NadjiLegon

resensi

May 5, 2008 · Leave a Comment

ini buku koleksi plus favorit yang saya simpan dan jaga, tapi sayang ilang di pinjam kawan saya yang gak tanggung jawab… arrrghh gondok bgt …

nyari laginya susah bgt…

Resensi Buku
  • Judu Novel : Satu Hari di Yogya
  • Pengarang : N Marewo
  • Penerbit : Pustaka Pelajar
  • Yogyakarta
  • Cetakan : Pertama, September 1998
  • Tebal : ix + 108 halaman

Sketsa Yogya dalam Sebuah Novel

BANYAK pengarang sadar atau tidak, memiliki hasrat yang kuat untuk mengangkat realitas ke dalam dunia novel. Ini sebuah kelaziman, sebab hasrat melihat realitas dalam dunia yang lain memang merupakan naluri manusia, dan pengarang yang baik tidak tabu mengangkat realitas faktual ke dalam novelnya, selama yang menjadi tumpuan bukanlah semata-mata fakta harfiah belaka. Pengarang memiliki imajinasi. Dengan imajinasinya pengarang dapat menciptakan fakta yang bukan harfiah. Dengan kata lain, setelah menjadi sebuah novel, fakta harfiah telah mengalami metamorfosis melalui kekuatan imajinasi pengarangnya.

Demikian halnya dengan novel Satu Hari di Yogya yang ditulis oleh N Mmarewo –novelis yang merasa cukup memiliki ingatan romantikk dengan kota Yogya, kampus-kampus, kemiskinnan dan jalanan yang menerima keterbatasan hidup dengan ringan, relung-relung bagi turis yang datang dan pergi. Dan kadang itu bisa melontarknan orang dalamm petualangan yang jauh– sangat kental dengan realitas-realitas faktual obyek kisah di dalam novelnya. Tentu saja, realitas tersebut telah diolahnya sedemikian rupa sehingga dapat menjadi bahan untuk sebuah karya novel yang baik; realitas itu tidak ditampilkan secara linier dan verbal.

Sebuah sketsa yang pahit mengenai kota Yogya coba diangkat dalam novel ini. Sang novelis tampak sangat mengenal secara dekat dan akrab obyek kisah di dalam novelnya. Dia sanggup menggambarkan sudut-sudut Yogya beserta romantika kehidupan marjinal para penghuninya. Ini sangat masuk akal dan mungkin karena novelisnya sendiri pernah menjadi penghuni kota tersebut selama beberapa tahun dan cukup hapal sudut-sudut yang paling mewah bahkan sampai yang paling muram: nama-nama jalan, gang-gang, lokasi-lokasi pelacuran, warung-warung makan, hotel, pasar dan lain-lain yang identik dengan kota tersebut.

Boleh dikatakan, modal paling potensial dan kuat yang dimiliki novelis ini bukan sekadar talenta kepengarangan semata, tetapi intensitas pengalaman dirinya dengan obyek novelnya itu. Sangat tampak, sang novelis dapat menggambarkan suasana dan sudut-sudut kota Yogya beserta kebiasaan para penghuninya dengan sangat piawai. Novelis ini mampu berkisah dari satu tempat ke tempat yang lain secara lancar dan gamblang mengenai obyek kisah di dalam novelnya.

Novel ini barangkali juga bisa disebut menjadi semacam kumpulan catatan harian atau kesan mengenai kota Yogya oleh seseorang yang pernah hidup di Kota Yogya. Bagi pembaca novel ini yang belum mengenal dengan baik kota Yogya, akan potensial mengalami kesulitan untuk menikmati dan memasuki dunia yang digambarkan dalam novel ini. Sebaliknya, bagi pembaca yang telah mengenal dengan baik kota Yogya, akan dengan sangat mudah menikmati dan memasuki dunia yang digambarkan dalam novel ini.

