90-an sampai sekarang Kang Jalal lebih tertarik pada materi-materi dakwah yang bernuansa sufistik (aspek batiniah) daripada materi lainnya seperti fikih. Kalaupun ia menjelaskan hal-hal yang bersifat fikih sesungguhnya itu bukan keinginan dia, tetapi karena jamaah yang menanyakan hal itu. Hal ini bisa disimak pada acara tanya jawab pada pengajian rutin yang pernah diasuh Kang Jalal yang disiarkan oleh radio Ramako FM Jakarta setiap pagi. “Sebenarnya saya malas berbicara masalah fikih, oleh karena jamaah yang selalu menanyakan hal-hal yang berhubungan dengan masalah fikih, maka terpaksalah saya berbicara masalah fikih,” katanya suatu ketika. Meskipun Kang Jalal harus berbicara dengan materi fikih, yang mengharuskan dia merujuk pada pendapat para imam mazhab, tetapi ia selalu berusaha melengkapinya dengan pendapat dan pandangan para ulama yang menekankan pentingnya mendahulukan akhlak daripada fikih semata. Ia pun memberikan beberapa alternatif jawaban agar jamaah tidak sempit pandangan. Di sini terlihat bahwa ia lebih menekankan aspek akhlak (tasawuf) dengan tidak meninggalkan aspek fikihnya.

Cendekiawan Produktif

Jalaluddin Rakhmat dapat digolongkan sebagai da’i dan cendekiawan yang produktif. Dalam perjalanan karirnya ia sudah banyak menghasilkan karya-karya ilmiah, baik yang berupa buku, majalah, buletin, makalah, artikel, kata pengantar beberapa buku yang sudah terbit dan beredar di toko-toko buku. Lebih dari 40 buku telah ditulisnya dan terbit. Adapun buku-buku yang sudah terbit di antaranya:

Psikologi Komunikasi (1985) Inilah buku pertama yang ditulisnya sepulang dari kuliah Magister di IOWA State University. Inilah buku psikologi komunikasi pertama di Indonesia yang sangat berbobot ilmiah namun gaya penuturannya sederhana dan mudah dicerna. Sampai kini buku ini telah dicetak ulang … kali. Buku ini termasuk best seler untuk bidang ilmu komunikasi, dan menjadi rujukan utama di fakultas-fakultas ilmu komunikasi di Indonesia. Dalam buku ini Kang Jalal mengatakan bahwa kualitas hidup kita, hubungan kita dengan sesama manusia, dapat ditingkatkan dengan memahami dan memperbaiki komunikasi yang kita lakukan. Kita dapat mempelajarinya dengan berbagai tinjauan tentang komunikasi dan psikologi seperti yang diuraikan.

Islam Alternatif (1986). Buku ini merupakan kumpulan dari ceramah-ceramah penulis di ITB, yang kemudian diedit dan disarikan kembali oleh Haidar Baqir. Sampai saat ini buku tersebut sudah 8 kali cetak ulang. Buku ini berisi 5 bagian yang masing-masing bagian terdiri dari beberapa pokok bahasan. Bagian pertama, berbicara Islam sebagai rahmat bagi alam. Bagian kedua, Islam pembebas mustadl’afîn. Bagian ketiga, Islam dan pembinaan masyarakat. Bagian keempat Islam dan ilmu pengetahuan, dan bagian kelima, Islam Madzhab Syiah.

Islam Aktual (1991), buku ini merupakan kumpulan dari artikel yang telah dimuat oleh beberapa media massa, mulai dari Tempo, Gala, Kompas, Pikiran Rakyat, Panji Masyarakat, Jawa Pos dan Berita Buana. Menurut pengakuan penulis dalam pengantar buku ini, buku ini memang tidak utuh, karena merupakan percikan-percikan pemikiran penulis yang dimaksudkan untuk konsumsi media massa. Sesuai sifatnya media massa itu informatif. Oleh karenanya, kajiannya tidak tuntas dan mendalam dari setiap topik-topik yang disajikan.

Renungan-Renungan Sufistik (1991). Meskipun menggunakan judul seperti itu, menurut Kang Jalal, pembaca tidak akan memperoleh penjelasan yang mendalam layaknya buku Suhrawardi Awârif Al-Ma`rifah, dan I hyâ’ ‘Ulum al-Dîn, karya sufi besar al-Ghazali. Buku Kang Jalal yang satu ini mengajak kepada pembaca untuk menyesuaikan diri kita dengan perintah Allah (muwâfaqah), bagaimana mencintai rasul dan para imam suci, dan saling menyayangi di antara hamba Allah (munâsabah), bagaimana melawan keinginan hawa nafsu (mukhâlafah), serta bagaimana memerangi setan (mu hârabah).

Retorika Moderen (1992) Buku ini berupaya memberikan petunjuk-petunjuk praktis dalam retorika: Persiapan, penyusunan, dan penyampaian pidato; lengkap dengan bahasan khusus mengenai pidato informatif, persuasif dan rekreatif. Petunjuk-petunjuk itu dilandasi teori-teori ilmiah.Kita ingin memasyarakatkan retorika yang berbobot yang melahirkan tuan dan puan, apa pun pekerjaan anda.

Banyak orang keliru menganalisis seolah-olah kemajuan dunia Barat bertopang primer pada matematika, fisika atau kimia. Namun, bila kita mau dalam lagi menyelam, maka kita akan melihat bahwa, kemampuan luar biasa dunia Barat dalam hal ilmu alam mengandaikan dahulu dan berpijak pada kultur berabad-abad pendidikan bahasa. Yang berakar pada filsafat yunani yang bertumpu pada retorika.

Pengertian retorika biasanya kita anggap negatif, seolah-olah retorika hanya seni propaganda saja, dengan kata-kata yang bagus bunyinya tetapi disangsikan kebenaran isinya. Padahal arti asli dari retorika jauh lebih mendalam, yakni pemekaran bakat-bakat tertinggi manusia, yakni rasio dan cita rasa lewat bahasa selaku kemampuan untuk berkomunikasi dalam medan pikiran. To be victorius lords in the batlle of minds. Maka retorika menjadi mata ajaran poros demi emansipasi manusia menjadi tuan dan puan.
Y.B. Mangunwijaya

Catatan Kang Jalal (1997). Buku ini merupakan kumpulan dari tulisan-tulisan Kang Jalal yang telah dimuat di berbagai media massa. Isinya berupa ceramah-ceramah spontan, makalah santai dan serius, obrolan ringan dan berat, yang berlangsung dari 1990-an, kemudian disarikan kembali oleh Miftah Fauzi Rakhmat. Ada beberapa visi yang ingin dilontarkan penulis dalam buku ini. Yakni visi media, visi politik, visi pendidikan, visi tranformasi sosial, visi feminisme dan visi ukhuwah yang perlu dibangun.

Reformasi Sufistik (1998). Seperti buku Jalal yang lain, buku ini pun merupakan respon penulis atas berbagai persoalan yang sedang terjadi di tengah masyarakat, mulai dari politik, kepemimpinan nasional, kekerasan sosial, demokrasi, keadilan, figur pemimpin Nabi, sampai persoalan sufistik. Digunakannya nama reformasi pada judul buku ini tentunya tidak luput dari situasi sosial yang berkembang saat itu, sisi lain mungkin karena pertimbangan bisnis agar lebih aktual dan menarik.

Jalaluddin Rakhmat Menjawab Soal-Soal Islam Kontemporer (1998). Buku ini seperti yang dikatakan oleh sang editor, Hernowo, merupakan kumpulan dari tanya jawab pengajian yang diasuh Kang Jalal mulai dari tahun 1980-an sampai 1998, baik yang berlangsung di Masjid Salman maupun di Masjid Jami Al-Munawarah. Oleh editor buku ini dibagi menjadi 4 bagian. Bagian pertama, berisi bahasan seputar ibadah mahdah, bagian kedua, membahas masalah mu’amalah, bagian ketiga, membahas ahl al-bait, dan bagian keempat, menyajikan tafsir hadis, dan masalah-masalah kontemporer.

Meraih Cinta Ilahi: Pencerahan Sufistik (1999). Seperti pada buku-buku Kang Jalal sebelumnya, isi pesan dalam buku ini juga hampir sama dengan buku-buku terdahulu. Hanya sedikit saja perbedaannya. Kalau dibandingkan dengan buku Reformasi Sufistik, buku ini lebih banyak mengangkat persoalan sufistik. Lewat buku ini penulis mengajak para pembaca bagaimana berusaha untuk menjadi kekasih Allah, seperti uraian pada Bab I. Caranya melalui ibadah ritual dan ibadah sosial seperti penjelasan dalam Bab II dan III. Penulis juga mengajak kita untuk melihat kembali sejarah masa lalu umat Islam (Bab IV), sedangkan pada Bab V disajikan tafsir surat-surat pendek.

Tafsir Sufi Al-Fâtihah (1999). Menurut Kang Jalal dalam pengantar buku ini, sampai sekarang tafsir sufi (isyâri) atau disebut juga tafsir simbolis, keberadaannya masih diperdebatkan. Karena seperti ditulis oleh al-Zarqani, tafsir ini adalah ta’wil al-Qur’an tanpa mengambil makna lahirnya untuk menyingkapkan petunjuk tersembunyi yang tampak pada para pelaku suluk dan ahli tasawuf. Namun demikian Jalal nampaknya ingin meyakinkan kepada para pihak yang keberatan dengan tafsir sufi ini, dengan membeberkan apa itu tafsir dan apa itu ta’wil. Secara garis besar buku ini membahas apakah tafsir sufi itu diperlukan atau menyesatkan.

Rekayasa Sosial: Reformasi Atau Revolusi? (1999). Gelombang Reformasi pasca Orde Baru memunculkan isu-isu utama tentang perubahan sosial. Persoalan buku ini adalah: Apakah perubahan sosial itu sesuatu yang ada dalam jangkauan ikhtiari, atau sesuatu yang determinan? Kalau bersifat ikhtiari, maka setiap waktu perubahan itu bisa dilakukan melalui upaya-upaya yang berjalan secara alamiah atau normal. Tetapi kalau perubahan itu bersifat tergantung, maka harus ada upaya secara radikal yang disusun, guna membedah penyumbatan dalam sistem tatanan sosial yang ada. Inilah yang sering disebut dengan istilah revolusi. Kalau itu yang terjadi, maka biaya (cost) yang akan dibayar terlalu mahal. Menurut Kang Jalal, untuk melakukan perubahan pada masyarakat, maka yang perlu dilakukan pertama kali adalah mengubah cara berpikir masyarakat, tanpa melalui proses ini maka sulit perubahan akan terjadi.

Rindu Rasul (2001). Melalui buku ini kang Jalal ingin menceriterakan kepada pembaca bagaimana dahulu ia tidak suka shalawat yang macam-macam, membaca barjanji, minta syafaat kepada Nabi. “Paham modernis yang merasuki pikiran serta kepongahan intelektual yang palsu telah menjauhkan saya dari cinta kepada Nabi saw,” demikian pengakuan Kang Jalal dalam pengantar buku ini. Maka lewat buku ini ia ingin menumpahkan kerinduannya kepada Rasul kesayangannya yang untuk sementara waktu kurang diindahkan. Secara khusus buku ini ingin mengajak kepada pembaca untuk lebih dekat, mengenal, memahami dan mencintai Rasulullah manusia pilihan, nabi teladan dan pemberi syafa’at di hari kemudian.

Dahulukan Akhlak Di Atas Fikih (2002). Buku ini berisi pesan agar umat Islam tidak terpecah-belah oleh karena perbedaan fikih yang diyakini. Kang Jalal memaparkan berbagai peristiwa yang kurang harmonis sebagai akibat dari perbedaan fikih di antara masyarakat Islam. Bahkan karena pemahaman fikih yang ia yakini banyak masyarakat Muslim yang kesulitan menjalankan agamanya. Seperti seorang mahasiswa yang urung mendapat gelar doktor di salah satu universitas di Jepang, oleh karena ia tidak bisa makan masakan orang kafir. Menurut kang Jalal, kesetiaan yang berlebihan pada fikih akan mengukur kesalehan seseorang dengan ukuran fikih. Baik tidaknya seseorang akan dinilai sejauhmana ia menjalankan fikih yang diyakini. Padahal fikih sendiri sesungguhnya adalah pemahaman para ulama tentang syariah yang kemungkinan kebenarannya juga tidak mutlak. Kang Jalal juga berpendapat bahwa demi persaudaraan, maka seseorang boleh meninggalkan fikih yang diyakini.

Psikologi Agama (2003) Agama adalah kenyataan terdekat dan sekaligus misteri terjauh. Begitu dekat: Ia senantiasa hadir dalam kehidupan kita sehari-hari–di rumah, kantor, media, pasar, di mana saja. Begitu misterius: Ia menampakkan wajah-wajah yang sering tampak berlawanan–memotivasi kekerasan tanpa belas atau pengabdian tanpa batas; mengilhami pencarian ilmu tertinggi atau menyuburkan takhayul dan superstisi; menciptakan gerakan massa paling kolosal atau menyingkap misteri ruhani paling personal; memekikkan perang paling keji atau menebarkan kedamaian paling hakiki.

Buku ini mencoba menyingkap misteri terjauh dan kenyataan terdekat itu dalam proses-proses kejiwan manusia…

Bagaimana kita dapat memahami agama yang begitu kompleks? Agama tentu saja dapat dipelajari dari berbagai pendekatan–Anda boleh memilihnya. Tetapi, dibandingkan dengan pendekatan lain (terutama teologi), pendekatan psikologi adalah yang paling menarik dan manusiawi. Mengapa?

Psikologi memperlakukan agama bukan sebagai fenomena langit yang serba sakral dan transenden–biarlah itu menjadi lahan teologi. Ia ingin membaca keberagamaan sebagai fenomena yang sepenuhnya manusiawi. Ia menukik ke dalam proses-proses kejiwaan yang mempengaruhi perilaku kita dalam beragama, membuka “topeng-topeng” kita, dan menjawab pertanyaan “mengapa”. Psikologi, karena itu, memandang agama sebagai perilaku manusiawi yang melibatkan siapa saja dan di mana saja.

Dengan studi kepustakaan yang ekstensif dan analisis yang tajam atas berbagai fenomena keagamaan yang berkembang, buku ini mengawali senarai studi Psikologi Agama yang ditulis oleh Jalaluddin Rakhmat. Cendekiawan terkemuka ini mengajak pembaca memahami berbagai fenomena keberagamaan itu dengan perspektif yang kaya, ilmiah, dan juga manusiawi.

