NadjiLegon

Cak Nur”Membedah Pluralisme Cak Nur

May 6, 2008 · Leave a Comment


Oleh Umdah El-Baroroh

13/02/2006

Meski Cak Nur banyak dinilai orang sebagai seorang pluralis sejati, tapi bagi mantan pengurus Muhammadiyah, Dawam Raharjo, Cak Nur bukanlah seorang pluralis. “Ia lebih tepat disebut sebagai seorang inklusif, bukan pluralis”, tandasnya dalam forum itu. Menurut tokoh Muhamadiyah yang berpikiran liberal ini, seorang pluralis bukan sekadar orang yang menerima perbedaan terhadap kebenaran agama yang berbeda. Tapi lebih jauh ia juga harus mempelajari kebenaran agama-agama lain dengan sikap yang adil.

“Cak Nur tidak memaknai pluralisme sebagai gagasan yang menganggap semua agama sama, seperti anggapan orang awam. Pluralisme bagi Cak Nur adalah suatu landasan sikap positif untuk menerima kemajemukan semua hal dalam kehidupan sosial dan budaya, termasuk agama. Yang dimaksud dengan sikap positif adalah sikap aktif dan bijaksana.” Demikian papar Mohamad Monib, dosen Paramadina Mulya dalam diskusi “Membedah Pemikiran Pluralisme Nurcholis Madjid”, 22/1 lalu. Diskusi yang diadakan di aula Universitas Islam Bandung itu juga menghadirkan dua pembicara lainnya sebagai panel. Tampak di sana Dawam Raharjo, wakil Jaringan Islam Liberal, serta Miftah Fauzi Rahmat, dosen IAIN Sunan Gunung Djati, Bandung.

Lebih lanjut, Monib juga menjelaskan bahwa pluralisme menurut rumusan Cak Nur (panggilan akrab Nurcholis Madjid) merupakan bagian dari sikap dasar dalam berislam. “Yaitu sikap terbuka untuk berdialog dan menerima perbedaan secara adil”, tandasnya. “Dengan keterbukaan dan sikap dialogis itu dimaksudkan agar kita memiliki etos membaca, membina, belajar, dan selalu arif.”

Pandangan pluralis Cak Nur tampaknya belum dipahami oleh masyarakat dan tokoh agama dengan baik. Menurut dosen Paramadina itu, masih banyak kalangan yang menyalahartikan makna pluralisme. Sebagian menganggap bahwa pluralisme adalah sikap atau gagasan yang meyakini kebenaran semua agama. Sehingga para pendukung gagasan pluralisme sering digolongkan dalam penganut relativisme agama. Bahkan tak jarang dari mereka yang dianggap sesat dan murtad.

Sikap seperti itulah yang nampaknya diyakini oleh mayoritas ulama yang ada di MUI (Majelis Ulama Indonesia). Hingga mereka pun terdesak untuk mengeluarkan fatwa tentang haramnya pluralisme. Pengharaman terhadap gagasan tersebut dinilai oleh Monib bukan tanpa konsekwensi. Fatwa anti pluralisme yang dikeluarkan oleh MUI berdampak luas dalam memengaruhi cara pandang masyarakat yang semakin kuat untuk memusuhi dan menolak kelompok lain agama atau kepercayaan. Hal itu terbukti dengan sikap penolakan masyarakat yang semakin lantang terhadap keberadaan Jama’ah Ahmadiyah yang juga difatwakan oleh MUI sebagai aliran sesat.

Sementara itu bagi Miftah, salah seorang pengelola IJABI (Ikatan Jama’ah Ahlul Bait) aksi kekerasan yang menimpa Ahmadiyah itu dikhawatirkan akan menimpa syiah. Karena syiah juga banyak ditentang oleh sebagian masyarakat. Pada masa-masa seperti sekarang inilah kita semakin merindukan sosok Cak Nur, tegasnya. “Ia selalu membela komunitas yang minoritas dan termarginalkan.”