Secara garis besar novel ini melukiskan sketsa kehidupan pahit beberapa mahasiswa perantauan yang menghuni kota Yogya dalam kisah sehari-semalam. Baik mengenai dunia percintaan kegelisahan anak muda, maupun keterpecahan nilai-nilai di dalam mengarungi kehidupan ini.

Uniknya, setting waktu pengisahan dalam novel ini searah jarum waktu. Bab I Pagi, Bab II Siang, Bab III Sore dan Bab IV Malam, pengisahan dalam novel ini hanya dalam tenggang waktu sehari semalaman. Setting demikian menuntut keterampilan berkisah yang intens, selain kemampuan dan kedekatan serta keakraban novelis dengan obyek kisah di dalam novelnya.

Teknik alur kisah dalam novel ini tidak jlimet, tetapi sangat sederhana dan mudah diikuti. Namun perlu dikatakan di sini dan ini patut disayangkan, dalam beberapa dialog para tokohnya muncul kesan “pemaksaan” berupa adanya dialog-dialog yang panjang dan tampak seperti sekadar ingin “berkhotbah”. Hal ini tentunya akan cendrung menghilangkan kesan kewajaran sebuah dialog.

binhad nurrohmat, aktivis sastra di yogyakarta

dan Kalo yang ini alhamdulillah masih ada … Filmbuehne Am Steinplatz

hei Bung Binhad tengkyu yah saya pinjem resensinya disini…

Kisah Orang Melayu di Jerman

Judul: Filmbuehne Am Steinplatz
Penulis : N Marewo
Penerbit: Jendela, Yogyakarta, 2003
Tebal: xxvi + 314 halaman

***

NOVEL ini satu-satunya novel berbahasa Indonesia yang berlatar Jerman yang pernah ditulis oleh novelis Indonesia hingga kini. Ini pilihan berani dan mengejutkan karena “melawan” tren novel atau prosa mutakhir Indonesia yang bermuatan warna lokal Nusantara. Judul novel ini pun terhitung nekat karena menggunakan bahasa Jerman: Filmbuehne Am Steinplatz. Mungkin pilihan judul ini strategi yang terus terang supaya nuansa kosmopolitan muncul sesuai gambaran kehidupan di dalam novel ini dan mungkin juga sesuai dengan harapan novelisnya sendiri.

Filmbuehne adalah sebuah bioskop kecil dengan restoran dan kafe yang lokasinya tak jauh dari sebuah taman kecil bernama Am Steinplatz. Tempat ini biasa disebut Filmbuehne Am Steinplatz. Filmbuehne milik seorang seniman kaya dan sutradara terkenal dan idealis di Hamburg. Di sini hanya diputar film-film nonkomersial yang dianggap bagus dan berbobot. Banyak kaum pendatang dari aneka bangsa bekerja di Filmbuehne sebagai tukang masak, bartender, maupun tukang cuci piring restoran dengan upah kecil. Filmbuehne merupakan miniatur sebagian realitas kehidupan kaum pendatang di Jerman, yang tak diingini oleh banyak orang Jerman yang antipendatang.

Kehidupan di Filmbuehne menjadi latar utama novel ini dan Riski (pendatang dari Indonesia yang di Jerman biasa disebut pendatang Melayu) adalah tokoh utama dan pusat cerita. Sebelum ke Jerman, Riski adalah seorang mahasiswa sebuah perguruan tinggi di Yogyakarta yang kecewa terhadap realitas hukum maupun birokrasi di negerinya yang bobrok, korup, serta semarak aksi suap-menyuap yang menjengkelkan sehingga dia sempat menjadi korban yang terpaksa masuk bui dengan cara yang sewenang-wenang.

Karena kekecewaan itu, Riski ingin mencari tempat yang lain yang bisa memuaskannya. Riski ingin hidup di negeri yang lain tempat keadilan ditegakkan dan kemanusiaan dihargai tinggi-tinggi, maka dia pergi ke Jerman. Mungkin alasan kepergian Riski ke Jerman muluk-muluk dan kekanak-kanakan karena dia mengambil jalan pintas atau melakukan “pelarian” yang emosional.