Di tangan sang ahli komunikasi, tema yang kompleks tetapi tak pernah kehilangan relevansi dan pesona ini, dapat dikemas dengan bahasa yang mudah dimengerti, segar, dan cerdas.

Meraih Kebahagiaan (2004), Apakah Anda bahagia? Anda mungkin akan menjawab, tidak selalu, bergantung pada situasi dan kondisi kita. Ketika kita sedang mendapat musibah, bagaimana mungkin kita merasa bahagia? Yang ada adalah derita? Ketika musibah datang, apalagi beruntun, kita menambah penderitaan itu dengan menyalahkan siapa saja yang bisa kita temukan. Kalau tidak bisa, kita menyalahkan diri kita. Kalau tidak beragama, kita menyalahkan Tuhan? Musibah memang dinisbahkan kepada siapa saja, tetapi derita hanya dinisbahkan kepada kita. Keberuntungan datang dari mana saja, tetapi kebahagiaan hanya datang dari kita.

Buku karya Jalaluddin Rakhmat ini memberikan penjelasan bahwa bahagia adalah pilihan. Anda mungkin akan bertanya, apakah kita menderita karena pilihan? Apakah kita sengaja memilih menderita? Penerbit: Simbiosa Rekatama Media

Melalui buku ini, Jalaluddin Rakhmat ingin membuktikan bahwa baik penderitaan maupun kebahagiaan, kedua-duanya adalah pilihan kita. Melalui kajian agama, filsafat dan ilmu pengetahuan, serta makna yang hakiki tentang kebahagiaan, Anda dapat memilih cara untuk meraih kebahagiaan yang Anda inginkan. Buku ini juga menerangi perjalanan Anda menuju kebahagiaan dengan menunjukkan jebakan-jebakan kebahagiaan: sukses, kekayaan, dan kesenangan. Kapan saja Anda ditimpa penderitaan, teguhkanlah dalam diri Anda untuk memilih dan meraih kebahagiaan.

Belajar Cerdas Berbasiskan Otak (2005). Mungkin selama bertahun-tahun kita belajar tanpa mempedulikan bagaimana organ paling penting untuk belajar–otak–bekerja. Kesulitan, atau bahkan kegagalan, belajar kadang kita coba cari dengan tidak merujuk ke cara bekerjanya otak kita. Buku Belajar Cerdas ingin menawarkan paradigma-baru belajar yang didasarkan pada cara bekerjanya otak. Lewat bahasa yang mengalir dan simpel, Jalaluddin Rakhmat menyajikan hal-hal penting berkaitan dengan otak dalam rangka membuat proses belajar dapat dijadikan secara menyenangkan dan efektif.

Buku ini dibuka dengan uraian yang cerdas tentang otak kita yang menakjubkan. Bab berikutnya menjelaskan pentingnya memberikan makanan bergizi kepada otak dan kaitan otak dengan gerakan. Bab terakhir membahas sifat otak kita yang sukatantangan dan bagaimana pengaruh lingkungan terhadap pertumbuhan otak. Empat bab yang mengisi buku ini akan membuat perubahan-perubahan mendasar terhadap penyelenggaraan pendidikan di sekolah. Belajar berbasiskan otak akan “menghidupkan” sekolah.

Jalaluddin Rakhmat adalah pakar komunikasi yang menekuni dunia psikologi dan neurologi. Karya mutakhirnya, Psikologi Agama dan Meraih Kebahagiaan, membuktikan hal itu. Penguasaan atas ilmu-ilmu yang kini dimilikinya tersebut dibuktikan secara kuat lewat banyak buku yang telah ditulisnya. Tulisan-tulisannya selain mengalir dan menggerakkan pikiran, juga menggugah— ada saja hal baru yang senantiasaditawarkan.

Belajar Berbasiskan Otak terdiri dari:
Bab 1: Otak Anda yang Menakjubkan
Bab 2: Cerdas dengan Makanan
Bab 3 Cerdas dan Gerakan
Bab 4 Cerdas dengan Pengayaan.

Memaknai Kematian
(2006)
Dalam buku ini Kang Jalal mengajak para pembaca untuk merenungkan dan memahami dan memaknai kematian. Kajian eskatologis tentang kematian, hidup sesudah mati, akhirat, pertemuan dengan Tuhan Allah, dll. Dipaparkanya berdasarkan kajian al-Qur;an dan hadits-hadits. Dengan berusaha memaknai kematian, Kang Jalal sekaligus juga mengajak pembaca untuk memaknai kehidupan. Artinya setelah paham apa arti dan tujuan kehidupan dan kematian, maka kita akan dapat mengarahkan kehidupan kita pada tujuan penciptaan yang sejati. Kematian dalam buku ini dimaknai sebagai sebuah bentuk kasih sayang Tuhan kepada hamba-hamba, Sebagai sebuah cara pembersihan ruhani. Ibarat anak-anak kecil yang kembali pulang ke rumah dalam keadaan kotor di sore hari Sang Ibu perlu memandikannya terlebih dulu, sebelum aktifitas lainnya di rumah itu. Buku ini terbagi dalam dua bagian utama. Bagian Pertama: Menghayati Kematian berbicara tentang Makna dan Misteri Kematian, Kematian dalam Perspektif Sufi. Penjelmaan Amal, Reuni Keluarga di Surga; Bagian kedua membahas Hidup dalam Pengahayatan Kematian: Berjumpa dengan Allah, Menghindari Su’ul Khatimah, Arti penting Ziarah Kubur, Syafaat: Buah Cinta kepada Ahlul Bait, dan Percik-percik Makana Kematian.

Islam dan Pluralisme, Akhlak Al-Quran dalam Menyikapi Perbedaan (2006). Inilah buku Kang Jalal yang paling baru. Buku ini membahas Apakah hanya Islam agama yang diterima Allah? Dengan kata lain, apakah orang yang beragama selain Islam, seperti Kristen, Hindu, Buddha, akan memperoleh keselamatan di sisi Allah? Apakah nonmuslim juga menerima pahala amal salehnya? Lantas, kenapa Tuhan menciptakan agama yang bermacam-macam? Kenapa Allah tidak menjadikan semua agama itu satu saja? Apa tujuan penciptaan berbagai agama itu? Bagaimana seharusnya kita menyikapi perbedaan ini? Pertanyaan ini meletupkan kontroversi.

Buku ini mencoba mencari jawabannya dalam Al-Quran. Lewat analisis bahasa dan telaah yang tajam atas ragam tafsir yang ada, Kang Jalal mendedah makna Islam dan agama ( dîn ), mengungkap spirit firman-Allah dalam memandang agama-agama lain dan menyikapi perbedaan itu, serta merumuskan bagaimana kita beriman secara autentik di tengah pluralitas kebenaran itu.

Dengan gaya-ungkap yang menawan, segar, dan cerdas, cendekiawan muslim yang pakar komunikasi ini juga mengajak kita menelaah berbagai wacana keislaman dan fenomena keberagamaan kontemporer: dari cara mengenal Tuhan hingga menjadi manusia, dari fundamentalisme hingga ateisme, dan dari penegakan syariat hingga transparansi sosial.

Adapun beberapa buku Kang Jalal lain yang sudah beredar di pasaran di antaranya adalah: Khalifah Ali ibn Abi Thalib,Rintihan Suci Ahl-bait, Tafsir bi Al-Ma’sur, Zainab al-Qubra, Keluarga Muslim dalam masyarakat Moderen, Komunikasi Antar Budaya; semua buku tersebut diterbitkan oleh Rosdakarya Bandung. Selain itu, banyak juga karya-karya Kang Jalal yang dikompilasikan dengan para penulis lain dan telah diterbitkan. Misalnya, tulisan-tulisan Kang Jalal bisa dibaca dalam buku Kontekstualisasi Doktrin Islam dalam Sejarah (Jakarta: Paramadina, 1994); dan Rekonstruksi dan Renungan Religius Islam (Jakarta: Paramadina, 1996).. []

(Disusun oleh F. Ahmad Gaus dan Ahmad Y. Samantho, dari berbagai sumber)

Amin Rais

Amien Rais:Mungkin ITB bisa Menyumbang Presiden Lagi

Oleh : Redaksi-kabarindonesia

11-Apr-2007, 05:38:54 WIB – [http://www.kabarindonesia.com]

Bandung, KabarIndonesia – Dalam Seminar yang diadakan Kabinet Mahasiswa ITB, Quo Vadis Kemandirian Indonesia di Sabuga (7/04) muncul sebuah pernyataan menarik dari Amien Rais. “Saya tidak akan menjadi calon presiden di Pemilu yang akan datang. Saya akan menyerahkannya pada yang muda–muda saja,” tegas Amien Rais, yang menjadi salah satu calon presiden dalam Pemilu Presiden RI. Amien Rais sebagai calon presiden dari Partai Amanat Nasional pernah mencalonkan diri sebagai presiden sebanyak dua kali, saat Pemilu yang memenangkan Megawati dan presiden sekarang, Susilo Bambang Yudhoyono.

Keengganan Amien Rais untuk meraih kursi presiden lagi tampaknya disebabkan karena faktor usia. “Sekarang ini kita membutuhkan presiden yang berusia muda, seperti Ahmad Dinejad atau Evo Morales, bukan seperti saya yang sudah tua. Saya sekarang sudah berumur 63 (63 tahun—red). Yang muda–muda itu ‘kan biasanya lebih inovatif dan berani,” Amien beralasan. Tapi keengganan Amien ini tampaknya tidak didukung oleh pembicara dan peserta yang hadir. Hal ini terbukti selama acara, pembicara dan peserta banyak yang mendorong Amien Rais untuk maju lagi sebagai calon presiden RI dalam Pemilu tahun depan. “Usia muda memang baik, tapi masih kurang pengalaman. Kami masih membutuhkan Amien Rais,” ujar Jalaluddin Rakhmat, salah satu pembicara dalam seminar. Pernyataan Jalaluddin ini disambut tepuk tangan yang meriah dari para peserta seminar.


Amien Rais dikenal sebagai tokoh reformasi dan selalu vokal dalam menyadarkan kepedulian anak bangsa terhadap tanah pertiwi. Beliau pun membagikan informasi–informasi berharga mengenai kondisi pemerintahan saat ini selama masa kepemimpinannya sebagai ketua MPR RI. Beliau pun memberikan motivasi pada mahasiswa ITB untuk terus menyuarakan kepentingan masyarakat. “ITB sudah menyumbangkan dua presiden, Soekarno dan Habibie. Tidak menutup kemungkinan akan ada lagi presiden dari ITB,” imbuhnya.

Dalam seminar itu, Amien Rais pun menolak Resolusi 1747 Dewan Keamanan PBB mengenai program pengayaan nuklir Iran. Resolusi tersebut menjatuhkan sanksi embargo bagi Iran yang mengembangkan program pengayaan nuklir karena dianggap nuklir yang dikembangkan akan digunakan sebagai senjata pemusnah massal. Penolakan ini disetujui pula oleh Forum Anti Israel Zionis, Garda Kemerdekaan, Masyarakat Universal Lintas Agama yang ikut membidani terselenggaranya seminar tersebut. Banyak peserta pun ikut menandatangani kain putih yang direntangkan di depan gerbang Sabuga sebagai tanda penolakan resolusi itu.(ima)

Berkah AAC

Berkah Ayat-ayat Cinta Rp 1,5 Miliar

Tak ada alasan tunggal mengapa novel itu begitu laris dan, konon, memecahkan rekor best seller di Asia Tenggara.

Habiburrahman El Shirazy duduk tenang di kursi panjang, mendengarkan saran, kritik, pendapat, juga pujian dari hadirin dalam acara Bedah Buku Ketika Cinta Bertasbih 2 (KCB 2) di toko Gramedia Matraman, Jakarta, awal Desember lalu.

Penampilannya yang sederhana –mengenakan kemeja batik katun, bercelana polyester coklat susu, dan hanya bersandal –jauh dari kesan bahwa dialah penulis novel yang menikmati royalti sekitar Rp 1,5 miliar dari karya-karyanya. Salah satu karyanya, Ayat-ayat Cinta (AAC), yang diterbitkan Penerbit Republika sejak Desember 2004, bukan hanya meledak di pasar buku, tapi berkali-kali meledak. “Saya sendiri sampai lupa sudah cetakan keberapa,” tuturnya tersenyum seraya melirik Tommy Tamtomo, Direktur Utama Penerbit Republika, yang duduk di sebelahnya.

Dalam catatan Tommy, sampai Desember 2007 ini AAC memasuki cetakan ke-30. Jumlahnya sekitar 300 ribu buku dan diperkirakan akan terus bertambah. “Permintaan masih terus mengalir. Bulan lalu kami mencetak 10 ribu eksemplar untuk stok pameran buku tahun depan, tapi ternyata malah sudah habis duluan,” kata Tommy.

Ada momen lain yang diperkirakan akan mendongkrak lagi oplah AAC. Novel setebal 420 halaman dan dijual Rp 43.500 per buku itu telah dibuat film oleh MD Enterprais. “Saya sudah nonton preview-nya,” tutur Habiburrahman yang akrab dipanggil Kak Abik atau Kang Habib pekan lalu. Dalam waktu dekat film itu akan diedarkan.

Logikanya, menurut Tommy dan Kang Habib, pasar film dan pasar buku saling mengisi. Tapi, satu hal yang membuat Tommy optimistis bahwa oplah buku itu akan bertambah pada bulan-bulan mendatang: “Banyak orang yang masih penasaran membaca Ayat-ayat Cinta.”

Melihat peluang pasar yang masih terbuka itu, Tommy berencana menerbit AAC edisi luks. “Kami sudah menerbitkan edisi hard cover, dan sekarang stoknya sudah habis,” ujar Tommy.

Dia mengakui, dari sisi pasar, tak ada alasan tunggal mengapa novel itu begitu laris dan, konon, memecahkan rekor best seller di Asia Tenggara. Padahal, ketika bulan-bulan awal novel itu diterbitkan, Desember 2004-Februari 2005, publikasinya sama seperti buku-buku lain terbitan Republika. Tak ada publikasi atau iklan khusus. “Kami hanya memuat iklannya di Harian Republika,” tutur Tommy, mantan Pemimpin Redaksi Harian Republika itu.