Lebih lanjut dosen IAIN Sunan Gunung Djati itu menjelaskan sikap Cak Nur terhadap pluralisme. “Cak Nur selalu membedakan antara pluralitas dan pluralisme”, tandasnya. “Pluralitas bagi guru besar UIN Jakarta itu adalah keragaman hidup yang telah menjadi sunnatullah. Sedangkan pluralisme merupakan suatu sikap kejiwaan dan kedewasaan mental dalam menerima keragaman itu.”

“Yang ditekankan pada pluralisme Cak Nur adalah sebuah sikap mental dan kedewasaan untuk bisa menerima perbedaan, karena tidak semuanya bisa menerima perbedaan”, tegasnya. “Dan apabila seseorang tidak dapat menerima pluralisme, itu karena pemahamannya yang belum dewasa.”

Meski Cak Nur banyak dinilai orang sebagai seorang pluralis sejati, tapi bagi mantan pengurus Muhammadiyah, Dawam Raharjo, Cak Nur bukanlah seorang pluralis. “Ia lebih tepat disebut sebagai seorang inklusif, bukan pluralis”, tandasnya dalam forum itu. Menurut tokoh Muhamadiyah yang berpikiran liberal ini, seorang pluralis bukan sekadar orang yang menerima perbedaan terhadap kebenaran agama yang berbeda. Tapi lebih jauh ia juga harus mempelajari kebenaran agama-agama lain dengan sikap yang adil.

Dapat diumpamakan dalam penganut teologi inklusif bahwa agama adalah sebagai cahaya-cahaya tapi yang paling terang adalah cahaya agamanya. Sementara seorang pluralis beranggapan bahwa semua agama bercahaya. Di sinilah terlihat perbedaan antara teologi inklusif dan pluralis.

Dawam menilai Cak Nur masih memandang semua agama sebagai cahaya, tetapi cahaya yang paling terang adalah Islam. Selain itu ia juga terjebak pada anggapan bahwa agama samawi lebih unggul dari agama bumi. Karena agama samawi diyakini sebagai agama pemberian Tuhan kepada manusia.

Cak Nur, lanjut Dawam, merupakan seorang teolog muslim dengan acuan Qur’an dan Sunnah (lebih khusus pada Qur’an). Dan dengan ide tauhidnya yang keras Cak Nur telah bersikap kurang adil. Di sinilah keterbatasan Cak Nur yang menurut Dawam belum sepenuhnya pluralis, tetapi baru sebagai seorang teolog inklusif. “Untuk menjadi pluralis, seseorang harus mempelajari agama-agama lain,” tegas Dawam. “Sementara Cak Nur tidak pernah mempelajari agama-agama lain.”[]

Membedah Pemikiran Cak Nur
28 Desember 2006

INDONESIA telah diberi warna pemikiran modern yang khas oleh Cak Nur (Nurcholish Madjid). Corak pemikiran yang melampaui kewenangan sejarahnya–istilah buku ini ‘Menembus Batas Tradisi’ dipakai judul–ini berdampak luas bagi terbukanya wawasan berpikir generasi bangsa, khususnya kalangan muda Islam.

Pemikiran Cak Nur yang kaya sumber-sumber baku dalam khazanah Islam merupakan simbol atas pergulatan budaya yang keras dan menghasilkan warisan ilmu yang sangat berguna bagi pergulatan bangsa.

Buku ini memberikan peta sosiologis dan teologis pemikiran Cak Nur yang telah mewarnai Indonesia sejak 35 tahun lalu. Cak Nur mewariskan kepada kita sebuah ensiklopedia pemikiran yang diramu dari berbagai sumber unit peradaban umat manusia.

Dari karya-karya yang telah dihasilkannya tidak berlebihan kalau kita mengatakan Cak Nur yang lokal Jombang mempunyai wawasan global universal dengan Islam sebagai dermaga tempat bertolaknya. Dengan gambaran itu, menurut A Syafii Maarif, dunia pemikiran adalah habitat Cak Nur yang sesungguhnya, bukan politik yang sering menghabiskan energi.