Di Jerman, Riski bertemu perempuan Jerman bernama Dagmar yang bekerja sebagai pramugari. Riski mengawini Dagmar dan mereka tinggal di sebuah apartemen. Riski bekerja di restoran Filmbuehne, lalu pindah ke restoran Cina, restoran Italia, kemudian akhirnya menganggur karena kondisi kerja yang selalu menekan dirinya dan penuh ancaman.

Riski akhirnya mengerti bahwa hidup di mana pun tak mudah. Jerman tak seindah yang pernah dibayangkannya. Kejahatan dan keberingasan terjadi sewaktu-waktu di jalanan. Filmbuehne menekan eksistensinya sebagai manusia bebas dan statusnya sebagai pendatang dari negeri bekas jajahan dan berkulit coklat menjadi bahan olokan. Di Jerman, Riski juga mengalami ketidakadilan hukum dan birokrasi negara (sebagaimana di negeri asalnya dulu). Riski ditangkap petugas ketertiban ketika dia sedang jalan-jalan dan tak membawa paspornya-karena ukuran paspornya kelewat besar-sehingga dia dimasukkan ke bui.

Novel ini potret manusia yang berjuang untuk survive dan eksis di negeri asing dan untuk meraihnya lebih dulu mengalami jatuh bangun yang tak sederhana. Tak ada yang gratis untuk meraih apa pun. Ada yang berhasil dan banyak juga yang gagal sama sekali dan menyerah. Mereka hidup, tapi miskin dan eksistensinya terampas oleh keadaan sehingga banyak yang krisis jiwanya, terasing, dan putus asa. Kemudian terkenang kampung halaman yang telah “memaksa” mereka pergi.

Novel ini dibagi menjadi sepuluh bagian. Bagian pertama novel ini bercerita tentang sekelumit kehidupan mahasiswa di Yogyakarta sebagaimana kehidupan Riski dan kawan-kawannya yang masih bergejolak mencari jati diri dan berangan tentang perkara yang ideal sehingga mereka kerap frustrasi dan marah akibat kenyataan yang tak sesuai bahkan berlawanan dengan angan mereka. Riski menyelesaikannya dengan cara mencari yang diangankannya itu ke negeri yang lain. Sedangkan sembilan bagian selanjutnya menceritakan kehidupan Riski (beserta kawan-kawannya yang berasal dari berbagai bangsa dan ras) dan Dagmar di Jerman.

Novel ini sebenarnya sangat kompleks. Ini cerminan wawasan dan pengalaman pengarang yang luas dan merambah banyak soal. Novel ini tak semata menceritakan kondisi kejiwaan manusia-manusia yang mencari, mengembara, terancam, dan tertekan oleh keadaan, tapi juga mengajukan persoalan sosial, politik, ras, etnik, ekonomi, dan persoalan kosmopolitan yang rumit, kritis, dan problematis.

Beban tema novel ini sebenarnya besar, tapi digarap dengan sebuah realisme yang sederhana dan jernih, melalui alur cerita yang polos dan tak hendak “bermain” dengan teknik yang tak lazim, dan kadang mencuatkan aforisme kehidupan yang kental renungan manusia yang telah suntuk dan pernah terjungkal-jungkal.

Novel ini bisa membawa kita ke tempat yang asing, tapi dengan aroma persoalan kehidupan yang barangkali “sama” dengan persoalan kehidupan di mana pun. Mungkin dunia ini sudah tua, mulai “macet” pertumbuhannya, dan hanya mengulang, sehingga sulit ditemukan hal yang berbeda atau baru. Agaknya, realitas dan hakikat kehidupan apa pun dan di mana pun kini tak mustahil juga bisa dialami, dirasakan, dan dihayati di sini.

Binhad Nurrohmat Penyair, Koordinator Serikat Pembaca Dunia

Categories: 1 · Pusaka Negeri

0 responses so far ↓

  • There are no comments yet...Kick things off by filling out the form below.

You must be logged in to post a comment.