Bedanya, sejak buku itu meledak di pasar sekitar Maret 2005, Kang Habib selalu sibuk diundang ke berbagai acara “Jumpa Penulis” sebagai narasumber. Nama acaranya bermacam-macam: “Jumpa Pengarang”, “Bedah Buku”, “Temu Penulis”, atau apa pun, yang intinya novel itu memperoleh sambutan hangat di kalangan pembaca novel di berbagai kota. “Dalam dua tahun ini saya hampir tiap minggu diundang menjadi narasumber di berbagai acara seperti itu,” kata Kang Habib. “Saya sampai lupa entah berapa kali naik pesawat.”

Ayah dua anak –Muhammad Neil Author, 21 bulan, dan Muhammad Ziaul Kautsar, 3 bulan –kelahiran Semarang, 30 September 1976, ini tak ubahnya seorang da’i atau selebritas. “Yang namanya lulusan pondok pesantren, awalnya ngomong buku, lama-lama merembet juga ke soal agama. Bedah bukunya cuma sekali, ceramah agamanya bisa tujuh kali,” tutur lulusan Madrasah Aliyah Program Khusus MAPK Solo (1995) dan belajar kitab Kuning di Pondok Pesantren Al Anwar, Mranggen, Demak, ini tertawa.

Di samping bolak-balik terbang dari Semarang ke berbagai kota, bahkan di luar Jawa dan luar negeri (di Hongkong), untuk menghadiri acara jumpa peulis, Kang Habib selalu disibukkan oleh kegiatan yang layaknya dilakukan selebritas: melayani permintaan tanda tangan dan foto bersama. Ini bukan semacam servis sampingan, tapi sudah menjadi satu paket acara yang, apa boleh buat, tak bisa ditolak. “Dalam sebuah pameran buku, saya pernah menandatangani buku sejak sore sampai jam 09.00 malam,” tuturnya.

Seusai acara bedah buku KCB 2 di toko Gramedia, Matraman, misalnya, belum sempat bangkit dari tempat duduknya, Kang Abik dikerubuti beberapa perempuan berjilbab yang sudah membeli novel itu untuk ditandatangani. Puluhan kali dia menggoreskan tanda tangan dan nama dirinya dalam huruf Arab. “Tanda tangan saya memang begitu,” tutur lulusan Fakultas Ushuludin, Jurusan Hadis, Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir (1999), ini kalem.

Anak pertama dari enam bersaudara keluarga santri pasangan H. Saerozi dan Hj. Siti Rodhiyah ini tampak sabar melayani permintaan tanda tangan para pembacanya. Di saat sibuk meladeni permintaan itu, ada saja di antara mereka yang berusaha duduk mepet-mepet di samping Kang Habib, atau pasang aksi di belakangnya, untuk dipotret bersama. Lalu, dia mengajak istri dan memangku kedua anaknya untuk berfoto ria bersama para penggemarnya. “Selain foto bersama, ketika ada acara di Gontor, sekali gebrak saya menandatangani 400-an buku,” ujarnya tertawa.

Dari kontak dengan pembaca seperti itu, tak jarang berubah menjadi teman dan kemudian menjadi relasi yang akhirnya menjadi saudara dalam lingkaran pergaulan yang mesra. Bagi dia, itu adalah berkah yang wajib disyukuri dan tak terukur oleh rupiah. Ayat-ayat Cinta bukan sekadar novel atau buku. Ia membawa berkah dan rezeki yang tak disangka-sangka. “Orang tua bilang, itulah rezeki untuk anak,” tuturnya. Ketika AAC sedang laris-larisnya, Februari 2006, anaknya yang pertama lahir dan diberi nama Muhammad Neil Author.

Jauh sebelum itu, September 2004, sebelum AAC dipublikasikan, dia berhajat untuk menjadikannya sebagai mahar (mas kawin). “Benar, ketika saya menikah, mahar saya adalah Ayat-ayat Cinta yang masih berupa print-out,” tutur suami Muyasarotun Sa’idah yang mengaku gemar membaca karya-karya beberapa penulis di antaranya Emha Ainun Nadjib, Kuntowijoyo, dan Ahmad Tohari ini.

Sejak masih mengendap dalam kepala, AAC menyimpan beberapa cerita yang mengesankan bagi penulisnya. “Novel itu saya tulis untuk melawan kebosanan dan perasaan tidak berdaya,” tutur Kang Habib yang sedang menempuh program studi Pasca Sarjana Jurusan Hadis (Akademi Pengajaran) Malaya University. Beberapa bulan setelah pulang dari Mesir (2002), dia mengalami kecelakaan lalu-lintas di Yogyakarta. Kakinya patah. “Saya dikarantina oleh ibu saya. Tak boleh keluar rumah. Saya bosan bukan main dan merasa tak berdaya” tuturnya.

Untuk melawan kebosanan itulah, dia berbuat sesuatu untuk membangkitkan semangat hidupnya. “Saya buka komputer dan coba-coba menulis. Eh… ketemulah file lama saya,” ceritanya. File itu adalah sebuah cerpen berjudul Suatu Hari di Musim Panas, yang pernah dia tulis saat kuliah di Kairo. Karena judulnya dirasa tidak menarik, cerpen yang baru dua lembar itu macet di tengah jalan. “Tapi, hikmah, saya dapat mood dan atmosfer musim panas. Wusss… angin musim panas Mesir terasa berembus kuat membakar semangat saya. Terus saja, saya ikuti mood itu,” tuturnya bersemangat.

Di saat itulah, tiba-tiba melenting kata-kata “ayat-ayat cinta” dalam benaknya. Kata-kata itu meluncur ketika suatu hari dia membaca Al Qur’an surat Az Zuhruf ayat 67. “Saya ingat waktu itu tahun 2001. Begitu menemukan kata-kata itu, terpikir oleh saya, suatu saat saya ingin menulis cerita tentang ayat-ayat cinta,” katanya. Dalam bahasa Indonesia, ayat itu berbunyi: “Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain, kecuali orang-orang bertakwa.”

Dalam penafsiran Kang Habib, ayat itu merupakan “undang-undang” untuk saling mencintai. “Kuncinya terletak pada kata-kata ‘kecuali orang-orang bertakwa.’ Itu tinggi sekali maknanya,” ujarnya. Begitu menemukan pintu inspirasi itu, dia mulai mengetik tanpa henti sebulan penuh. “Ketika saya print jumlahnya 313 halaman folio. Entah kebetulan atau tidak, angka itu adalah jumlah sahabat Rasulullah pada saat Perang Badar,” tuturnya.

Naskah itu kemudian dia tunjukkan kepada beberapa teman penulis, antara lain Ahmad Tohari dan Ahmadun Yosi Herfanda. “Rencananya novel itu akan kami terbitkan sendiri, tapi Ahmadun mengusulkan agar dimuat dulu sebagai cerita bersambung di Harian Republika,” tutur lulusan Postgraduate Diploma (Pg.D) S2 The Institute for Islamic Studies in Cairo (2001) ini.

Menurut Ahmadun, redaktur budaya Republika, judul Ayat-ayat Cinta punya daya tarik tersendiri. “Sebelum membaca isinya, saya sudah tertarik judulnya,” katanya. Ceritanya juga sangat layak dimuat sebagai cerita bersambung. “Islami romantis, yang tokohnya bisa diteladani.” Kisahnya tentang seorang mahasiswa Indonesia bernama Fahri yang kuliah di Al Azhar, Cairo. Dia pintar, rajin, ramah, taat beragama, aktivis kampus, dan romantis pula. Ceritanya berpilin antara tokoh utama yang dicintai gadis-gadis –Maria, Noura, Nurul, dan muslimah jelita bercadar ketuturan Jerman-Turki bernama Aisha.

Dalam sastra Indonesia, novel semacam itu sebenarnya masuk pada genre sastra pop. Bagi Kang Habib, novel itu mau dimasukkan atau digolongkan sastra apa pun tidak masalah. “Saya menulis mengkuti ‘rumus umum’ yang berlaku di pesantren,” tuturnya. Rumus dalam bahasa Arab itu berbunyi khotibu annas ‘ala qodri uqulihim. Terjemahan bebasnya kira-kira “bicaralah sesuai kemampuan orang yang kamu ajak bicara.” Menurut Kang Habib, itu kunci komunikasi. “Jadi, saya menulis agar mudah dipahami oleh segmen pembaca,” katanya.

Baru beberapa hari AAC dimuat Republika (April 2004), kata Ahmadun, banyak saran dari pembaca agar diterbitkan. “Publikasi pun menular dari mulut ke mulut. Dan, itu besar sekali pengaruhnya,” ujarnya. Pada saat yang sama, Kang Habib juga menerima permintaan dari beberapa penerbit. “Saya bilang pada mereka, ‘maaf, sudah ada yang minang duluan’,” tuturnya tersenyum.

Bagi Penerbit Republika, AAC juga membawa berkah tersendiri. Popularitas AAC mengatrol buku-buku lain, terutama karya-karya Kak Abik, yang sebelumnya diterbitkan oleh Pesantren Karya dan Wirausaha, Basmala Indonesia, Semarang, pesantren yang didirikan oleh Kang Abik. Pudarnya Pesona Cleopatra, Di Atas Sajadah Cinta, disusul Ketika Cinta Bertasbih 1 & 2, adalah sebagian buku yang masuk deretan best seller.

Untuk tiap buku AAC, menurut Tommy, Kang Habib menerima royalti 12 persen dari harga jual. “Ditotal dengan buku-buku yang lain, jumlahnya sekitar Rp 1.5 miliar,” kata Tommy. “Dalam beberapa bulan ini, tiap bulannya kami mengirim royalti Kang Habib Rp 100 juta.” Kang Habib yang duduk sebelahnya tersenyum dan mengangguk-angguk pelan. “Uang itu sebagian sudah kami belikan tanah untuk pesantren dan sekolah di Semarang,” kata Kang Habib menimpali.

Dia bercerita, pekan-pekan ini sedang menunggu kabar dari penerbit di Kanada dan Autralia. “Setelah diterjemahkan dalam bahasa Malaysia, novel itu rencananya juga akan diterbitkan di Kanada dan Australia. Sudah ada pembicaraan, tapi belum putus,” ujarnya.

Jika tak ada aral melintang, Januari 2008, akan ada acara Napak Tilas Ayat-ayat Cinta ke Mesir. Dengan membayar 1.200 dolar, peserta wisata dapat mengunjungi beberapa lokasi yang dijadikan setting cerita AAC. “Ide itu datang dari para pembaca juga dan sudah banyak yang mendaftar,” kata Tommy. Momennya sekalian memanfaatkan pameran buku internasional di Kairo.

EH Kartanegara

Mang Iwan Fals

Dewa dari Leuwinanggung

Andreas Harsono

Bagaimana Iwan Fals bangkit dari kerusuhan jiwa dan menjadi saksi?

LEUWINANGGUNG adalah sebuah desa yang mirip kebanyakan dusun Pulau Jawa. Di sana ada rumah, sekolah, masjid, klinik, pohon dan bambu, madrasah ibtidaiyah, serta kantor lurah. Tetapi Leuwinanggung tak sama dengan desa-desa lain di Pulau Jawa karena di sana berumahlah seorang dewa …. namanya Iwan Fals.

Dewa ini tinggal di sebuah rumah besar. Tanahnya 6.000 meter persegi. Bagian terbesar dipakai untuk sebuah toko, pendopo, sebuah panggung terbuka, maupun kantor organisasi para penggemar si dewa bernama Oi. Kediaman pribadi dewa ini dilengkapi studio musik, garasi mobil (termasuk bus), rumah tinggal, serta kebun dengan rumput tercukur rapi.

Suatu sore September lalu, Iwan Fals menceritakan perkenalannya dengan Leuwinanggung pada saya. “Tahun 1982 saya cari tanah di sini, maksudnya untuk investasi saja,” katanya. Dia membeli tanah dari rezeki penjualan kaset Sarjana Muda yang diluncurkan 1981 dan terjual 300 ribu buah. Kisah berikutnya, dia sekali-sekali datang dari Jakarta bersama istrinya, mantan model Yos Rosana, menengok tanah mereka serta membawa pulang buah-buahan dari kebun.

Leuwinanggung menarik karena warganya rukun. Kalau ada acara perkawinan, jaipongan, atau kematian, semuanya kumpul. “Bila ada kematian, pengunjung yang datang justru dibayar. Diberi uang. Mereka bahkan sampai ngutang. Dalam hati saya pikir, ‘Gagah amat.’ Saya merasa kecil sekali. Kayak jawara gitu. Ada kegagahan di sini. Kalau mereka datang kenduri, duduk, pandangan ke depan, nggak ditegur ya diam saja. Kalau ada makan ya nggak rakus. Saya kan dulu nggak tahu. Ada makanan ya saya makan,” kata Iwan.

Kalau sedang tak sibuk, Iwan ikut salawatan tiap malam Jumat. “Bahasanya campur Arab, Sunda, Jawa. Ada 20 nomor salawatan lama yang saya kumpulkan.” Salawatan untuk sebuah desa macam Leuwinanggung, yang tanahnya, kapling demi kapling dibeli orang Jakarta, dan anak-anak mudanya mulai kekurangan pekerjaan, bisa jadi kekuatan untuk desa ini. “Kekuatan secara batin, secara spiritual,” kata Iwan.

Leuwinanggung sendiri terletak di daerah Bogor. Penduduk di sana sehari-hari bicara bahasa Sunda kasar. Orang butuh sekitar satu jam naik taksi dari Jakarta ke Leuwinanggung. Daerahnya terpencil. Selewat magrib, jalanan Leuwinanggung sepi dan jarang ada kendaraan. Ketika 16 Agustus lalu saya kemalaman di Leuwinanggung, lewat tengah malam saya jalan kaki empat kilometer untuk mendapatkan tukang ojek.

Ketika itu sekitar 600 penggemar Fals dan penduduk Leuwinanggung merayakan Agustusan bersama. Di sanalah saya menemukan banyak iwan fals. Mereka bergaya ala Fals dengan rambut gondrong, jins belel, memberi salam dan berteriak “Oi.” Suaranya dibuat dalam, agak serak. Di panggung, lagu-lagu Fals dibawakan bergantian, dari yang mirip aransemen aslinya, sehingga mendapat tepuk tangan, sampai yang ditertawakan penonton—dapat tepuk tangan juga.