Buku ini tidak bermaksud mengultuskan Cak Nur yang telah berpulang kepada-Nya pada 29 Agustus 2005. Umum manusia tempat salah dan khilaf yang tidak akan menemui titik sempurna seperti yang kita sendiri harapkan. Akan tetapi sebagai manusia berakal merupakan karunia bila mempersembahkan pemikiran Cak Nur sebagai warga negara yang telah memberikan andil besar bagi tergeraknya akal untuk kemudian menghasilkan pemikiran up to date dalam sejarah berbangsa, bermanusia, maupun bernegara.

Dalam analisis dan presentasi seluruh kontributor buku ini, terlihat gagasan dan cita-cita Cak Nur masih dalam proses menjadi menuju titik kesempurnaan hidup kolektif yang tidak akan pernah menemui batas. Meskipun melampaui batas tradisi, pemikiran Cak Nur dalam nalar modernitas keislaman yang bercorak universal, kesetaraan, demokrasi, keadilan, dan keindonesiaan masih harus menghadapi tantangan zaman yang semakin pelik seperti kemiskinan, terorisme, fundamentalisme, konflik, dan utang luar negeri yang membutuhkan energi ekstra dari para anak bangsa untuk memeranginya. Di sinilah konteks jihad (perjuangan) dalam pemikiran Cak Nur.

Memang, gagasan dan cita-cita Cak Nur menciptakan dunia yang adil dan ramah, tanpa diskriminasi dan eksploitasi sebagaimana dirindukan para nabi dan filsuf, dapat ditelusuri hampir pada semua karya Cak Nur. Ada sebuah benang merah yang membentang pada gagasan dan cita-cita itu. Akan tetapi di sisi lain, Cak Nur juga melihat jurang kesenjangan antara ajaran Islam sejati dan realitas yang melingkari umat. Tetapi ironisnya, tidak jarang realitas itulah yang dianggap agama oleh sebagian umat, karena minimnya pemahaman tentang Islam di kalangan rakyat Indonesia (hlm. ix).

Buku ini berupaya menelusuri kembali warisan cerdas Cak Nur dalam memintal pemikiran Islam agar tetap lestari di tengah kepungan jaman kapitalis yang serba materialistis. Para kontributor ingin agar pergulatan kebudayaan dalam ranah pemikiran yang pernah dilakukan Cak Nur tidak menguap seiring mangkatnya. Sayangnya, para kontributor seperti kur menyanyikan lagu yang sama tentang Cak Nur tanpa kritik dan penelusuran mendalam keluar dari wilayah normatif. Kholilul Rohman Ahmad, editor di Radio Fast FM Magelang, Jawa Tengah.

Wasiat Terakhir Cak Nur

Kontribusi dari Aziz Hamid

Selasa, 30 Agustus 2005

Oleh Utomo Dananjaya

Enam hari sebelum berangkat berobat ke China, Cak Nur
menulis surat kepada teman-teman pendukung Yayasan Wakaf
Paramadina. Surat itu berupa usul pengadaan usaha
penyegaran yayasan dan peremajaan para pendukung
keorganisasiannya.Untuk sebagian orang, surat itu dianggap sebagai wasiat
terakhir yang menggetarkan hati, yang menerima surat
tersebut dan melihat kondisi kesehatan Cak Nur di China dan
kemudian di Singapura.

Apa yang dimaksud Cak Nur dengan penyegaran rupanya dapat
dibaca pada lampiran surat tersebut berjudul: Wawasan
Paramadina dan Saran-Saran Penyegaran Keorganisasian Lebih
Lanjut.

Tentang wawasan Yayasan Wakaf Paramadina, Cak Nur
menjelaskan bahwa yayasan merupakan lembaga yang
dimaksudkan untuk mengemban dan mendorong kebebasan wacana,
baik terbuka maupun tertutup, tanpa menjadi partisan
eksklusif untuk suatu pendapat dari wacana bebas tersebut.
Alasan Cak Nur bahwa kebebasan adalah hak dan anugerah
primordial atau primeval dari Sang Maha Pencipta,
sebagaimana dilambangkan dalam cerita kosmis ketika Tuhan
mempersilakan Adam dan Hawa masuk ke dalam surga (QS, 2:
35).