Yang ditertawakan termasuk seorang pemuda 30-an tahun. Topinya merah, rambutnya gondrong sepundak, kulitnya gelap, giginya putih bersih, dan namanya Fajar Wijaya. Fajar seorang pengamen kelahiran Yogyakarta tapi lebih sering mengamen di Cilegon. “Saya terharu, menjerit, merasa ada panggilan hati. Dapat bimbingan dari lagunya itu,” katanya, mengacu lagu Di Mata Air Tak Ada Air Mata.

“Saya merasa kok ada hikmah tersendiri buat hidup saya. Saya merantau. (Lagu) ini nasihat dalam perjalanan hidup saya. Saya merenungkan jati diri saya,” kata Fajar, tersenyum sembari menarik-narik baju luriknya yang lusuh.

Iwan Fals memang bukan dewa dalam pengertian mitologi Yunani. Mungkin kedewaan Fals lebih dekat dengan fenomena musik 1960-an ketika dinding-dinding kota London dicorat-coret dengan kalimat, “Clapton is god (Clapton seorang dewa).” Mereka yang anonim itu memuja Eric Clapton, gitaris blues Yardbirds yang muncul di Inggris pada 1963. Majalah Rolling Stone menyebut Clapton menonjol karena konsisten menjaga standar mutu karyanya.

Orang yang malam Agustusan itu tak kalah sibuknya dengan Fajar adalah Slamet Setyabudi, koordinator keamanan Oi, yang sehari-hari bekerja sebagai tentara dengan pangkat sersan dua dari Pasukan Pengawal Presiden. Slamet badannya tegap, orangnya ramah. Dia anggota Grup C, yang bertugas mengawal tamu-tamu negara. Dia pernah mengawal Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad dan Presiden Timor Lorosa’e Xanana Gusmao. “Habis dinas saya ke sini,” katanya.

Slamet sesekali membawa rekan-rekannya ke Leuwinanggung untuk bantu keamanan. “Tentara yang penggemar Mas Iwan ini sebenarnya banyak,” katanya. Saya sempat berpikir nakal. Negara Indonesia membayari ratusan tentara untuk mengawal presiden dan wakil presiden. Mereka menerima gaji, sering pergi ke luar negeri, menerima pelatihan, mendapat seragam keren. Tentara yang sama mengawal Iwan Fals dengan gratis!

Malam itu lebih dari selusin pengurus Oi bercerita tentang Fals pada saya. Mereka cerita para penggemar yang terperangah ketika pertama kali menemui Fals. Banyak yang “gila” dengan memeluk, mencium tangan, dan menangisi Fals. Ada yang datang dari Flores, Riau, Jambi, dan sebagainya.

Malam itu saya berharap melihat ritual tersebut. Ratusan penggemar berharap sang dewa muncul. Namun Iwan tetap tinggal di rumah. Dia “meriang, kecapekan” dan dicurigai kena tipus. Dewa ini ternyata manusia biasa yang bisa sakit.

MALAM itu juga ada Muhamad Ma’mun. Seorang lelaki yang menarik. Penampilannya kalem, rambutnya panjang, dan terkadang dipanggil “Romo.” Ma’mun dulu pernah kerja di perusahaan properti tapi sekarang wiraswasta, memborong pekerjaan bangunan rumah. Ma’mun termasuk kenalan dekat Iwan Fals. Dia mengenal keluarga Fals sejak 1985 ketika mulai mondok di sebuah rumah di Jalan Barkah, daerah Manggarai di pusat Jakarta. Rumah itu milik Lies Suudiyah, seorang pekerja sosial dan ibunda Iwan.

Fals waktu itu sudah berkeluarga dan tinggal di Condet. “Panggilan rumahnya Tanto,” kata Ma’mun. Nama lengkapnya Virgiawan Listanto. “Galang masih kecil, belum sekolah, mungkin empat atau lima tahun. Cikal baru bisa jalan,” kata Ma’mun, mengacu pada anak Iwan: Galang Rambu Anarki dan Anisa Cikal Rambu Basae.

Entah kenapa keduanya cocok. Ma’mun usianya tiga tahun lebih tua dari Iwan. Ma’mun kelahiran Solo 1958 sedang Iwan Jakarta 1961. Mungkin mereka punya karakter dasar yang sama. Keduanya orang yang tak ragu mempertanyakan apapun. Saya terkesan dengan kerendahan hati mereka. Ketika mondok, Ma’mun bekerja sebagai pegawai PT Pembangunan Jaya sementara Iwan sudah mulai dikenal sebagai penyanyi. Persahabatan mereka berlanjut hingga sekarang. Ma’mun termasuk orang yang diminta Iwan jadi pengurus Yayasan Orang Indonesia—yayasan sosial yang dibentuk dan diketuai Iwan sendiri.

Pengalaman berkesan Ma’mun terjadi ketika mereka lagi membaca harian sore Sinar Harapan yang memuat foto anggota-anggota parlemen ketiduran saat sidang. “Wah, ini perlu disentil To,” kata Ma’mun.

Iwan menyanding gitar dan Ma’mun membawa pena. Mereka bekerja mencari lirik dan musik. Semalaman mereka bekerja. Hasilnya, lagu Surat Untuk Wakil Rakyat yang dimasukkan dalam album Wakil Rakyat (1987). Ma’mun bangga dengan karya bersama ini apalagi ketika mahasiswa menjadikan lagu itu “lagu wajib” demonstrasi. Hingga kini Ma’mun rutin mendapatkan kiriman uang royalti dari Musica—produser dan distributor sebagian besar album Fals.

Ma’mun menilai temannya itu sebagai salah satu penyanyi kritik sosial terkemuka di Indonesia. Iwan menggunakan bahasa Indonesia, untuk bercerita tentang anak maling yang jadi maling, sunatan massal, pelacur, korupsi, nasib guru, dan sebagainya. Majalah Time Mei lalu menyebutnya “pahlawan Asia”—sejajar dengan Jackie Chan, Xanana Gusmao, dan Aung San Suu Kyi.

Kalau artis lain menjaga penampilan mereka lewat make up menyala, potongan rambut aneh, kostum unik, atau operasi plastik untuk memperindah diri, Iwan Fals tampil biasa. Beberapa kali saya menyaksikan Iwan memakai kaos Shanghai, kaos katun tipis dan lembut, yang harganya Rp 10 ribu selembar, saat konser. Orang toh tetap histeris melihatnya. Iwan mungkin punya kharisma.

Amir Husin Daulay, seorang aktivis mahasiswa 1980-an dari Yayasan Pijar, menyebut Fals “nabi buat para pengikutnya.” Pada 1983, Daulay mengundang Fals mengamen ke kampus Akademi Ilmu Statistik. Iwan datang bersama Yos, membawa gitar, menyanyikan empat lagu, dan mendapat honor Rp 400 ribu. Pengalaman mengamen, yang dilakukannya bertahun-tahun, melatih Iwan menghadapi massa, dari pentas ke pentas, sehingga tahu bagaimana mengatur dirinya sendiri, bagaimana mengatur suara, mana yang disukai, mana yang tak disukai.

Persahabatan Ma’mun dan Iwan meningkat seiring karier mereka berdua. Antara Sarjana Muda hingga album Antara Aku, Kau, dan Bekas Pacarmu pada 1989, Iwan menghasilkan 13 album bersama Musica. Artinya, hampir satu album tiap enam bulan. Ini luar biasa.

Pada 1989 Iwan menerbitkan album Mata Dewa bersama Arena Indonesia Production (Airo). Mereka berniat mengadakan tur 100 kota. Konser perdana 26 Februari 1989 di Jakarta berjalan baik tapi buntutnya sebelas kendaraan bermotor dirusak. Mengapa kerusuhan terjadi? Sampai hari ini belum ada penjelasan rinci. Apa polisi kurang profesional? Atau Arena Indonesia Production kurang siap? Atau Fals mengeluarkan kalimat-kalimat yang memprovokasi massa?

Tapi tur jalan terus ke Pulau Sumatra. Sore hari 9 Maret 1989, Ma’mun dan Iwan Fals berada di sebuah hotel di Palembang. Keesokannya, Iwan bakal tampil di konser Mata Dewa. Sehabis makan malam, Ma’mun dan Iwan masuk kamar. Di depan cermin, mereka bicara soal persiapan konser.

Gayane ngene yo? (Gayanya gini ya?)” tanya Iwan, sambil memegang gitar akustik.

Ojo ndingkluk. Rodo ndegek (Jangan menunduk. Agak membusung),” kata Ma’mun. Iwan pun mengubah gayanya memegang gitar.

Nek penyanyi rock ngene lho! (Kalau penyanyi rock begini lho!)” kata Ma’mun, mengambil gitar dan memberi contoh.

Mereka diskusi sebelum tidur. Keesokan harinya, Sofyan Ali, promotor Arena Indonesia Production, memberi kabar buruk. Polisi Palembang memberitahu ada radiogram dari markas polisi Jakarta. Mereka melarang Fals melanjutkan tur guna menghindari kekacauan. Padahal alat-alat sudah siap, panggung sudah siap. Rencana pertunjukan Palembang, Padang, Jambi, Medan, dan Banda Aceh dilarang. Iwan menangis. “Buat Iwan panggung adalah kehidupannya. Dia jadi hidup kalau di panggung,” kata Ma’mun.

Ironisnya, polisi melarang ketika belum ada penelitian tuntas mengapa keributan Jakarta terjadi. Di mana-mana kumpulan massa punya potensi ribut, dari massa sepak bola hingga musik. Ini tak berarti orang dilarang main bola atau nonton musik bukan? Bagaimana kebudayaan manusia akan maju kalau khawatir ribut? Bukankah polisi dibayar, bahkan negara diadakan, agar kebudayaan bisa maju, agar demokrasi bisa berkembang?

Lebih susah lagi. Di Indonesia, banyak orang malas berpikir, banyak wartawan malas melakukan reportase, dan lebih banyak lagi orang yang suka mengembangkan teori “pihak ketiga.” Di mana-mana ada teori ini. Buruh dilarang demonstrasi karena ditunggangi “pihak ketiga.” Mahasiswa bikin rusuh karena “pihak ketiga.” Saya mempelajari laporan berbagai suratkabar Indonesia dan melihat ada tiga teori “pihak ketiga” di balik pembredelan Mata Dewa.

“Pihak ketiga” pertama adalah “mafia Glodok” yang meminjam tangan polisi untuk mematahkan gaya distribusi kaset ala Sofyan Ali. “Mafia Glodok” adalah sebutan untuk industri rekaman yang berpusat di Glodok, Jakarta. Mereka kebanyakan dikelola pengusaha Indonesia etnik Tionghoa dan dianggap kurang menghargai seni, kurang menghargai musisi, tapi menguasai distribusi kaset. Spekulasi ini datang karena Iwan Fals pindah dari Musica ke tempat Sofyan Ali.

“Pihak ketiga” kedua adalah “industri rokok tertentu” yang meminjam tangan polisi guna menjegal pemasaran rokok Djarum—sponsor utama Mata Dewa. “Pihak ketiga” ketiga adalah pejabat-pejabat “tertentu” yang tak senang dengan kritik sosial Fals.

Tak ada bukti kuat untuk mendukung ketiga teori itu. Tapi cukup banyak alasan mengatakan ketiganya spekulatif. Iwan tak sepenuhnya pindah dari Musica karena ia juga mengerjakan lagu Kemesraan bersama artis Musica. “Saya merasa bersyukur punya partner Musica,” kata Iwan pada saya. Bisnis musik juga kecil sekali dibanding bisnis rokok. Raksasa industri rokok Djarum (Kudus), Sampoerna (Surabaya), Gudang Garam (Kediri), dan BAT (Jakarta) memang bersaing tapi juga bergabung dalam suatu kartel. Promosi lewat Fals memang penting tapi hanya sebagian kecil dari promosi Djarum. Keuntungan Djarum tahun lalu saja sebesar Rp 2,08 triliun atau hampir dua kali lipat omzet semua industri rekaman Indonesia. Siapa pejabat yang tak suka Fals? Setiawan Djody, rekanan bisnis Sofyan Ali dan salah satu pemegang saham PT Airo Swadaya Stupa, juga dekat dengan kalangan pejabat. Mengapa tak ada yang bicara dengan Djody?

Di Palembang tak ada verifikasi dan tawar-menawar. Kekuatan negara Orde Baru sangat kuat. Jangankan Iwan Fals. Protes dari hampir semua organisasi nirlaba di Indonesia, terhadap penggenangan desa-desa calon waduk Kedung Ombo bulan sebelumnya, juga diabaikan rezim Soeharto. Bank Dunia, yang mendanai Kedung Ombo, tak berbuat banyak melihat puluhan ribu petani mengungsi menyelamatkan harta dan nyawa. Iwan melawan. Dia jalan sendirian ke Padang, Jambi, dan lainnya, untuk memberitahu publik dia tak bisa memenuhi janji karena dilarang polisi. Ma’mun pulang ke Jakarta membawa pulang peralatan dengan delapan truk. “Pakaian saya bawa, kopernya saya bawa pulang. Dia cuma bawa pakaian satu.”

Di Jakarta, pelarangan itu juga memprihatinkan musisi lain. Sawung Jabo, musikus dari komunitas Sirkus Barock, menelepon Iwan untuk menyatakan simpati. Iwan pernah ikut pementasan Sirkus Barock pada 1986.

“Saya lupa persisnya. Suatu malam Iwan datang ke rumah saya di Pasar Minggu, yang notabene rumah tempat kami sering ngumpul. Iwan menawarkan untuk membuat album,” kata Jabo.

“Pada awalnya Iwan, kalau tidak salah mengusulkan nama Septiktank, tapi saya dan beberapa kawan menolaknya. Lalu kita mengusulkan nama yang kami pilih lewat lotere. Setelah diundi terpilihlah nama Swami, yang kebetulan nama itu usulan saya.” Ini plesetan dari kata “suami” karena mereka semua sudah beristeri.

Rata-rata awak Swami pernah terlibat Sirkus Barock. Baik pemain flute Naniel, pemain gitar bass Nanoe, pemain piano Tatas, apalagi drummer Inisisri yang banyak memberi warna musik Sirkus Barock. Hanya Jockie Suryoprayogo dan Totok Tewel agak baru di Sirkus Barock.

Mereka pun bekerja. Lagu paling spektakular berjudul Bento. Iwan sempat mengajak Ma’mun pergi ke studio tempat mixing dan minta komentar tentang Bento. Ma’mun berkomentar, “Wah, ini kayak virus. Ini cepet nyebarnya.”

Iki piye Mas? (Ini bagaimana Mas?)” tanya Iwan.

Apik. Virus kabeh (Bagus. Virus semua).”

Iwan dan kawan-kawan senang. Mereka makan nasi bungkus sembari mengobrol hingga pagi.

Bento diciptakan Iwan dan Naniel. Liriknya tentang seorang pengusaha serakah dan korup. Bisnisnya “menjagal apa saja” asal dia senang dan persetan orang susah. “Bento” sendiri artinya “goblok” dalam dialek Jawa Timuran. Ketika mengarang Bento, Iwan sempat memperhatikan seorang pengusaha, yang kaya dan kejam, punya rumah real estate. Karakter Bento dibuatnya dari pengusaha ini. “Tapi saya nggak perlu sebut (namanya). Saya nggak kenal pribadi, kenal jarak jauh,” katanya pada saya.

namaku Bento, rumah real estate
mobilku banyak, harta melimpah
orang memanggilku bos eksekutif
tokoh papan atas, atas segalanya, asyik

Sawung Jabo membantu aransemen lagu tersebut, “Saya memasukkan unsur tema lead accoustic,” katanya. Ketika beredar ke pasar, Swami memang ibarat virus. Lagu Bongkar juga jadi salah satu hit. Mula-mula media sempat bertanya-tanya apakah TVRI bersedia menyiarkan Swami. TVRI waktu itu satu-satunya stasiun televisi di Indonesia. TVRI sepenuhnya dikuasai rezim Soeharto. Ternyata tanpa ada keistimewaan, Bongkar muncul pada 13 Maret 1990. Ini mengejutkan banyak wartawan musik. Sekali lagi teori “pihak ketiga” tidak laku.

PADA Maret 1990 rombongan Swami datang ke Salatiga: Sawung Jabo, Iwan Fals, Naniel, Nanoe, Inisisri, penyair W.S. Rendra, pengusaha Setiawan Djody, dan sebagainya. Salatiga sebuah kota kecil di tengah Pulau Jawa yang pada 1980-an secara politik cukup dinamis.

Media banyak memperhatikan kedatangan mereka. Bagaimana tidak? Djody miliuner kapal tanker yang dekat dengan keluarga Soeharto. Rendra seorang penyair, mungkin yang terbaik di Indonesia, yang beberapa kali masuk tahanan Orde Baru. Jabo pemusik yang sering bikin eksperimen bermutu. Iwan sendiri dianggap makin memberontak sejak Palembang. Sebuah kolaborasi unik.

Orang yang berperan mendatangkan Swami ke Salatiga adalah Endi Agus Riyono A.S. atau biasa disingkat Endi Aras—seorang mantan aktivis mahasiswa Universitas Kristen Satya Wacana di Salatiga dan wartawan majalah Film di Jakarta. Endi orangnya ramah, rambut bergelombang sebahu, murah senyum, pandai bergaul, suka musik, dan suka ikut kepanduan. Juli lalu ketika saya mewawancarai Endi, penampilannya tak banyak berubah, walau perutnya agak buncit, sudah berkeluarga, serta memiliki perusahaan sendiri Matamata Communications yang bergerak di bidang public relation dan event organizer.

Endi bertemu Iwan pada 1985 ketika ia diutus rekan-rekannya menghubungi Iwan agar menyanyi dan ceramah di kampus Satya Wacana. “Aku disuruh cari ke Jakarta,” kata Endi. Mulanya Endi cari di Musica tapi tak ada dan ketemunya di Condet. Iwan keberatan datang ke Salatiga, “Aku nggak bisa ngomong,” kata Iwan.

Iwan merekomendasikan penyanyi balada lain. Endi penasaran. Endi pengagum Fals dan punya koleksi lengkap album Fals. Endi pun menulis surat kepada Iwan dan dibalas pakai tulisan tangan. “Apa yang diomongin sama yang dipikir, lebih cepat yang dipikirin,” kata Endi, menerangkan keengganan Iwan tampil pada fora akademik.

Kejadian itu membuka perkawanan Endi dan Iwan. Pada 1989 Endi bekerja di majalah Film. Sebagai wartawan ia menulis soal Iwan. Ini praktik biasa di kalangan wartawan musik Indonesia—menjalin pertemanan dengan sumber-sumber mereka. Endi dan Iwan sering telepon-teleponan. “Ndi kamu ke sini,” ujar Iwan. Bila Endi dolan ke tempat Iwan, mereka bisa mengobrol dari siang sampai malam. Mereka juga sering naik mobil, mengobrol, mengelilingi jalan tol. “Iwan itu senang kalau ada teman ngobrol,” kata Endi.

Endi membawakan buku-buku untuk Iwan. Misalnya Catatan Harian Seorang Demonstran tentang Soe Hok Gie, aktivis mahasiswa 1960-an yang ikut mengatur demonstrasi anti-Presiden Soekarno, yang meninggal keracunan gas di Gunung Semeru pada 1969.

Endi juga memberikan selebaran-selebaran gelap. Iwan tertarik karena ia simpati pada orang tertindas. Pada 1980-an ketidakpuasan warga Indonesia terhadap rezim Soeharto makin tinggi. Anak-anak Soeharto beranjak dewasa dan terlibat dalam bisnis, dari monopoli cengkeh hingga jalan tol. Militer juga makin kuat mengontrol kehidupan warga walau di sana-sini ada gesekan internal antara militer hijau (muslim) dan militer merah putih (nasionalis).

Di Salatiga Endi sering menginap di kantor Yayasan Geni—sebuah organisasi nirlaba yang banyak terlibat gerakan protes. Satya Wacana 1980-an juga kampus yang memberikan tempat untuk pemikiran kritis, antara lain karena pengaruh dosen-dosen liberal macam Arief Budiman, seorang doktor lulusan Universitas Harvard, kakak kandung Soe Hok Gie, yang getol bicara Marxisme, negara, masyarakat, demokrasi, dan acapkali diwawancarai media. “Iwan ngefans sama Arief Budiman,” kata Endi.

Budiman dekat dengan mahasiswa, antara lain dengan Stanley, panggilan seorang aktivis mahasiwa yang nama lengkapnya Yosep Adi Prasetyo. Stanley kawan dekat Endi. Budiman sering mengajak Stanley, Endi, dan mahasiswa lain ikut diskusi. Dari Stanley pula Endi menerima selebaran gelap dan buku. Endi menyampaikannya pada Fals.

Ketika Swami mengeluarkan album, Endi menawari Swami pergi ke Salatiga. Pucuk dicinta ulam tiba. “Biaya dari Djody semua, panitia hanya ngurus tempat. Kita agendakan ngobrol-ngobrol di rumah Arief Budiman,” kata Endi.

Mereka datang lebih awal dan mengadakan dua diskusi. Diskusi agak besaran diadakan di sebuah guest house milik Satya Wacana, sebuah rumah kolonial peninggalan Belanda, yang luas dan megah. Rumah itu dipakai Djody dan peragawati Regina Sandi Harun, istri muda Djody. Diskusi agak kecil diadakan di rumah Budiman sembari makan malam. Rumah ini terletak dekat sungai, dibangun dengan konsep terbuka, menggunakan bambu, dan dijaga beberapa ekor angsa. Budiman mengundang cendekiawan setempat, antara lain pendeta Broto Semedi, Stanley, dan beberapa mahasiswa lain untuk diskusi dengan rombongan Jakarta. Saya kebetulan ikut diundang.

Kami bicara santai, bersila, duduk dengan tikar. Arief Budiman memancing Iwan Fals untuk masuk ke dunia aktivis. “Seniman harus tahu politik,” katanya. Budiman cerita soal Victor Jara dari Chile, pendukung Presiden Salvador Allende, yang terbunuh ketika Jenderal Augusto Pinochet mengudeta pemerintahan sosialis Allende pada 1973. Budiman mengerti Chile dengan baik karena tesisnya di Universitas Harvard tentang kegagalan Allende memakai sosialisme. Victor Jara seorang pemusik popular mirip Fals. Lagu-lagu Jara penuh kritik sosial. Jara juga main gitar akustik. Jara mati bersama dengan Allende.

Saya punya kesan Iwan enggan atau malu menanggapi Budiman. Iwan lebih banyak diam. W.S. Rendra, teman lama Budiman, lebih banyak bicara dengan gayanya yang teatrikal. Rendra khusus memperkenalkan kami kepada Djody yang disebutnya sebagai seorang pengusaha-cum-seniman. Rendra mendominasi pembicaraan malam itu dengan sekali-sekali ditanggapi Djody, dan Sawung Jabo. Leila Ch. Budiman, istri Arief, jatuh hati pada Iwan yang disebutnya “anak manis.”

Salah satu isu sampingan yang mereka diskusikan adalah kejengkelan Rendra dan kawan-kawan terhadap industri rokok. Mereka jengkel pada industri ini—yang sering jadi sponsor utama konser-konser musik—karena seenaknya menempelkan pesan sponsor di panggung. Logo rokok dipasang di pusat panggung. Mereka memaki-maki industri rokok karena mengganggu estetika. Mereka mengatakan sulit untuk tak menerima sponsor rokok karena kontribusi mereka besar tapi jangan begitu caranya.

Ironisnya, mereka kurang tertarik mendiskusikan dampak rokok pada anak-anak muda penggemar mereka. Mungkin karena mereka sendiri perokok berat. Iwan juga perokok. Suratkabar-suratkabar setempat memberitakan protes ini. Diam-diam beberapa mahasiswa melihat para tamu Jakarta ini, bukan saja mengisap rokok, tapi juga ganja.

Saya tak mau menghakimi. Beberapa teman saya juga menggunakan ganja dan biasa-biasa saja. Saya kira isu ganja bukan soal benar atau salah. Ganja mirip dengan rokok. Ia tak mematikan. Ganja berbeda dengan obat-obatan kimiawi macam narkotik, esctasy, atau putauw yang bisa berakibat fatal kalau kelebihan.

Iwan mengakui memakai ganja sejak Palembang. “Habis gimana? Murah, bisa beli di mana-mana, enak?” Jabo tak mau berkomentar soal ganja. Dalam lingkungan Swami, mengisap ganja mendapat semacam legitimasi karena dianggap biasa. Djody dan Rendra juga saya lihat mencoba daun ganja yang dilinting kecil.

“Tadinya mau kayak (penyanyi reggae) Bob Marley, punya kebun ganja sendiri. Nyanyi, ganja, nyanyi, ganja. Tapi kan dilarang hukum, (dilarang) agama. Dalam hidup ini, orang yang nggak mabuk lebih banyak dari yang mabuk,” kata Iwan.

Kresnowati, seorang mahasiswa Satya Wacana dan kenalan Endi, ikut jadi panitia. Wati tak melihat ganja tapi terkejut menyaksikan awak Swami, termasuk Iwan, menggoda dan menjahili mahasiswi. “Ya … kok gini?” pikirnya.

Wati menghibur diri dengan berpendapat Iwan laki-laki biasa. “Manusia biasa yang punya talenta luar biasa.”

Menurut kawan-kawannya, periode ini cukup liar untuk Iwan Fals. Yos Rosana memutuskan pakai jilbab. “Dia bilang panggilan sebagai seorang muslim. Dia ingin memberikan contoh pada Iwan dan anak-anak untuk lebih ingat agama,” kata Fidiana, istri pemain kibor Iwang Noorsaid, pasangan yang berteman dengan keluarga Iwan. Yos juga agak khawatir pada pengaruh W.S. Rendra, orang yang dianggap guru oleh Iwan, tapi punya reputasi agak longgar dalam urusan perempuan. Rendra menikah tiga kali. Djody juga baru menikahi Sandi Harun. “Iwan kan good looking!” kata Wati.

Malam yang dinanti-nantikan pun datang. Swami main di Lapangan Pancasila Salatiga. Malam itu saya ikut menonton dan ikut bernyanyi, “Bento, bento, bento.” Saya merasakan adanya semangat perlawanan di sana dan bersyukur Indonesia punya musisi macam mereka. Endi mungkin warga Salatiga yang paling bahagia malam itu.

SAMBUTAN hangat membuat Swami plus Setiawan Djody tertarik maju lagi. Mereka mendirikan kelompok baru dengan nama Kantata Takwa. Perbedaan personalia Swami dan Kantata Takwa terletak pada W.S. Rendra dan Djody.

Djody jadi bos sekaligus pemain. Rendra memakai syair-syairnya, termasuk puisi “Kesaksian” yang terkenal itu, untuk dilagukan Kantata Takwa. “Rendra tidak sekadar membuat lirik, tapi lebih dari itu. Kadang dia sebagai alat kontrol pada proses kreatif kami. Rendra pulalah yang memberikan judul ‘Kantata Takwa.’ Rendra ikut memberi warna dan bentuk yang jelas pada Kantata Takwa. Terutama pada saat pementasannya,” kata Sawung Jabo.

Djody mengeluarkan uang tapi agak tersinggung kalau dianggap keberadaannya semata-mata karena duit. Pada 1990, Djody pernah mempersilakan saya datang ke rumahnya di daerah Kebagusan, Jakarta Timur, melihat latihan Kantata Takwa. Djody cerita masa lalunya di Solo ketika jadi gitaris sebuah kelompok musik rock. Orangnya flamboyan, rambutnya tersisir rapi, kulitnya bersih, pakaiannya bagus. Rumahnya besar sekali. Besar sekali. Ruang keluarga, yang menghadap kolam renang, diubah jadi tempat latihan band. Di sana ada lukisan Djody besar sekali. Saya menduga karya maestro Basuki Abdullah.

Djody cerita bisnisnya dengan Sigit Harjojudanto, putra sulung Soeharto, maupun Eka Widjaja dari kelompok Sinar Mas. Dia juga cerita pergaulannya dengan Jenderal Benny Moerdani, mungkin orang terkuat kedua di Indonesia sesudah Presiden Soeharto waktu itu. Moerdani dinilainya pintar dan tahu seni. Tak ada rasa takut dalam cerita Djody. Dia cerita isu yang agak pribadi tentang Moerdani. Bisnis adalah bisnis. Seni adalah seni. Djody mencintai keduanya.