Dalam pidato peresmian Kampus Universitas Paramadina dan
setiap membuka pra-training mahasiswa baru, Cak Nur selalu
menjelaskan bahwa Universitas Paramadina menyelenggarakan
pendidikan dengan semboyan berdasar pada kitab dan hikmah
seperti tercantum dalam QS 4: 113. Dalam proses
pembelajaran, dosen dan mahasiswa memerlukan semangat
kebebasan untuk punya keberanian menerobos batas.

Cak Nur sering mengungkapkan, hikmah atau ilmu adalah
temuan para cerdik pandai dan menjadi kekayaan peradaban
kemanusiaan. Sebuah temuan adalah terobosan dari temuan
sebelumnya. Demikianlah terobosan demi terobosan diciptakan
menjadi etos cendekiawan. Terobosan hanya mungkin terjadi
oleh keberanian menembus batas.

Universitas Paramadina yang baru lahir delapan tahun lalu
diharapkan membangun budaya penemuan ilmiah. Universitas
memuliakan penelitian dan discovery. Mahasiswa dan dosen
bukan hanya belajar, tetapi juga melakukan penelitian, dan
diharapkan mencapai prestasi ilmiah tertinggi.

Inilah yang dirumuskan sebagai universitas yang menawarkan
pilihan atau alternatif. Yang dimaksud adalah budaya
universitas berbeda dari budaya konvensional universitas di
Indonesia. Hal ini dititipkan sebagai tantangan kepada
sivitas akademika Universtas Paramadina. Kepada pimpinan
dan dosen pesan ini diarahkan. Bahkan, kepada mahasiswa
yang menjadi salah satu faktor untuk membangun budaya baru
akademis.

Dengan kebebasan positif itu, kata Cak Nur, manusia akan
berkesempatan berkenalan dengan berbagai pendapat. Manusia
dipujikan Allah untuk mendengarkan dan memperhatikan
berbagai pendapat itu, kemudian memilih mana yang terbaik.
“Maka berilah kabar gembira kepada hamba-hamba-Ku yang
mendengarkan pendapat, kemudian mengikuti yang terbaik di
antaranya. Mereka itulah orang-orang yang diberi petunjuk
Allah, dan mereka itulah orang-orang yang berpengertian
mendalam.” (QS 39: 18).

Firman inilah yang menjadi dasar pandangan pluralisme yang
dalam pengertian Cak Nur adalah mengakui perbedaan dan
kesediaan bergaul secara beradab, dengan mau mendengar,
menghormati pendapat orang lain, walaupun tidak sependapat.

***

Dalam sebuah diskusi seorang cendekiawan muda mengritik Cak
Nur berdasarkan pendapat seorang ahli. Cak Nur memuji
cendekiawan muda itu sebagai orang yang punya disiplin
ilmiah dengan mendasarkan pendapatnya pada pandangan
seorang ahli. Kemudian, Cak Nur menyampaikan pendapatnya
sendiri.

Cendekiawan muda ini sesumbar bahwa dia telah menundukkan
Cak Nur
dengan pendapatnya. Begitu pluralisnya, dalam arti sopan
dan santunnya Cak Nur sehingga cendekiawan ini merasa Cak
Nur telah menerima keyakinannya.

Begitulah pluralisme diejawantahkan dalam pergaulan. Lawan
yang tidak
sependapat pun merasa menghormati pendapatnya, bahkan
merasa pendapatnya diterima Cak Nur. “Inilah makna
pluralisme,” kata Cak Nur.