Namun tak semua orang suka dengan kolaborasi ini. Beberapa penggemar Fals dan wartawan musik menilai periode ini keiwanfalsan Iwan menurun. Ada yang menilai Iwan lebih vulgar. Teori “pihak ketiga” lagi-lagi dipakai. Ada yang menyalahkan Sawung Jabo. Dulu lirik Iwan lebih puitis. “Setelah gabung dengan Jabo lebih keras, Jabo kan suka main hantam?” kata fotografer Idon Haryana, menirukan analisis wartawan tabloid Detak A.S. Laksana. Banyak juga yang curiga pada W.S. Rendra. Lebih banyak lagi yang curiga pada Djody.

Muhamad Ma’mun mengatakan, “Secara eksplisit saya sampaikan, ‘Saya nggak suka sama Mas Djody.’ Saya sampaikan pada Iwan. Sampai beberapa tahun, saya masih ngomong nggak suka. Saya nggak pernah sekali pun ketemu Djody. Diajak ketemu Djody tapi nggak mau.”

Menurut Sawung Jabo, kalau Djody diragukan integritasnya, Iwan pun tak mau membela atau menjelaskan, karena dia sendiri “tidak tahu.” “Intinya kami bersama telah berbuat sesuatu, silahkan masyarakat menilainya sendiri. Apakah yang kita kerjakan bersama itu ada gunanya atau tidak?”

Ma’mun menganggap musik Kantata Takwa, yang memakai koor, synthesizer, dan kecanggihan lain, tak cocok untuk Iwan. “Ini bukan kemajuan. Yang dikenal orang di gang-gang, di pasar-pasar, ya lagu-lagu yang dulu. Karya besar nggak harus yang susah dibawakannya.”

Ma’mun mengacu pada lagu-lagu Koes Plus dan The Beatles. Dia menyebut lagu Imagine karya John Lennon. Aransemennya sederhana tapi nilainya tinggi. Ma’mun berpendapat karya-karya abadi aransemennya sederhana dan mudah dimainkan orang.

Rekaman album Kantata Takwa jalan lancar. Menurut Jabo, Rendra terlibat mulai dari gagasan awal. “Saya baru terlibat masuk di pertengahan proses pembuatan materi lagu, sebelum dimulainya proses rekaman di Gin Studio.” Lagu andalan mereka berjudul Kantata Takwa yang dibuka dengan dzikir. Albumnya diedarkan awal 1990. Sampulnya bergambar Djody, Rendra, Iwan, Jabo, dan Jockie Suryoprayogo. Ada satu kalimat berbunyi, “Setiawan Djody mempersembahkan Kantata Takwa.” Ini menimbulkan kesan album ini “hanya” persembahan Djody—bukan Rendra, bukan Iwan, bukan Jabo, bukan Suryoprayogo. Saya kira pilihan ini kurang bijak.

Pertunjukan Kantata Takwa di stadiun Senayan pada 23 Juni 1990 termasuk salah satu konser musik terbesar yang pernah diadakan di Jakarta. Media memberi perkiraan yang berbeda-beda. Ada yang memperkirakan penontonnya 100 ribu orang tapi ada juga yang 150 ribu. Sulit untuk tahu mana yang lebih akurat karena metode perhitungannya tak jelas. Kapasitas stadiun Senayan sendiri sekitar 90 ribu.

Tapi berapa pun jumlahnya, penontonnya memang banyak sekali. Mereka memakai lampu laser, bom asap, sound system raksasa, panggung spektakular. Atmakusumah Astraatmadja, mantan redaktur pelaksana harian Indonesia Raya dan kini ketua Dewan Pers, termasuk salah satu penonton. Putra sulungnya seorang pemanjat tebing, yang ikut dalam tim yang bertugas menyelamatkan pemain Kantata Takwa bila terjadi kerusuhan. Mereka memasang tali-temali dan bisa meluncur ke tengah panggung bila ada keributan.

Astraatmadja gelisah melihat massa sebanyak itu. Lelaki tua, yang mendampingi empat remaja ini, masuk ke Senayan dengan bantuan polisi. “Itu sebuah perlawanan kultural, bukan saja oleh Iwan dan kawan-kawan, tapi juga para penonton,” kata Astraatmadja. Dia menilai perlu keberanian luar biasa untuk menyanyikan Bento.

Setiawan Djody, si pengusaha kapal tanker, tampil main gitar listrik, seraya memekik-mekik. “Saya heran kok berani-beraninya Setiawan Djody itu,” kata Astraatmadja.

Endi Aras mengatakan Djody membiayai semuanya Rp 1 miliar lebih. Ma’mun menanggapinya dengan lebih hati-hati. Iwan dianggap bergaul dengan orang-orang yang terlalu liberal untuk ukuran keluarganya. Selesai Kantata Takwa, Iwan melanjutkan Swami II yang beredar 1991. Album ini kurang sukses. Sambutan jauh lebih kecil dari Swami. “Saya sudah bilang pada Iwan, ‘Jangan kamu ulangi lagi,’” kata Ma’mun.

Endi Aras mulai masuk lingkaran kecil Iwan Fals pada 1994 ketika ia diminta jadi manajer Iwan. Tanggung jawab Endi serabutan dan dasarnya pertemanan. Kalau ada permintaan konser, Endi yang berhubungan dengan panitia, mengurus pembayaran, menyewa alat, dan sebagainya. Honor Iwan sekali pertunjukan Rp 6 juta. Endi tak menerima bayaran rutin. Kalau ada pekerjaan dia diberi “uang transport.”

Endi juga jadi manajer produksi album Hijau. Di sini Iwan memakai dua pemain kibor: Iwang Noorsaid dan Bagoes A.A. Mereka banyak diskusi agar album ini secara artistik bagus. Lagu-lagu tak diberi judul. Hanya Lagu 1, Lagu 2, Lagu 3, Lagu 4. Endi dan pemusik lain kurang setuju tapi semuanya kalah argumentasi dengan Iwan. “Biar agak lain saja,” kata Iwan.

Endi tambah stres karena produser Handoko dari Harpa Record dan Adi Nugroho dari Prosound bersaing membeli master album Hijau. Mereka tawar-menawar. Endi lapor ke Iwan soal tawar-menawar ini. Iwan malah tersinggung albumnya ditawar-tawar. “Wah Ndi, masternya dibakar saja,” kata Iwan. Gantian Endi yang jengkel karena merasa kurang dihargai. Endi dua hari sekali menemui Iwan, yang sudah pindah ke Cipanas, dua jam naik mobil dari Jakarta. Mereka akhirnya menerima harga Prosound Rp 365 juta termasuk sampul dan video clip. Endi mendapat Rp 10 juta dari anggaran Rp 65 juta untuk biaya produksi.

Sampul kaset dibikin disainer Dick Doang dominan hijau dengan menggunakan foto beberapa anak kecil bermain lompat-lompatan. Iwan tak mau namanya ditonjolkan. Dia tak mau sampul ada fotonya. Menurut Endi, Iwan berpendapat status mereka sama, delapan orang pemusik. Iwan mau nama Iwang Noorsaid, Bagoes A.A., Cok Rampal, Jalu, Ari Ayunir, Heiri Buchaeri, Jerry Soedianto, dan Iwan Fals dicetak semuanya pada sampul. Dick Doang, juga seorang penggemar Iwan, setuju usul itu. Konsekuensinya, nama-nama musisi dicetak dengan font kecil. Endi kurang setuju dan khawatir kasetnya kurang laku.

Saya tanya pada Endi, kalau Iwan mau setara, bagaimana pembagian honornya? Endi tersenyum dan bilang Iwan “curang” karena honor musisi Rp 300 juta dibagi dua: 40 persen Iwan dan 60 persen tujuh musisi sisanya. Artinya, Iwan dapat Rp 120 juta sedang lainnya rata-rata dapat Rp 25 juta.

Selama mengerjakan Hijau, Iwan berhenti mengganja, berhenti merokok, dan mulai salat. Hari-hari di Cipanas dipakai untuk “rehabilitasi.” Iwan tahu membuatnya tak bisa “panjang nyanyiannya.” Tubuhnya bentol-bentol, emosinya labil. Endi mengatakan ini periode “komunitas bersih” karena beberapa pemain, termasuk Noorsaid dan Heiri Buchaeri, rajin salat dan hidupnya sederhana. Kresnowati mengatakan ada juga musisi Hijau yang “pemakai berat ganja.”

Perubahan Iwan juga mengubah Karno, asistennya yang setia, yang biasa membantu Iwan untuk urusan pribadi, mulai mengatur instrumen musik hingga menyiapkan lintingan ganja. “Karno lebih seniman dari Iwan. Dia nggak menikah, mungkin karena nggak dapat-dapat, dan penggemar Iwan,” kata Wati.

Hijau diluncurkan 1992. Tak terlalu meledak di pasar. Endi kecewa, merasa kurang dihargai. Endi mundur dari pekerjaannya. “Endi punya kekaguman yang sangat pada Iwan. Tapi juga kekecewaan. Ngatur dia itu ruwet,” kata Kresnowati.

KETIKA Galang lahir pada 1 Januari 1982 si bapak, yang perasaannya campur-aduk karena pertama kali merasakan diri jadi ayah—merasa harus bertanggung jawab, merasa mencintai, heran, bahagia, bangga punya keturunan dan sebagainya—menciptakan lagu berjudul Galang Rambu Anarki. Lagunya cukup terkenal dan masuk album Opini (1982).

Galang tumbuh jadi anak cerdas. Endi Aras sering main tembak-tembakan dengan Galang. Muhamad Ma’mun punya karakter rekaan yang sering diceritakannya pada Galang. Namanya “Gringgrong”—seorang jagoan “kayak Tarzan” yang bisa mengalahkan harimau, naik kuda, dan mengalahkan musuh. Tiap kali Ma’mun datang menginap, cerita Gringgong ditagih Galang. Di Condet hanya ada dua kamar, “Kalau saya nginep, Galang tidur sama bapaknya,” kata Ma’mun.

Ketika beranjak remaja, Ma’mun melihat Galang badannya bagus, berbentuk. Galang bukan tipe anak hura-hura. Kalau minta uang paling buat bayar taksi pergi ke sekolah. “Untuk beli-beli dia nggak punya uang,” kata Iwan. Galang juga besar tekadnya. Suatu saat Galang, yang belum bisa menyetir mobil dan tak punya surat izin mengemudi, ingin bisa mengendarai mobil. Solusinya? Galang mengendarai mobil sekaligus dari Jakarta ke Pulau Bali!

Tapi kekerasan Galang suatu hari membuat Iwan angkat tangan. Dia datang ke Ma’mun, “Mas gimana nih, Galang nggak mau sekolah lagi?”

“Terus maunya apa?”

Embuh, main musik atau buka bengkel.”

Galang memutuskan keluar dari SMP Pembangunan Jaya di Bintaro, yang terletak dekat rumah dan termasuk salah satu sekolah mahal di Jakarta. Iwan sering pindah rumah dan waktu itu tinggal di Bintaro. Hingga Leuwinanggung ia sudah pindah rumah 12 kali. Usia Galang 14 tahun dan sedang memproduksi rekamannya yang pertama bersama kelompok Bunga. Iwan tak bisa berbuat banyak dan membiarkan Galang putus sekolah.

Galang pernah juga kabur meninggalkan rumah. Dalam pelarian, menurut Iwan, Galang melihat poster dan foto papanya di mana-mana. “Dia merasa diawasi,” kata Iwan. Galang merasa tak bisa lari dan kembali ke rumah.

Suatu saat Iwan curiga. Iwan bertanya, “Lang, lu pakai ya?”

“Mau apa tahu Pa?” kata Galang, ditirukan Iwan.

Iwan menganggap dirinya sudah insyaf. Kok Galang yang memakai? Iwan merasa Galang meniru papanya. Mula-mula rokok lalu obat. Endi Aras mengatakan Iwan agak teledor kalau menyimpan ganja atau merokok.

Galang menerangkan dia hanya mencoba. Rasanya pusing serta teler. “Ya udah, kalau sudah tahu ya udah,” kata Iwan.

Kebetulan Galang punya pacar, seorang cewek gaul bernama Inne Febrianti, yang juga keberatan Galang memakai obat-obatan. Inne mendorong Galang tak memakai obat-obatan.

“Dia bukan pemakai. Dia sangat cinta pada keluarganya. Kontrol diri sangat kuat,” kata Iwan.

Kamis malam 24 April 1997 sekitar pukul 11:00 malam Galang pulang ke rumah, setelah latihan main band. Dia makan lalu pamit pada papanya mau tidur. Mamanya lagi tak enak badan. Iwan masih mendengar Galang telepon-teleponan.

Subuh sekitar 4:30 Kelly Bayu Saputra, sepupu Galang yang tinggal di sana, mau mengambil sisir di kamar Galang. Kelly memanggil Galang tapi tak bangun. Kelly mendekati Galang dan menggoyang-goyangkan badannya. Lemas. Kelly kaget. Dia mengetuk kamar Yos. Yos bangun dan menemukan Galang badannya dingin. “Saya turun ke bawah, panggil Iwan,” kata Yos.

Keluarga heboh. Iwan terpukul sekali. Pagi itu saudara-saudaranya datang. Mereka menghubungi semua kerabat dan teman. Leo Listianto, adik Iwan, menelepon Ma’mun di Karawaci. “Saya masih tidur, antara percaya, tidak percaya,” kata Ma’mun.

Sepuluh menit kemudian, Ma’mun ditelepon Dyah Retno Wulan, adiknya Leo, biasa dipanggil Lala, juga memberitahu Galang meninggal. “Saya bengong,” kata Ma’mun. Dia segera menuju Bintaro.

Fidiana menerima telepon dari Ari Ayunir. Fidiana membangunkan Iwang Noorsaid, suaminya, “Wang, ini ada berita duka … Galang meninggal.” Mereka agak tak percaya karena beberapa hari sebelumnya pasangan ini bertamu ke Bintaro dan melihat Galang mondar-mandir. Mereka mencoba telepon ke Bintaro tapi nada sibuk. Mereka menelepon Herri Buchaeri, Endi Aras, dan beberapa rekan lain sebelum naik mobil ke Bintaro.

Endi Aras mengatakan, “Pagi-pagi aku dapat kabar. Iwang Noorsaid yang telepon.” Endi sampai di Bintaro sekitar pukul 5:30. “Aku ikut memandikan (jasad Galang),” kata Endi.

Ketika Iwan memandikan jasad anaknya, dia berujar berkali-kali, “Galang, kamu sudah selesai, Papa yang belum … Lang, kamu sudah selesai, Papa yang belum ..…” Kalimat itu diucapkan Iwan berkali-kali.

Ma’mun dirangkul Iwan. “Jagain Mas, jagain anak-anak Mas,” kata Iwan, seakan-akan hendak mengatakan ia sendiri kurang menjaga anaknya dengan baik.

“Yos histeris, menangis ketika saya peluk. ‘Aduh, anak saya sudah meninggal mendahului saya,’” kata Fidiana. Iwan tak banyak bicara, menunduk, menangis, dan hanya bilang “terima kasih” kepada tamu-tamu. “Kepada kita dia nggak ngomong sama sekali,” kata Fidiana.

Galang dimakamkan di mana? Ada usul pemakaman Tanah Kusir dekat Bintaro. Iwan emosional, ingin memakamkan Galang di rumahnya. Bagaimana aturannya? Iwan pun memutuskan menelepon kyai Abdurrahman Wahid alias Gus Dur dari Nahdlatul Ulama. Saat itu Gus Dur belum jadi presiden Indonesia. Iwan menganggap Gus Dur “guru mengaji” yang terbuka, tempat orang bertanya. Gus Dur mengerti hukum Islam maupun hukum pemerintahan.

Gus Dur dalam telepon menjelaskan dalam aturan Islam diperbolehkan memakamkan jenazah di rumah. Pemakaman bergantung wasiat almarhum atau keinginan keluarga. Tapi di Jakarta tak bisa memakamkan orang di rumah sendiri karena keterbatasan lahan. “Di Jakarta nggak boleh … kalau Bogor boleh.”

Kata “Bogor” itu mengingatkan Iwan pada Leuwinanggung. Keluarga pun memutuskan Galang dimakamkan di Leuwinanggung.

Menurut Harun Zakaria, seorang tetangga Iwan di Leuwinanggung, yang juga menjaga kebun Iwan, dia dihubungi Lies Suudiyah, ibunda Iwan. “Bu Lies datang ke sini. Dia bilang, ‘Cucunda meninggal. Tolong di sini kuburannya,” kata Harun.

Jenazah disemayamkan dulu di masjid Bintaro. Sekitar 2.000 jamaah salat Jumat di masjid itu ikut menyembahyangkan Galang. Banyak seniman, tetangga, kenalan Iwan, dan Yos datang menyampaikan duka. Setiawan Djody, W.S. Rendra, Ayu Ayunir, Jalu, Totok Tewel, Jockie Suryoprayogo, juga tampak di sana. Spekulasi wartawan maupun pengunjung memunculkan gosip bahwa dada Galang kelihatan biru. Galang digosipkan overdosis. Ini merambat ke mana-mana karena tubuh Galang kurus ceking.

Orang sebenarnya tak tahu persis penyebab kematian Galang karena tak ada otopsi terhadap jenazahnya. Kawan-kawan Iwan memilih diam. Mereka merasa tak nyaman mengecek spekulasi overdosis kepada orangtua yang berduka. Kresnowati pernah diberitahu Yos bahwa penyebab kematian Galang penyakit asma. Fidiana mengatakan beberapa hari sebelum kematian, Yos mengatakan Galang lagi sakit-sakitan. Iwan mengatakan pada saya, fisik Galang “agak lemah” dan “Galang lemah di pencernaan.”

Namun Iwan dan Ma’mun menyangkal spekulasi overdosis. Galang memang mencoba obat-obatan tapi tak serius. Iwan mengatakan dua bulan sebelum meninggal, Galang “sudah bersih.” Iwan percaya anaknya punya kontrol diri.

Menurut teman-temannya, Yos menilai petualangan Galang merupakan protes terhadap Iwan. Galang butuh perhatian papanya tapi Iwan terlalu sibuk. Yos di mata mereka lebih tabah menghadapi kematian Galang. Iwan lebih terpukul dan menyesal. “Setelah Galang meninggal, dia sudah nggak nggelek-nggelek. Salatnya sudah rajin,” kata Endi Aras.

September lalu di keheningan Leuwinanggung, saya tanyakan pada Iwan bagaimana perasaannya sekarang, lima tahun setelah kematian Galang.

Dia menggeser posisi duduknya dan mengatakan, “Sampai sekarang masih ngimpi, terutama zaman manis-manisnya ketika Galang masih kecil.”

Iwan mengatakan kalau bercermin pada masa-masa ketika Galang masih ada, dia melihat kekurangan-kekurangannya sebagai suami maupun ayah. “(Kematian Galang) membuat saya menghargai fungsi bapak, fungsi suami. Kalau saya dulu bisa lebih bersahabat, jadi gurunya, jadi lawannya, mungkin akan lain ceritanya.”

“Tapi ini semua nggak bisa dibalik.”

Diambil hikmahnya, Iwan bercerita bahwa kematian Galang jadi “api” buat dirinya dalam bermusik.

“Dia pilih musik, bahkan dia keluar sekolah. Dia mau menikah waktu itu. Dia percaya musik bisa menghidupi istrinya. Masakan saya nggak berani … rasanya di sini senep (sesak) … hoooaah … dari sini senep … apalagi kalau kenangan-kenangan itu datang,” kata Iwan. Dia tiba-tiba berteriak, “Hoooooooaaaaah ….”

Saya mengalihkan pandangan mata saya dari mata Iwan. Dia menelungkupkan kedua tangannya di dada. Kami diam sejenak. Saya minta maaf karena mengingatkannya pada kematian Galang. Iwan bilang tak apa-apa. “Kadang-kadang kalau lagi sedih … senep. Tapi kalau lagi senang ya lupa lagi.”

ROLLY Muarif termasuk satu dari sekian orang yang sering menemani Iwan Fals pasca-kematian Galang. Rolly adalah seorang musikus kelahiran Gorontalo, pernah menghibur penumpang kapal Kambuna jurusan Manado-Jakarta. Kalau menganggur, Rolly menjaga toko spare part di Kranggan, dekat Leuwinanggung.

Iwan sering mengundang Rolly ke Leuwinanggung. Iwan suka melukis dan mengobrol dekat makam Galang. “Sering curhat sama saya soal Galang karena cuma ada saya doang,” kata Rolly. Dia juga menemani Iwan main catur dan mengobrol hingga subuh. Suatu saat Iwan bilang, “Kalau untuk anak (kehilangan) ke orang tua, bisa dimaklumi, tapi kalau orang tua ke anak, itu berat.”

“Saya memahami saja,” kata Rolly pada saya.

Iwan banyak melukis, kadang-kadang di rumah Leuwinanggung, lukisannya dipajang, dilihat dari jauh. Rekaman album baru ditunda sejak kematian Galang. “Saya disuruh memandang, kadang dibalik,” kata Harun Zakaria, tetangga Iwan, yang juga sering mengobrol pasca-kematian Galang. Iwan juga memenuhi undangan dari masyarakat Leuwinanggung, acara jaipongan, kematian, pengajian, kenduri, perkawinan, salawatan. “Ke mana-mana ajak saya,” kata Harun.

Iwan juga bermain sepak bola dan membayar seorang pelatih untuk melatih anak-anak Leuwinanggung. Harun cerita Iwan menyumbang renovasi mushola dekat rumah mereka, “Karpetnya disumbang Kak Iwan.” Iwan juga melatih karate. Dia membuka dojo dan pesertanya sampai 200 orang. “Saya latih sendiri,” katanya.

Ketika krisis moneter menghantam ekonomi Indonesia, Iwan Fals sempat mencoba bikin lagu untuk menggugah semangat orang berusaha. Karya ini terhenti ketika demonstrasi-demonstrasi anti-Soeharto makin keras. Pada Mei 1998, Soeharto mundur dari kekuasaannya dan Indonesia memasuki era demokratisasi. Perubahan besar-besaran di ambang pintu. Iwan pun melihat saatnya ia mengambil langkah baru.

Iwan Fals melihat banyak penggemarnya kurang punya dasar ekonomi yang kuat. Iwan ingin “memberdayakan” mereka. Iwan pun mendirikan Yayasan Orang Indonesia dan minta Ma’mun jadi wakil ketua, Endi sekretaris, Yos bendahara, dan dia sendiri ketua.

Ini ternyata tak cukup. Iwan ingin melibatkan para penggemarnya langsung. Ide ini dibicarakan dengan Ma’mun, Yos, dan Endi. Hasilnya, mereka sepakat mengundang para penggemar Fals, lewat ke Leuwinanggung selama tiga hari pada pertengahan Agustus 1999.

Kresnowati diminta mengorganisasikan pertemuan itu. Lapangan belakang rumah Iwan ditutup pasir, dibangun tenda besar 600 meter persegi untuk tidur, dibelikan nasi bungkus, dan dicarikan sponsor perusahaan air mineral. Iwan minta tukang membangun 20 kamar mandi.

Ternyata sambutannya besar. Penggemar Iwan dari banyak golongan datang. Ada pencuri, ada bandar narkotik, karyawan biasa, bapak yang sepuh, perempuan tomboy, juga wanita berjilbab. Ada juga yang penampilannya “punk rock abis” dan bikin Wati deg-degan. “Di luar pagar juga banyak yang menunggu mau masuk. Maunya ketemu Iwan, berfoto bersama,” kata Wati.

Ketika diskusi, kualitas mereka kelihatan beragam. Ada yang berapi-api tapi banyak yang asal omong. Antusiasme ini mengejutkan karena Iwan lama tak muncul ke publik. Album terakhirnya keluar 1993.

Wati juga geli melihat tato pada penggemar Fals. Banyak yang punggungnya digambari Iwan. Ada pula tato jidat, daerah antara alis mata, ditato kata “Fals.” Dari Bandung sekelompok penggemar menato kata “Fals” di antara jempol dan jari telunjuk. “Kalau Fals pasti Iwan Fals. Kalau Iwan kan banyak,” kata Ainun Rofiq, manajer restoran cepat saji McDonald yang jadi bendahara Oi.

Semalam sebelum pertemuan, Iwan, Yos, Ma’mun, Endi, dan Wati diskusi. Intinya, mereka mau serahkan kepengurusan Oi kepada orang-orang baru itu atau mereka pegang sendiri? Mereka sepakat dipegang sendiri dulu. Kalau sudah jalan diserahkan pada orang banyak.

“Saya nggak mau kalau ketua. Konsekuensinya berat. Endi juga nggak mau. Sampai pulang nggak jelas. Ma’mun nggak mau juga. Ma’mun ingin Iwan jadi ketua. Endi nggak mau (alasannya) ini khan fans club. Endi keukeuh (harus) Wati,” kata Kresnowati.

Keesokan hari Kresnowati terpilih sebagai ketua Oi. Menurut Digo Zulkifli, penggemar asal Bandung, pada pertemuan tiga hari itu mereka diskusi: mau jadi fans club atau organisasi massa. “Kalau jadi fans club, idolanya sendiri, si bosnya (Iwan Fals) nggak enak.” Mereka memutuskan jadi organisasi massa.

Wati pada tahun pertama lebih meletakkan dasar administrasi. Mereka bikin kartu anggota, membuka cabang, dan membuat arsip. “Nggak mudah mengatur 10.000-an orang di seluruh Indonesia.” Kini Oi diketuai Heri Yunarsa, seorang pegawai negeri dari Serang.

Hambatan banyak. Wati melihat orientasi penggemar Fals masih kabur antara organisasi massa dan klub. Banyak yang masuk Oi untuk “cium tangan” Iwan. “Kayak ketemu raja … apalagi daerah lho … kita jadi bingung ngeliatnya,” kata Wati. Masalah dana juga hambatan. Iwan mungkin orang kaya tapi mendanai organisasi butuh uang besar sekali.

Entah apa yang akan terjadi kalau Iwan suatu saat jadi kurang populer atau makin mengendurkan musiknya? Bagaimana bila Iwan meninggal? Sejauh mana Oi bisa bertahan kalau didasarkan ikatan emosional pada lagu-lagu lama Iwan Fals? Bagaimana mengubah loyalitas individu jadi loyalitas organisasi? Bagaimana Oi bisa “memberdayakan” anggotanya?

Saya ingat Elvis Presley, bintang musik pop Amerika 1960-an, yang mengatakan, “Music is like religion: when you experience them both, it should move you.” Menurut Sun Record, album Presley terjual lebih dari satu milyar selama masa hidupnya (Love Me Tender, It’s Now Or Never atau Are You Lonesome Tonight).

Musik Fals juga menggerakkan banyak orang di Indonesia. Fals dianggap mampu merekam semangat perlawanan orang-orang yang dipinggirkan pada masa Orde Baru. Ketika Presley meninggal, lagu-lagunya malah jadi abadi. Makam dan rumahnya ramai dikunjungi orang. Lagu-lagunya terus direkam ulang dan jadi tambang emas untuk ahli warisnya. Akankah Fals mengikuti jejak Presley? Apakah musik Fals sudah mirip pengalaman beragama?

Iwan sudah pernah memikirkan ini. “Ada saya atau tak ada saya, saya hadir di Oi,” kata Digo Zulkifli menirukan Fals.

Oi kini punya perwakilan di berbagai kota Indonesia. Ini organisasi unik tanpa preseden. Kantor-kantor perwakilannya juga unik. Di Cilegon ia nongkrong di kantor pemerintahan kabupaten. Di Tangerang berkantor di tukang jagal. Banyak juga yang berada di gang-gang sempit. Agus Suprapto dari Oi Yogyakarta mengatakan mereka mendapat bantuan dari Sultan Hamengku Buwono X.

Gema Fals juga tembus hingga Timor Lorosa’e. Hugo Fernandes, redaktur majalah Talitakum, memberitahu saya bahwa panitia kemerdekaan Timor Lorosa’e mengundang Iwan Fals ke Dili ketika negara itu hendak menyatakan merdeka 20 Mei lalu. “Semua orang Dili tunggu Iwan Fals mau datang. Orang kecewa karena Iwan tidak datang. Di Dili, dia itu kayak dewa.”

Tampaknya negara kecil yang punya luka tersendiri karena pendudukan Indonesia ini—sering dikatakan sepertiga penduduknya mati karena terbunuh atau kelaparan akibat 22 tahun pendudukan tentara Indonesia—punya banyak orang yang justru merasa ketertindasan mereka diwakili dan disuarakan Iwan Fals.

SESUDAH lama tak berkarya, Iwan Fals mengalami hambatan bikin album baru. Effendy Widjaja, salah seorang direktur Musica, membantu Fals mengatasinya. “A Pen yang mendobrak. Saya harus bikin lagu katanya. ‘Jangan loyo dong!’ Dia mrepet (mengomel),” kata Iwan.