Karena prinsip kebebasan itu, Paramadina bukanlah
perkumpulan sektarian, yang secara eksklusif mendukung
pendapat tertentu. Lebih-lebih Paramadina bukanlah gerakan
kultus. Paramadina mendorong orang untuk dengan bebas
mengembangkan dan mendengar pendapat. Kemudian, setiap
orang bebas pula memilih yang terbaik di antaranya dengan
bertanggung jawab dan tulus mengikuti suara hati nurani.

Tanggung jawab setiap orang di akhirat adalah bersifat
pribadi mutlak, tanpa ada jual-beli, persahabatan (kullah)
ataupun perantara (syafaah). (lihat: QS 2: 254).
***

Cak Nur meninggal dunia ketika orang takut kebebasan dan
keberagaman (liberal dan pluralisme). Pesan Cak Nur kepada
teman-teman pendukung Paramadina bisa juga menjadi seruan,
sekaligus penjelasan bahwa paham kebebasan dan pluralisme
adalah hak dan anugerah primordial dari Sang Maha Pencipta.

Seorang Nurcholish Madjid, jejak pendapatnya selalu segar
dan relevan. Bukan dan tak perlu diterima sebagai yang
paling benar, tetapi patut direnungkan, dipertimbangkan
untuk menjadi pilihan hati nurani. Semoga menjadi amal
soleh yang diterima Allah.

*) Utomo Dananjaya, pengajar pada Universitas Paramadina di
Jakarta, dikenal sebagai teman dekat Cak Nur saat
mencetuskan Gerakan Pemikiran Keislaman pada 1970.

Cak Nur Dimakamkan Tepat Pada Hari Ultah Pernikahannya
30 Aug 2005 09:05:57

Memang, pemakaman Cak Nur hari ini bertepatan dengan ulang tahun pernikahannya. Selain meninggalkan Omi, Cak Nur juga meninggalkan dua buah hatinya, Nadia Madjid dan Mikail Madjid.

Cak Nur— demikian mantan ketua PB HMI itu biasa dipanggil— menghembuskan napas terakhir pukul 14.05 WIB di RS Pondok Indah dalam usia 66 tahun. Hari ini, jenazah cendekiawan muslim itu dimakamkan di TMP Kalibata, Jakarta.

Tadi malam, jenazah pendiri Yayasan Paramadina itu disemayamkan di kampus Universitas Paramadina. Keluarga, kawan dekat Cak Nur, dan tokoh nasional terus berdatangan untuk bertakziah. Termasuk Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Wapres Jusuf Kalla. Presiden dan Wapres juga menyalati jenazah tokoh yang dikenal karena pemikiran-pemikirannya tentang Islam yang moderat dan pluralis itu.

Sebelum meninggal, Cak Nur menyampaikan isyarat terakhirmya kepada sang istri tercinta, Omi Komaria. Sabtu pagi, Omi yang menunggui Cak Nur di rumah sakit tiba-tiba merasa gelisah. Tapi, wanita 50 tahun itu tak tahu sebabnya.

Omi semakin gelisah saat memandikan Cak Nur sekitar pukul 07.00. Ketika itu Cak Nur memberi tahu Omi agar bersiap-siap. Cak Nur mengatakan, ada mukhtadin (orang-orang pilihan, Red) yang akan datang. “Kakak (Omi, Red) langsung bertanya, siapa mukhtadin yang akan datang,” ujar Nuri Widyawati, adik Omi.

Dengan suara pelan, Cak Nur menjawab bahwa mukhtadin itu adalah kiai dari Gontor. Omi bertanya lagi, siapa nama kiai Gontor itu? “Almarhum bilang kiai Gontor itu bernama Zarkasih,” lanjutnya. Jawaban Cak Nur ini mengejutkan Omi. Sebab, Kiai Zarkasih dari Pondok Pesantren Modern Gontor, Jatim, itu sudah meninggal dunia.