“Akhirnya saya bangkit, minjam duit. Dia pilih dari 300 lagu, dia tandai. Dia pandai, pilihannya saya lihat masih dalam bingkai saya.”

A Pen, nama panggilan Effendy, berunding dengan kakaknya, Sendjaja Widjaja atau A Ciu, presiden direktur Musica, dan Iwan pun diberi pinjaman uang. Mereka tak menyebut berapa pinjamannya. Musica hanya bersedia menjawab pertanyaan saya secara tertulis.

Saya memperkirakan pinjaman ini diperlukan Iwan dan Yos, selaku pemimpin Manajemen Iwan Fals, untuk membiayai “jadwal-jadwal” pemakaian studio untuk latihan, rekaman, dan sebagainya. Kalau biaya sewa studio dihitung Rp 500 ribu sekali pakai, Iwan mengatakan pada saya, ia memakai 720 kali jadwal untuk membuat album yang dinamai Suara Hati. Artinya, Iwan membutuhkan sekitar Rp 360 juta untuk membiayai jadwal rekamannya. Manajemen Iwan Fals memakai pinjaman Musica itu untuk membangun sebuah studio. Iwan lantas menyewa studio itu kepada Manajemen Iwan Fals. Agak rumit memang. Iwan berhitung bisnis dengan istrinya sendiri.

Bagaimana membayar Musica? Iwan menerangkan bahwa royalti sebuah kaset Rp 2.000. Kalau Suara Hati laku, katakanlah 150 ribu, berarti ia mendapat Rp 300 juta. Royalti ini dipakai membayar piutang Musica. “Dari segi ekonomi saya rugi. Saya nggak dapat apa-apa dari Musica. Saya hanya mengharapkan dari royalti … kaset itu seumur hidup ya,” katanya.

Iwan memanfaatkan teman-teman lama—Inisisri, Nanoe, Iwang Noorsaid, dan Maman Piul (pemain biola)—untuk mengerjakan Suara Hati. Kesulitan terbesar muncul dari komputer. Iwan menggunakan komputer mutakhir Apple Macintosh G4 dalam studio barunya. “Saya nggak pakai operator karena nggak bisa bayar,” kata Iwan. “Saya juga mau belajar komputer.” Iwan tak memahami kerja Macintosh dengan rapi. Dampaknya, ada rekaman-rekaman yang hilang.

Khusus memilih pemain gitar prosesnya berbeda. Suatu hari Endi Aras mengajak Digo Zulkifli, gitaris asal Bandung yang juga penggemar Fals, berkunjung ke Leuwinanggung. Digo membantu Endi di Matamata Communications sesudah kenal saat pembentukan Oi. Hari itu Digo menemui Iwan di studio. Kebetulan Iwan lagi butuh orang mengisi gitar listrik. Di studio, menurut Digo, ia ditanya Iwan, “Digo kamu main elektrik?”

“Ya”

“Coba deh ini di album baru.”

“Saya minta waktu dan ruangnya saja,” kata Digo.

Iwan mempersilakan tapi mengingatkan Digo bahwa proposal Digo belum tentu diterima. Digo bersedia. Digo menduga Manajemen Iwan Fals masih mempertimbangkan gitaris kawakan Ian Antono, I Gede Dewa Bujana, dan Totok Tewel untuk mengisi gitar. Ketiga gitaris itu kenal Iwan. Ian Antono juga menata musik album Mata Dewa. Pilihan ternyata jatuh pada Digo Zulkifli.

Digo pun ikut rekaman bersama Inisisri, Nanoe, Noorsaid, dan Iwan. Ketika rekaman rusak, Iwan merasa sungkan minta kembali Nanoe, Noorsaid, dan Inisisri. “Nggak enak,” katanya. Digo dengan mudah dimintanya ikut rekaman ulang. Iwan pun membentuk band baru untuk mengisi sebagian rekaman yang hilang. Iwan mengajak Edi Edot (bass), Ayub Suparman (kibor), dan Danny Kurniawan (drum).

Belakangan ternyata ada rekaman lama yang ditemukan lagi. Dalam album Suara Hati, lagu Hadapi Saja muncul dua kali. Dua lagu, dua band, satu penyanyi, satu album. Kontribusi Noorsaid ada pada lima dari 12 lagu di sana.

Endi Aras melihat adanya dua band ini dengan kritis. “Iwan gampang meninggalkan kawan-kawannya. Grup yang sekarang ini dari penggemar dia semua. Itu dari Oi semua,” kata Endi, seakan-akan hendak mengatakan Fals sekarang dikelilingi orang yang relatif kurang setara kemampuannya dengan Iwan. Tak ada lagi Sawung Jabo, Inisisri, Ian Antono atau Jalu, Cok Rampal, Ari Ayunir, Heiri Buchaeri, Iwang Noorsaid. Nanoe bahkan meninggal ketika Suara Hati belum sempat diluncurkan.

Padahal tantangan Iwan makin besar. Naik ke puncak tangga sangat sulit tapi mempertahankannya lebih sulit lagi. Umur juga bertambah. Iwan juga harus mengikuti selera penggemar yang lebih muda. “Kalau Iwan mau panjang, orang-orangnya harus profesional. Posisi manajer di situ bisa lemah karena istri sendiri. Iwan nggak bisa di-manage karena egonya sangat besar. Yos bingung juga,” kata Endi.

Suara Hati diluncurkan awal tahun ini. Tempo menyebut album ini lagu-lagunya bagus tapi aransemennya lemah. Hai memuji setinggi langit. Sambutan publik cukup baik. Keberadaan Oi tampaknya membantu pemasaran kaset Fals. Anggota-anggota Oi adalah penggemar fanatik Iwan. Manajemen Iwan Fals menyambung peluncuran album itu dengan konser Satu Hati Satu Rasa sekitar 40 kota, antara Maret hingga Agustus lalu.

Suasana Indonesia berbeda sekali antara konser Satu Hati Satu Rasa dan Mata Dewa. Pada 1989 hambatan Mata Dewa terletak pada polisi. Konsernya dilarang di Palembang. Kini demokratisasi mulai terasa di berbagai institusi negara, termasuk polisi, sehingga tur Satu Hati Satu Rasa tahun ini berjalan lancar. Tak ada larangan walau Manajemen Iwan Fals sempat memundurkan beberapa jadwal konser karena ada sidang Majelis Permusyawaratan Rakyat Agustus lalu. Alasannya, tenaga polisi dikerahkan mengatasi massa politik.

Iwan Fals bukan saja tampil di kota besar macam Jakarta dan Surabaya, tapi juga kota menengah macam Cilegon, Sukabumi, Kuningan, Bandar Lampung, Magelang, Mataram, dan sebagainya. Dari laporan suratkabar, jumlah penonton berkisar 5.000 hingga 15.000 orang. Tak sebesar konser Kantata Takwa dengan 100 ribu penonton tapi harus diingat bahwa konser kali ini jumlah kotanya benar-benar banyak.

Menurut Sendjaja Widjaja, hingga 25 Agustus lalu kaset Suara Hati sudah terjual 160 ribu. Ini lumayan untuk ukuran Musica walau belum selaris band remaja Sheila on 7 dari PT Sony Music Indonesia yang penjualan album tunggalnya bisa tembus satu juta keping.

Menurut Sendjaja, penjualan album Fals paling laris adalah Tembang Cinta (1993) sebanyak 535 ribu dan Best of the Best Iwan Fals sebanyak 466 ribu. Keduanya album kompilasi atau campuran. Best of the Best diedarkan tahun 2000 dan sampai sekarang masih termasuk album-album terlaris Musica.

Endi Aras mengatakan lagu Hadapi Saja disukai Iwan. Album ini mengingatkan pendengar pada kematian Galang Rambu Anarki. Ini juga mengingatkan saya pada penghormatan Eric Clapton kepada anaknya, Conor, dengan lagu Tears in Heaven. Conor masih berumur 4,5 tahun ketika jatuh dari lantai 56 apartemen Clapton di New York pada 1991. Clapton juga tertekan karena kematian Conor.

Aransemen Hadapi Saja meyayat hati. Permainan biolanya mengalun. Liriknya juga kuat. Saya kira kematian anak-anak mereka jadi dorongan besar bagi Clapton dan Fals untuk menciptakan karya yang ekspresif.

relakan yang terjadi dia takkan kembali
ia sudah jadi milik-Nya bukan milik kita lagi
tak perlu menangis
tak perlu bersedih
tak perlu sedu sedan itu
hadapi saja
hilang memang hilang
wajahnya terus terbayang
jumpa di mimpi
kau ajak aku untuk menari, bernyanyi
bersama bidadari, malaikat, dan penghuni surga

Endi Aras juga cerita proses pembuatan lagu 15 Juli 1996. Pada 15 Juli 1996 Endi menemani Iwan Fals pergi ke tempat Megawati Soekarnoputri, ketua Partai Demokrasi Indonesia, yang kedudukannya sedang digoyang tukang pukul dan centeng Soeharto. Iwan tak bertemu Megawati, hanya lihat dari jauh, tapi simpatinya muncul. Dua minggu setelah kedatangan Iwan, para tukang pukul itu menyerbu markas Megawati, menggusur para pendukung Megawati dengan kekerasan, dan memicu pergolakan Jakarta yang dikenang sebagai Peristiwa 27 Juli 1996.

Tapi kritik dari masalah rokok masih muncul. Kritik ini kali ini bukan datang dari Rendra, namun dari Santi W.E. Soekanto, wartawan The Jakarta Post, yang menulis bahwa sponsor utama Iwan Fals adalah rokok A Mild dari Sampoerna. “Inilah hal yang sama sekali tak dibutuhkan Indonesia: pahlawan yang memperkenalkan ‘pintu masuk’ pemakaian narkotika dan obat-obatan keras.”

Soekanto mengutip data World Health Organization yang mengatakan ada 1,1 miliar perokok di dunia. Jumlah ini akan meningkat hingga 1,6 miliar pada 2025. Di negara-negara kaya, jumlah perokok menurun, tapi jumlahnya meningkat di negara-negara miskin. Indonesia negara miskin bukan?

Departemen Kesehatan melaporkan 6,5 juta orang Indonesia tiap tahun terkena penyakit akibat kebiasaan merokok dan 57 ribu di antaranya meninggal dunia (kebanyakan laki-laki). Kebiasaan merokok membuat pemerintah kehilangan banyak sumber daya karena membiayai kerusakan-kerusakan akibat rokok.

Di negara-negara kaya kampanye antirokok berjalan kencang. Federation of Football Association (FIFA) November lalu menandatangani perjanjian dengan WHO melarang sponsor rokok di lapangan sepak bola. FIFA sengaja menyamakan pembukaan Piala Dunia 2002 di Korea Selatan dan Jepang 31 Mei lalu dengan hari antirokok sedunia. MTV mendukung kampanye antirokok dengan memasang iklan para penyanyi yang menganjurkan remaja tak merokok. Di Amerika Serikat para penyanyi besar mendukung kampanye antirokok.

Industri rokok melawan kampanye ini lewat iklan dan promosi besar-besaran, terutama di negara-negara berkembang, baik lewat sponsor olahraga maupun musik. Iklan mereka menipu para remaja dengan kesan palsu bahwa rokok membuat mereka terlihat gagah dan dewasa. Rokok diidentikkan dengan olahragawan dan musisi ternama.

Ini dilawan. WHO di Indonesia memilih juara tenis Angelique Widjaja, binaragawan Ade Rai, dan peragawati Tracy Trinita untuk mendukung kampanye antirokok. “Sayangnya, tak terlalu banyak anak muda yang melihat Angie, Ade, atau Tracy. Para aktivis antirokok memerlukan senjata yang lebih besar. Seseorang dengan kaliber Iwan Fals,” kata Santi Soekanto.

Kolom ini mengingatkan saya pada diskusi Salatiga 12 tahun lalu. Dalam 12 tahun ini Iwan melihat Galang ikut-ikutan papanya merokok lantas mencoba obat-obatan hingga meninggal. Kehidupan pribadi Iwan memang berubah banyak. Titin Fatimah, sekretaris Manajemen Iwan Fals, mengatakan pada saya ketika ia mulai bekerja tiga tahun lalu, Iwan Fals sudah tak merokok.

“Suatu kenyataan hanya rokok yang bisa mengeluarkan dana cukup besar untuk pertunjukan musik. Dulu kalau pertunjukan indoor, banyak penonton yang tak bisa nonton. Kami memutuskan outdoor dan biaya produksinya besar. Hanya rokok yang bisa membiayainya,” kata Yos Rosana.

Fals sempat bilang dia mungkin bisa merokok lagi dengan tur sponsor rokok. Yos mengatakan lebih baik tidak tur bila Iwan Fals kembali merokok. “Mendingan nggak usah main,” kata Yos. “Saya juga nggak suka rokok itu. Saya tahu itu ndak baik. Ini buah simalakama,” kata Yos.

Henny Susanto dari Sampoerna, menerangkan kepada saya bahwa A Mild menghormati kontrak itu. Mereka mensponsori Iwan Fals karena penggemar Fals “sangat sesuai” dengan pangsa pasar A Mild.

Penjelasan Titin, Yos, dan Henny Susanto senada dengan materi diskusi Salatiga. Rokok dianggap menganggu estetika tapi bukan kesehatan. Saya sulit menyalahkan Iwan kalau ia belum berani menolak sponsor rokok karena kontribusinya sangat besar. Tanpa rokok mungkin tak ada konser.

Apa yang didapat Sampoerna? Henny Susanto menjawab, “Kesempatan untuk berkomunikasi dengan target market, baik yang datang ke pertunjukan maupun yang sekedar melihat publikasi yang kita lakukan.”

Kalau saya boleh menterjemahkan kata-kata Henny Susanto, A Mild merasa gembira dengan kerja sama ini. Para penggemar Iwan Fals, katakanlah orang semacam Fajar Wijaya, si pengamen bertopi merah itu, adalah pangsa pasar A Mild. Sedih juga mengetahui Iwan Fals ikut mendorong anak-anak muda merokok.

Kehidupan bukan sesuatu yang sederhana. Kehidupan sering penuh kompromi. Senja September itu, ketika saya meninggalkan Leuwinanggung, pikiran saya penuh dengan gejolak tentang Iwan Fals. Dia dipuja, disukai, dan dianggap manusia super, tapi ia juga mungkin kesulitan memenuhi harapan orang banyak yang menganggapnya bisa mewakili dan menolong mereka.

***