Omi merasa ajal sudah semakin mendekati Cak Nur. Dia mempunyai firasat Cak Nur akan meninggalkan dunia. Mukhtadin tersebut datang untuk menjemput suaminya. Tapi, ibu dari Nadia Madjid, 34 tahun, dan Ahmad Mikail Madjid, 32 tahun, itu berusaha tetap tabah dan sabar. Dengan berat hati, Omi kemudian bertanya kepada Cak Nur kapan mukhtadinnya datang. “Cak Nur hanya menjawab 5 sampai 10 jam,” cerita Nuri. Mungkin maksudnya mukhtadin itu diperkirakan datang 5 sampai 10 jam kemudian.

Selain berbicara tentang kedatangan mukhtadin, Cak Nur juga bercerita bahwa dia melihat sebuah terowongan besar. Kondisi terowongan itu, agaknya, tak terurus dan harus direnovasi. “Malah Cak Nur bilang terowongan itu perlu dirapikan,” lanjut Nuri. Tapi, Cak Nur tidak menjelaskan letak terowongan itu. Juga tidak disebut bagian yang perlu dirapikan itu.

Tokoh asal Jombang tersebut juga berkata melihat daging. Dia minta istrinya agar daging itu diberikan kepada orang lain saja. Pihak keluarga berkesimpulan bahwa almarhum ingin memperbanyak sedekah. “Kami sempat bingung almarhum mau sedekah berupa barang atau uang,” ucap perempuan 30 tahun itu. Belum sempat pertanyaan itu terjawab, Cak Nur sudah bercerita arti sedekah.

Menurut Cak Nur, sedekah diambil dari kata shodaqoh. Artinya, melakukan kebenaran. Caranya bisa dengan menanamkan rasa benar kepada orang lain. Bisa pula dengan menanamkan rasa suci kepada orang lain. Di akhir penjelasan, Cak Nur mengatakan bahwa tindakan itu relevan dalam kehidupan. “Keluarga langsung mengerti bahwa almarhum ingin kita melakukan sedekah. Tak harus berupa uang atau barang, yang penting ikhlas,” tambahnya.

Menurut tim dokter RSPI, kondisi Cak Nur terus menurun sejak kemarin pagi. “Bahkan, pukul 04.00, Cak Nur sempat tidak sadar,” ujar Direktur Medik RSPI dr Mus Aida.

Cak Nur dirawat di RSPI sejak 15 Agustus lalu. Saat itu, keluhannya mual dan muntah. Dokter Widodo Suprapto, salah seorang dokter yang merawat Cak Nur, mengatakan bahwa kesehatan Cak Nur terus memburuk karena mengalami kegagalan fungsi hati dan ginjal. Sebelumnya, 27 Juli 2004, Cak Nur menjalani transplantasi hati (lever) di RS Taiping, Guangzhou, China. “Kelainan hatinya kembali kambuh. Dan, ini mengganggu fungsi fisik beliau, termasuk fungsi ginjal,” katanya.

Istri dan kedua anaknya terlihat tabah dengan kepergian Cak Nur. “Kami sudah ikhlas,” ujar Omi dengan mata berkaca-kaca. Menurut Omi, sebelum meninggal, Cak Nur sempat berpesan kepada putra-putrinya, Nadia dan Mikail, agar memperdalam belajar bahasa Arab. “Dengan berbisik, Bapak mengatakan itu penting agar bisa memahami Al Quran,” ujarnya.

Menjelang kepergiannya, Cak Nur meminta dibimbing membaca surat Al Fatihah dan Al Ikhlas. Kemudian, Cak Nur mengatakan ikhlas. Lalu, dia tersenyum lima kali sebelum pergi. “Saya tidak menyangka kalau itu senyum terakhir Bapak,” kata Omi.

Para pelayat terus berdatangan untuk memberikan penghormatan terakhir kepada Cak Nur. Selain Presiden SBY dan Wapres Kalla, tampak Ketua MPR RI Hidayat Nurwahid, Gus Dur, Bagir Manan, Bachtiar Chamsyah, Akbar Tandjung, dan Harmoko. Bersama ratusan pelayat lain, mereka bersalat jenazah yang diimami Quraish Shihab.

Komaruddin Hidayat, sahabat Cak Nur yang juga melayat, menyimpan kenangan mendalam terhadap pribadi almarhum. Dia sangat terkenang dengan pertemuan terakhirnya. “Saya sempat berkomunikasi dengan Cak Nur pada Minggu malam (29/8),” ujarnya.

Saat itu, Komaruddin sudah berfirasat bahwa Cak Nur akan meninggal. Sebab, beberapa kali Cak Nur menyebut nama teman-teman serta kerabatnya yang sudah meninggal. “Kata orang Jawa, itu tanda-tanda orang mau meninggal,” katanya.

Salah satu nama yang disebut Cak Nur adalah almarhum KH Zarkasi. Menurut dia, Zarkasi adalah tokoh yang secara intelektual sangat berpengaruh pada pribadi Cak Nur. “Kiai Zarkasi itu guru Cak Nur ketika mondok di Gontor,” jelas Komaruddin.

Yang membuat dia terharu adalah suara terbata-bata Cak Nur saat menyampaikan analogi pohon pisang dan pohon asam. Cak Nur menyatakan, pohon pisang adalah simbol semangat juang yang tinggi, namun egois. Ia akan terus tumbuh sampai berbuah, tapi hanya untuk dirinya. Sedangkan pohon asam, meski berbuah kecil dan asam, ia mengayomi dan membuat teduh semua di bawahnya.

“Bagi saya, beliau itu ibarat pohon asam yang meski buahnya kecil, tapi bisa mengayomi banyak orang,” ujarnya.

Wapres Jusuf Kalla mengucapkan turut berbelasungkawa atas meninggalnya Cak Nur yang disebutnya sebagai tokoh umat dan tokoh bangsa itu. Dalam diri Cak Nur, semua itu bersatu. Sulit mencari bandingan tokoh tersebut.

Syafi’i Ma’arif juga merasa kehilangan. Mantan ketua PP Muhammadiyah itu adalah karib Cak Nur semasa mereka bersekolah di Chicago University, AS. Gus Dur pernah menyebut Cak Nur, Syafi’i, dan Amien Rais sebagai Tiga Pendekar dari Chicago. “Semoga Cak Nur khusnul khatimah. Ini kehilangan yang berat bagi bangsa. Beliau adalah tokoh moderat dan berprinsip. Bukan hanya cendekiawan muslim, tapi juga cendekiawan Indonesia,” tegasnya.

Syafi’i mendengar informasi meninggalnya Cak Nur saat dirinya masih di Jogjakarta. Dia langsung terbang menuju Jakarta tadi malam. “Beliau layak dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata. Ini kehilangan bangsa,” ungkapnya.

Ketua MUI Umar Shihab mengatakan, “Kita kehilangan tokoh yang punya pemikiran yang sangat baik mengenai umat Islam, meskipun ada yang menggelitik tentang pandangannya. Tapi, itu biasa.”

Ketua PB NU Hasyim Muzadi mengungkapkan, Cak Nur adalah seorang muslim yang mampu mengemas Islam dalam denyut humanisme serta humanitas. Hal itu tidak banyak bisa dilakukan orang. “Sehingga, yang disampaikan Cak Nur selalu mengalir dan bisa disampaikan siapa pun. Pikiran Cak Nur harus diteruskan,” katanya.

Tokoh Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang kini menjabat Ketua MPR Hidayat Nurwahid mempunyai kenangan dengan Cak Nur. Dia sempat tujuh hari tinggal bersama Cak Nur dalam sebuah seminar di Riyahd beberapa saat lalu.

“Beliau tidak kikir dalam ilmu dan pengalaman. Inti pesan dari Cak Nur, kita hidup di Indonesia yang plural. Hanya, jangan sampai dengan dalih pluralisme, kita memaksakan kehendak kepada orang lain,” ujarnya.

Categories: Pusaka Negeri

0 responses so far ↓

  • There are no comments yet...Kick things off by filling out the form below.

You must be logged in to post a comment.